Sabtu, 30 April 2016

JEMBATAN FLY OVER A. YANI


30 April 2016
Baru kali pertamanya aku tidur di kamar kos sampai siang menjelang. Pukul 07.00 pagi aku bangun, namun kembali tidur sampai pukul 10.00 WIB. Begitu tahu, aku pun segera menuju kamar mandi mencari air untuk mandi. Aku sadar, hari ini ada acara ke Graha Pena untuk suatu perkumpulan yang bernama Mama JP Edisi 2. Aku sudah punya rencana akan pergi bersama kendaraan umum, bemo menuju terminal Joyo Boyo, lalu bus mini ke Graha Pena. Sepulangnya dari perkumpulan itu, kulanjutkan perjalanan pulang ke rumah dengan bus mini lagi.

Tak kusangka dandanku selesai pukul 11.30an, lebih dari lima menit aku sudah berjalan ke pinggir jalan raya untuk menghentikan sebuah mobil mikrolet identitas JM. Lama sekali kumenununggu, sekitar pukul 12.00 WIB dia menemukan keberadaanku. Pukul 12.30 an aku sampai di Joyo Boyo. Di sana kutemui plang yang bergambar pejalan dicoret, artinya dilarang menyebrang di situ. Tetapi, aku tak melihat ada zebracross di sekitarnya. Kulihat beberapa orang berniat menyebrang, kuputuskan untuk menyebrang juga. Syukur, kondektur bus mini juga terlibat menyebrangkanku.

Kubilang turun DBL, biar mereka cepat paham. Tetapi, Pak Supir menawarkanku turun depan UINSA biar mudah nyebrangnya. Aih, aku mau-mau saja. Kulihat depan, beberapa tanda zebracross sudah terlewati dan aku diturunkan depan UINSA yang tak ada zebracross-nya. Aku masih memaknai perkataan Pak Supir tadi, maksudnya apa coba?!?

Kuputuskan menyeberang jalan yang tak bertanda zebracross itu. Begitu ada renggang sedikit antarkendaraan, kuberanikan diri untuk menyeberang dengan mengangkat tangan ke depan dada sebagai tanda kata, “Harap pelan-pelan! Kurangi kecepatan! Aku mau nyebrang! Sebentar saja!”

Setelah sampai seberang kubaru tersadar. Di bawahku ada jembatan penyebrangan. Jembatan fly over, dan aku baru dong. Ampun! Ke mana saja aku! Dienakkan Pak Supir biar lewat jembatan, tanpa perlu memiyak kendaraan yang jalannya srudukan, malah tak tahu. Kuberjanji, sepulangnya dari Graha Pena, kuputuskan memakai media penyebrangan itu.

Begitu pulang, hatiku bereuforia. Akan jadi pengalaman untuk kali pertamanya. Tangga-tangga yang terbuat dari besi berjarak tak terlalu tinggi, namun banyak langkah yang membuat dada sesak kekurangan udara (posisi memakai masker wajah). Di tengahnya terdapat tangga berplester licin, sepertinya jalan untuk roda kendaraan sepeda mini. Sampai di puncak jembatan, kubisa melihat segalanya. Kukeluarkan buku agenda warna merahku, kudokumentasikan sesuatu di dalam sana.

14:54 WIB di Jembatan Fly Over A. Yani

Suasana di atas sini luar biasa, kendaraan berbaris rapi, menikmati kemacetan. Kutemukan para pekerja proyek pelebaran jalan giat bekerja sebab mereka akan menyudahi hari ini. Semangatnya membara, tak sabar segera menjumpai waktu istirahat, atau bertemu dengan orang-orang tercinta. Di bawah sana, udara yang hirup dipenuhi dengan campuran debu. Di atas jembatan udara menandaskanku bahwa ialah udara yang sebenarnya, udara murni milik jalan A. Yani. Udara menyerbuku dengan senang tanpa selinapan debu yang menyergap kulit.

Tiba-tiba datang seekor tawon ndas berwarna hitam, tampangnya menakutkan. Ia mendekatiku, sepertinya dia tahu aku adalah orang baru yang baru kali pertama lewat jembatannya. Dia menyapaku riang. Kucoba tetap tenang dan mengatur nafas dengan baik di hadapnnya. Dia mengelilingiku, menyimpan aroma tubuhku, lalu pergi meninggalkanku. Hmmm, perkenalan yang baik. Terima kasih, Tawon Ndas sudah sempat menjadikanku kawan, dengan tidak menyengatku. Aku takkan mengusik keberadaanmu.

Jembatan itu lumayan panjang, dibangun dengan komponen besi. Lampu-lampu neon panjang menjadi penerangannya pada malam tiba. Mereka memintaku menjamahnya. Plakat-plakat iklan ditempelkan dengan megahnya. Sedikit robek, rusak dan minta ganti, iklan itu malah tak mengindahkan pesona jembatan fly over. Kujamah tempat itu dengan leluasa tanpa ada keberadaan orang lain, kecuali seorang mahasiswi UINSA yang lewat pada awal aku sampai di puncak jembatan.

Kuputuskan tak berlama-lama di tempat umum itu. Mencoba menjamah tempat lain. kututup buku agendaku, lalu kumasukkan dalam tas, dan mulai mencari jalan keluar menunggu bus mini mendekatiku.

Syukur, kuturuti kata hati. beberapa menit kemudian, seorang laki-laki, kenalan baru dari Mama JP juga melewati jalur yang kulewati tadi. Tetapi, tujuannya kembali ke kampusnya tercinta, UINSA, bersama temannya yang lain. syukur, matanya tak menemukan keberadaanku. [hry]




Load disqus comments

0 komentar