Tiga hari setelah bertemu dengan Mbah Soesilo Toer (adik
Pramoedya AnantaToer), hati bergetar hebat menyadari sesuatu. Tepat di hari
ulang tahunnya, 17 Februari, Mbah Soesilo-lah yang malah memberikan anak
cucunya kado, wejangan yang begitu bermanfaat juga cerita-cerita yang meluaskan
wawasan kami. Mbah Soesilo Toer, bersama tulisan ini, kado ini spesial untukmu.
Pun pada orang-orang yang membacanya. Semoga kau dan keluarga selalu sehat
jasmani rohani, damai batinmu, cerah jalan hidupmu, dan semakin rahayu
mahakaryamu. Aamiin.
Saat dijumpai di toko buku Sarkimpul di Jalan Sepat, Lidah
Kulon, Surabaya, Mbah Soesilo tengah beristirahat menyandarkan tubuhnya di
depan rak buku. Beliau pasti capai usai mengisi acara yang diprakarsai
teman-teman komunitas Rebo Sore, Kaki Langit, dan Lingkar Merah. Tetapi,
tangguh sekali stamina beliau. Wajar! Julukannya lelanang ing jagad,kok!
Begitu kami menyampaikan maksud kedatangan Sakra Pers, beliau menceritai
kami sejak usai Ashar sampai terdengar azan Isya.
![]() |
| Soesilo Toer Bercerita |
Dengan gaya duduk bersandar, kaki kiri dilipat horizontal
dan kaki kanan dilipat vertikal, tangan kanan yang diletakkan di atas lutut dan
tangan kiri yang menyentuh tegel sesekali digerakkan saat bercerita. Satu dari
tiga pendiri Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (PATABA) itu
bercerita tentang pengunjung perpustakaan yang sudah berasal dari empat benua,
kecuali benua Afrika yang belum terwakilkan. Perpustakaan yang terletak di
Jalan Sumbawa 40, Jetis, Blora, selalu menyediakan ruang bagi pengunjungnya
untuk meninggalkan pujian atau makian juga pertanyaan. Katanya tulisan-tulisan
itu akan dibukukan dalam “Pram dalam Tungku” yang akan dicetak oleh Pataba
Press.
Penulis pentalogi tentang memoar Pramoedya dan keluarga ini sempat
menceritakan pengunjungnya yang berstatus santri. Selama liburan satu pekan,
dia berniat untuk menghabiskan waktunya dengan membaca bacaan hebat milik
PATABA. Mbah Soes pun memberikan buku untuknya. Keesokan harinya dia kembali
dan menyampaikan kesannya. Mbah Soes mencoba menirukan intonasinya, “Buku ini
itu buku hebat apanya. Ini sampah ini.” Mbah Soes tidak geram dan marah, beliau
malah mengantarkannya pulang sampai dekat pintu.
Sampai di pintu Mbah Soes mencoba bertanya pada Si Anak,
“Nak, apa bedanya muslim dan Islam?” Si Anak menjawabnya dengan mantap. Tapi ternyata
jawaban Si Anak standar bagi Mbah Soes. Jawabnya Islam itu agamanya dan muslim
itu orangnya. Mbah Soes pun balik menimpali dengan penuh canda, “Jawaban itu
sudah kuno. Itu juga sampah, tuh.” Setelah itu beliau bertukar pikiran. Katanya
setelah membaca penelitian Muhammad Abduh yang pernah belajar di Al-Azhar,
Kairo, Mesir, dia membuat penilaian baru. Menurutnya, “Saya menemukan Islam di
Barat tanpa muslim, dan saya menemukan muslim di Mesir tanpa Islam.” Si Anak
pun menyahutinya, “Saya malah baru dengar.”
Lelaki berumur 81 tahun ini berwawasan luas dan
berpengetahuan terbuka. Beliau membaca apa saja ajaran tentang kehidupan, baik
Islam, Budha, Kristen, Katolik, maupun Hindu. Tetapi beliau lebih condong pada
ajaran Budha yang dibenarkan menurut pengalamannya. Katanya, “Jika Islam
mengajarkan the miracle of giving, Budha mengajarkan darma.
Berbuatlah darma dan Anda akan dibimbing oleh darma itu sendiri.”
Laki-laki bergelar doktor lulusan Plekanov Russian University
of Economics Uni Soviet (baca: Rusia) ini bercerita tentang darma yang pernah
dilakukannya, yakni darma sepiring nasi. Dulu, saat Mbah Soes dipenjara di
Kebayoran Lama, beliau jadi tukang cuci piring. Dalam sehari bisa mencapai
70—120 buah piring. Jika di atas 100 buah, Mbah Soes tidak kuat. Akhirnya
beliau meminta bantuan Apoy, orang Pontianak. Setiap pagi Apoy membantu Mbah
Soes dan Mbah Soes memberinya sarapan. Suatu hari Mbah Soes dipindah di rumah
tahanan militer, sedangkan Apoy di Nirbaya, dekat lubang buaya. Dia tinggal di
rumah Mbakyu Mbah Soes dan jadi agen penjual sepatu asal China.
Suatu kali Mbah Soes, lelaki yang juga bergelar magister
lulusan Patrice Lumamba Uni Soviet ini, pernah ditemukan oleh anak muda asal
Tangerang dalam keadaan pengangguran. Tiba-tiba dia memberikan uang sebesar
Rp250.000,00 lalu mengenalkannya pada orang di pabrik buku Gunung Mas. Dia
meminta Mbah Soes mengambil semua produk pabrik tersebut untuk dijualkan. Singkatnya
Mbah Soes jadi penjual buku keliling. Jika beliau jual seperti biasanya, beliau
hanya dapat menjual satu buku dalam sehari. Akhirnya Mbah Soes berinisiatif mengedrop
bukunya di sekolah. Agar menarik, beliau pun mencetak tulisan di halaman depan
buku atas nama sekolah dan kepala sekolahnya. Usaha itu pun akhirnya berkembang
dengan baik. Banyak pihak sekolah yang memesan buku di Mbah Soes karena hal itu
membanggakan bagi mereka, seolah buku itu dicetak khusus atas nama sekolah tersebut.
Melalui darma sepiring nasi, Mbah Soesilo Toer percaya bahwa
usahanya berkah sampai sekarang. Dari darma tersebutlah beliau bisa membeli
tanah di Bogor dan membuat rumah semi permanen pada masa itu. Itu pencapaian
yang luar biasa. Di tengah-tengah cerita pun beliau selalu menyisipi kelakar
yang asyik.
![]() |
| Soesilo Toer melirik Vinna |
Surabaya, 2
1 Februari 2018
S.Haryani C.
Dimuat dan diunggah ulang oleh @lpmsakra (on Instagram)





