Rabu, 21 Februari 2018

SOESILO TOER, “KARENA DARMA SEPIRING NASI”


Tiga hari setelah bertemu dengan Mbah Soesilo Toer (adik Pramoedya AnantaToer), hati bergetar hebat menyadari sesuatu. Tepat di hari ulang tahunnya, 17 Februari, Mbah Soesilo-lah yang malah memberikan anak cucunya kado, wejangan yang begitu bermanfaat juga cerita-cerita yang meluaskan wawasan kami. Mbah Soesilo Toer, bersama tulisan ini, kado ini spesial untukmu. Pun pada orang-orang yang membacanya. Semoga kau dan keluarga selalu sehat jasmani rohani, damai batinmu, cerah jalan hidupmu, dan semakin rahayu mahakaryamu. Aamiin.

Saat dijumpai di toko buku Sarkimpul di Jalan Sepat, Lidah Kulon, Surabaya, Mbah Soesilo tengah beristirahat menyandarkan tubuhnya di depan rak buku. Beliau pasti capai usai mengisi acara yang diprakarsai teman-teman komunitas Rebo Sore, Kaki Langit, dan Lingkar Merah. Tetapi, tangguh sekali stamina beliau. Wajar! Julukannya lelanang ing jagad,kok! Begitu kami menyampaikan maksud kedatangan Sakra Pers, beliau menceritai kami sejak usai Ashar sampai terdengar azan Isya.

Soesilo Toer Bercerita
Selama di Audhitorium FBS Unesa, Mbah Soes berbagi bahwa beliau dan kakak-kakaknya berpegang pada ajaran Multatuli (Douwes Dekker). Persis seperti quotes Pramoedya, “Saya pegang ajaran Multatuli bahwa kewajiban manusia adalah menjadi manusia.” Quotes tersebut memang penuh makna. Bagi Presiden Ngorek-Ngorek Kotoran (Rektor) ini, menjadi manusia haruslah fungsional, berfungsi sebagaimana perannya.

Dengan gaya duduk bersandar, kaki kiri dilipat horizontal dan kaki kanan dilipat vertikal, tangan kanan yang diletakkan di atas lutut dan tangan kiri yang menyentuh tegel sesekali digerakkan saat bercerita. Satu dari tiga pendiri Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (PATABA) itu bercerita tentang pengunjung perpustakaan yang sudah berasal dari empat benua, kecuali benua Afrika yang belum terwakilkan. Perpustakaan yang terletak di Jalan Sumbawa 40, Jetis, Blora, selalu menyediakan ruang bagi pengunjungnya untuk meninggalkan pujian atau makian juga pertanyaan. Katanya tulisan-tulisan itu akan dibukukan dalam “Pram dalam Tungku” yang akan dicetak oleh Pataba Press.

Penulis pentalogi tentang memoar Pramoedya dan keluarga ini sempat menceritakan pengunjungnya yang berstatus santri. Selama liburan satu pekan, dia berniat untuk menghabiskan waktunya dengan membaca bacaan hebat milik PATABA. Mbah Soes pun memberikan buku untuknya. Keesokan harinya dia kembali dan menyampaikan kesannya. Mbah Soes mencoba menirukan intonasinya, “Buku ini itu buku hebat apanya. Ini sampah ini.” Mbah Soes tidak geram dan marah, beliau malah mengantarkannya pulang sampai dekat pintu.

Sampai di pintu Mbah Soes mencoba bertanya pada Si Anak, “Nak, apa bedanya muslim dan Islam?” Si Anak menjawabnya dengan mantap. Tapi ternyata jawaban Si Anak standar bagi Mbah Soes. Jawabnya Islam itu agamanya dan muslim itu orangnya. Mbah Soes pun balik menimpali dengan penuh canda, “Jawaban itu sudah kuno. Itu juga sampah, tuh.” Setelah itu beliau bertukar pikiran. Katanya setelah membaca penelitian Muhammad Abduh yang pernah belajar di Al-Azhar, Kairo, Mesir, dia membuat penilaian baru. Menurutnya, “Saya menemukan Islam di Barat tanpa muslim, dan saya menemukan muslim di Mesir tanpa Islam.” Si Anak pun menyahutinya, “Saya malah baru dengar.”

Lelaki berumur 81 tahun ini berwawasan luas dan berpengetahuan terbuka. Beliau membaca apa saja ajaran tentang kehidupan, baik Islam, Budha, Kristen, Katolik, maupun Hindu. Tetapi beliau lebih condong pada ajaran Budha yang dibenarkan menurut pengalamannya. Katanya, “Jika Islam mengajarkan the miracle of giving, Budha mengajarkan darma. Berbuatlah darma dan Anda akan dibimbing oleh darma itu sendiri.”

Laki-laki bergelar doktor lulusan Plekanov Russian University of Economics Uni Soviet (baca: Rusia) ini bercerita tentang darma yang pernah dilakukannya, yakni darma sepiring nasi. Dulu, saat Mbah Soes dipenjara di Kebayoran Lama, beliau jadi tukang cuci piring. Dalam sehari bisa mencapai 70—120 buah piring. Jika di atas 100 buah, Mbah Soes tidak kuat. Akhirnya beliau meminta bantuan Apoy, orang Pontianak. Setiap pagi Apoy membantu Mbah Soes dan Mbah Soes memberinya sarapan. Suatu hari Mbah Soes dipindah di rumah tahanan militer, sedangkan Apoy di Nirbaya, dekat lubang buaya. Dia tinggal di rumah Mbakyu Mbah Soes dan jadi agen penjual sepatu asal China.

Suatu kali Mbah Soes, lelaki yang juga bergelar magister lulusan Patrice Lumamba Uni Soviet ini, pernah ditemukan oleh anak muda asal Tangerang dalam keadaan pengangguran. Tiba-tiba dia memberikan uang sebesar Rp250.000,00 lalu mengenalkannya pada orang di pabrik buku Gunung Mas. Dia meminta Mbah Soes mengambil semua produk pabrik tersebut untuk dijualkan. Singkatnya Mbah Soes jadi penjual buku keliling. Jika beliau jual seperti biasanya, beliau hanya dapat menjual satu buku dalam sehari. Akhirnya Mbah Soes berinisiatif mengedrop bukunya di sekolah. Agar menarik, beliau pun mencetak tulisan di halaman depan buku atas nama sekolah dan kepala sekolahnya. Usaha itu pun akhirnya berkembang dengan baik. Banyak pihak sekolah yang memesan buku di Mbah Soes karena hal itu membanggakan bagi mereka, seolah buku itu dicetak khusus atas nama sekolah tersebut.

Melalui darma sepiring nasi, Mbah Soesilo Toer percaya bahwa usahanya berkah sampai sekarang. Dari darma tersebutlah beliau bisa membeli tanah di Bogor dan membuat rumah semi permanen pada masa itu. Itu pencapaian yang luar biasa. Di tengah-tengah cerita pun beliau selalu menyisipi kelakar yang asyik.

Soesilo Toer melirik Vinna
Di akhir perbincangan bersama Mbah Soes, kami sempat diramal melalui garis tangan. Katanya, “Saya belajar ilmu ini di Singapur.” Beliau senang berbicara tentang perempuan, keluarganya, dan apa pun yang pernah dialaminya. Obrolan kami selesai pada hari itu ketika tahu Mbah Soes sudah dijemput oleh rombongan dari Mojokerto, kota yang akan dijamah keesokan harinya.


Surabaya, 2


1 Februari 2018

 S.Haryani C.

Dimuat dan diunggah ulang oleh @lpmsakra (on Instagram)
Read more

Kamis, 15 Februari 2018

JATAH

“Sudah ujian, Mbak?” tanya Pak Budhi, pegawai perpustakaan kampus yang sering kuapeli siang bolong. “Ujian apa, Pak?” balasku singkat meski kutahu arah pembicaraannya ujian skripsi. Takseutuhnya kutanggapi Pak Budhi. Mata dan tanganku terus mengubek isi tas untuk mendapatkan buku, smartphone, botol minuman, dan laptop se-charge-nya. Sepertinya beliau memang ingin menghardikku. Pak Budhi mulai menyebut dua perempuan yang sudah menyetor jilidan hardcover kepadanya kemarin. Aku takmerasa terhina sama sekali. Kuingatkan beliau dengan menyebut perempuan yang kebetulan temanku. “Iya, Pak. Namanya Destri dan Febrika.” “Terus sampeyan kapan, Mbak? Gak nututi ta, Mbak?” Semua barang yang kucari kini sudah di depanku, kucoba membalasnya dengan penuh, “Baru kemarin Pak, saya ujian proposal. Saya mau mengambil semua jatah saya, Pak.” Akhirnya beliau mengangguk setuju dan kembali bersikap bijaksana, “Iya ya, Mbak. Semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sampeyan kan masih ngurusi organisasi. Makanya nggak maju, ya, nggak mundur. Sesuai jatah, heheheh.”

Aku tahu jika jatah setiap mahasiswa di tahun-tahun terakhir hanya sepuluh semester atau lima tahun. Tetapi, bukan jatah itu yang kumaksud. Aku ada di sini berkat pembiayaan dari rakyat sehingga jatah yang kumaksudkan adalah delapan semester atau empat tahun. Pun aku takmau mengecewakan pajak-pajak yang dibayarkan ortu juga rakyat untukku. Sejujurnya aku hasad pada mereka, kakak tingkat pun adik tingkat, yang berani mengambil jatahnya semua. Tapi, pikiran itu segera ditepis oleh dosen yang mendukung program akselerasi, lulus prematur, tujuh semester. Di sebuah kelas beliau berbagi, “Sebenarnya, saya heran dengan kakak tingkat kalian. Dia yang punya jatah empat belas semester, belum selesai-selesai juga skripsinya. Padahal semua sudah saya mudahkan. Orang tuanya datang kepada saya, minta segera diluluskan. Lah, kalau anaknya tidak mau berusaha, mana bisa? Alhamdulillah tahun ini ada tujuh belas kakak tingkatmu yang lulus tiga setengah tahun. Mereka itulah yang menunjang kebaikan untuk kakak tingkat sing njupuk jatah kuliahe jangkep-kep.” Ah, iya. Benar juga! Ini masalah akreditasi kampus. Lagi-lagi dosen itu menjelaskan dengan gagah bahwa jurusannyalah yang menyumbang banyak kebaikan untuk kampus. Aku pikir, aku tidak mau terlalu berjasa pada kampus, pun takingin memburuk-burukkannya. Maju atau mundur, bukan itu yang jadi soal.
Sumber Gambar Mbah Google

         Ya, akhirnya aku lulus PAS, sesuai jatah yang kumaksud. Banyak hadiah dan bunga di genggaman. Juga deretan foto yang minta di-posting. Anak-anak (seorganisasi) merayakanku bersama cetakan backdrop yang dipenuhi wajahku. Kutanya pada mereka, “Sejak kapan kalian mencetak backdrop ini, Dik? Akhir-akhir ini kalian fulltime bersamaku.” Salah satu dari mereka menjawab, “Sudah setahun lalu, Mbak.” Yang lain memberikan nota backdrop dari dompet. Dan benar, kertas dan tintahnya sudah mulai membaur, lusuh, baunya taksegar. “Lalu, bagaimana bisa waktunya PAS? Per tanggal, bulan, dan tahunnya. Padahal jadwalnya sedikit meleset dari kalender akademik kita, loh!” Mereka godhek-godhek, menggoyangkan kepala, dan memainkan kedua bahunya naik turun. Entah, hasrat darimana, tiba-tiba kuberkelakar, “Next, backdrop resepsiku, ya!” Buru-buru mereka menjawab, “Sudah selesai, Mbak! Ini notanya, masih baru.” Tanganku merangsek merebut nota itu dan bertanya, “Siapa partner-ku?” “Sudah, Mbak! Beres! Sudah sesuai jatah kok. Biar jatahmu terus bersama kami, Mbak.” Jangkreek! Aku tahu mereka menginginkan siapa.

12 Januari 2018



S. Haryani C.
Pentigraf dimuat di Buletin Maiyah Jawa Timur (BMJ) 
Edisi Februari 2018 / Jumadil Ula 1439 H
Read more

Kamis, 25 Januari 2018

Ambang Batas Kelulusan


Kusuma pulang setiap akhir semester. Kali ini ia pulang dengan wajah kusut. Kutanya, “Apakah kampusmu penuh masalah?”. Lagi-lagi ia menjawab penuh kelakar, “Jelas, Pak! Masalah kebersihan selalu jadi PR besar di setiap kampus. Heheh.” “Maksud Bapak masalahmu di kampus!” Ia hanya menggeleng dan berucap tidak. Kutelisik dengan saksama kantong celananya, saku kemejanya, pun tas ranselnya. Kutemukan secarik kertas undangan. Di sana tertulis acara “Sarasehan Mahasiswa Ambang Batas Kelulusan”.


Dengan emosi berapi-api, kucabut kabel televisi. Kusuma berjingkat dan ibunya mencoba menenangkanku. Kuberikan kertas itu pada Kusuma, “Beri penjelasan pada Bapak, sekarang!” Kusuma terlihat bingung dan tergagap, “Setahun lagi, kalau Kusuma tidak juga lulus, ...” Suasana hening, terdengar deru napas bapaknya yang tersengal-sengal. “... Kusuma DO.” Aku bergegas masuk ke kamar Kusuma lalu memberikan tasnya dan berpesan, “Jangan pernah kembali jika tak bisa berikan kami undangan wisudamu!” Tanpa berkata apa pun, Kusuma melangkah pergi dengan mencium tanganku dan ibunya. Ia menerima tawaranku.


Keesokannya, seorang tetangga bertanya tentang Kusuma padaku. Aku hanya bilang, Kusuma sudah kembali ke perantauan untuk menuntut ilmu. “Bangga sekali ya, Bapak punya Kusuma! Anak yang baik, jujur, dan menginspirasi sekali! Tak disangka jika traderecord-nya sudah mengagumkan. Yakin, Pak! Pasti setelah kelulusannya nanti akan banyak perusahaan yang mengincarnya! Selamat, ya Pak!” “Apa maksudmu, tetangga?” Tetangga itu memberikanku koran nasional dan memintaku membuka rubrik Muda Menginspirasi. Di sana kudapati foto Kusuma yang gagah dan menyebut nama bapak-ibunya sebagai inspirator utamanya. “Bapak pasti menangis bahagia, ya?” Aku menyesal, batinku. 


📝 @syakiebharyani (gambar:andrew wyeth painting) 
#lpmsakra #lpmfbs #lpmunesa #sastra#pentigraf #cerpentigaparagraf#pentigrafis #mahasiswa


 S. Haryani C.
Surabaya
Januari 2018
Read more

ATLANTIS LAND, DUNIA FANTASI SURABAYA


Tanggal 20 Januari tubuhku mesti mampir ke Surabaya Timur, mengantarkan temanku pulang ke indekosnya. Maklum, dia anak Uwika. Akhirnya, ke sana sekalian main deh ke Taman Suroboyo. Menurut g-maps jalan menuju Taman Suroboyo itu mesti ngelewati Kenpark dan Atlantis Land. Hmmmm, saat lewat di dalam hati sempat bilang, “Ah, seandainya bisa ke sini, semoga saja bisa ke sini, ya!” Wuduh, semesta mendengarnya. Ternyata dua hari setelahnya aku bisa ke Atlantis Land bersama arek-arek komunitas Love Suroboyo (LS) secara cuma-cuma. Bebas Harga Tiket Masuk (HTM) Rp100.000,00 weeehhh.  Alhamdulillah.

Rombongan RT Love Suroboyo
Pukul 18.37 WIB (22/1) baru sampai di parkiran Atlantis Land. Tempat yang pertama kucari adalah musala. Ampuuun! Tempat seluas itu musalanya sempit. Padahal mayoritas pengunjung adalah mereka yang butuh tempat ibadah itu. Hanya tersedia ruang kecil ukuran kamar anak indekos tanpa sekat yang membedakan laki-laki dan perempuan. Tempat wudu memang ada di sayap kiri dan kanannya. Sayangnya tidak ada gorden yang pura-pura menutupi kaum perempuan yang berwudu. Waktu magrib yang singkat dengan banyaknya pengunjung membuat mereka saling bertoleransi untuk cepat keluar dari sana. Ah, semoga saja musala itu cuma sementara.

Atlantis Land adalah taman hiburan yang menyajikan segala bentuk kesenangan, seperti wahana permainan, pertunjukan, bahkan wahana air. Atlantis Land  yang terletak di Jalan Sukolilo nomor 100 ini masih satu kesatuan dengan kawasan Kenpark. Kalau ingin ke Kenpark sekaligus ke Atlantis Land,pengunjung cukup bayar tiket masuk Atlantis Land saja. Jangan bayar double! HTM itu sudah bebas naik wahana apa pun dan berapa pun pada jam beroperasi mereka yang setia setiap pukul 10.00—22.00  WIB. Kalau sudah ada di tempat ini, pengunjung berhak dipanggil bangsawan, para atlan dan atlanta. Ciyey!

Atlantis Land memang dunia fantasi satu-satunya di Surabaya. Patung dan bangunan dibentuk tinggi dan besar layaknya raksasa dan istananya. Miniatur hewan purba, seperti dinosaurus dkk dibuat empuk, dipasang audio, dan disetting dengan gerakan teratur. Selain wahana-wahana bermain yang menyenangkan, di sana juga disediakan waterland, semacam waterbom. Kalau beruntung, para atlan dan atlanta bisa mendapat suguhan menarik dari air mancur menari setiap pukul 18.30—19.00 WIB.  Ah, Atlantis Land memang penuh artifisial. Bahkan pohon dan bunga aseli bisa dihitung pakai jari.

Dari 25 wahana yang ada di Atlantis Land, baru ada 14 wahana yang sudah dioperasikan. Yakni Tea Cup, Wave Swinger, Star Dancer, Mistery Atlantis, Atlantis Waterland, Bumper Car Jr, Kids Kingdom, Tornado & Boomerang Slide, Happy Car, Space Fighter, Dino Land, Diorama, Music Express, dan Carousel. Dari kesekian banyaknya wahana, hanya ada enam wahana yang tercicipi. Yakni Dino Land, Wave Swinger, Star Dancer, Music Express, Space Fighter, dan Carousel. Meski belum sampai separuhnya itu tidak jadi soal. Toh, ini baru soft opening, belum grand opening-nya.

Dino Land
Di Dino Land para atlan dan atlanta dinaikkan kereta untuk menjelajahi dunia dinosaurus dan kawan-kawannya. Ini bagus untuk anak-anak yang rasa tahunya tinggi. Di sepanjang perjalanan akan ditunjukkan bentuk dan suara dino yang bermacam-macam di zaman purba. Penerangan di sana didominasi warna biru gelap. Memang memberi efek seram, tetapi kurang terang. Seandainya setiap spot dino diberi plakat yang informatif juga efek embusan napas dino yang menyerang tiba-tiba, pasti jadi lebih seru.

Wave Swinger
Wave Swinger adalah ayunan yang digoyang dengan gelombang raksasa. Para atlan dan atlanta bisa merasakan terbang di angkasa jika memejamkan mata dan menikmati anginnya. Kalau naik ini sesuaikan dengan permintaan pegawainya. Biasanya ayunan yang harus diisi lebih dulu adalah ayunan warna hijaudan kuning. Biar seimbang katanya. Ayunan ini bukan seperti ayunan di taman kanak-kanak yang bisa diayunkan sesuka hati loh, sebab depan-belakang-kiri-kanan juga ada atlan-atlanta yang lain.

Star Dancer
Para atlan-atlanta akan diajak berputar seperti bintang. Cukup membuat mabuk karena putarannya penuh dan cepat. Setelah diputar searah jarum jam, para atlan—atlanta akan lanjut diputar berlawanan dengan arah jarum jam. Usai naik wahana ini tetap hati-hati dan mawas diri di area wahana, apalagi pas malam hari. Ada lubang yang sedikit menjebak di sini. Temanku sempat keblowok kaki kanannya yang jenjang dan ramping. Kasihan sekali. 

Music Express
Wahana ini sebenarnya asyik karena para atlan-atlanta akan diputar dengan sajian musik instrumen tertentu. Tetapi, musik seindah apa pun tidak akan ternikmati jika fokusnya tidak tertuju pada musik. 
Space Fighter
Wahana permainan ini lumayan seru. Dengan bentuk pesawat angkasa, para atlan-atlanta bisa bertempur dengan sendirinya. Pesawatnya dilengkapi dengan tombol yang bisa dikendalikan dengan gerakan memutar. Wahana pun dioperasikan dengan berputar dan naik-turun.

Carousel
Inilah wahana yang paling menyenangkan sepanjang zaman, carousel atau komidi putar. Kalau malam, wahana ini yang paling lucu dan eyecatching. Selalu saja pantas buat semua usia. Dan seolah ada kesan romantis gitu.


Memang Atlantis Land  tutup pukul 22.00 WIB, tapi sekitar pukul 21.00 WIB sudah diingatkan oleh loudspeaker. Anehnya di koridor Atlantis Land yang megah itu tetap ada band kecil yang nyanyi. Mereka seolah menghibur diri sendiri atau bekerja sesuai hak dan kewajibannya. Suaranya ketjeh sih,orang-orangnya juga, apalagi musiknya. Sayangnya takada yang memperhatikan. Seharusnya disudahi saja lalu ganti lokasi dan jam mangkal. Yah, bisa jadi band kecil itu main setelah air mancur menari di kastil yang fantastis. Para atlan-atlanta pun akan senang menyumbangkan suaranya.

Maturnuwun Semesta, terima kasih arek-arek LS.



S. Haryani C.
Surabaya

Kamis Kliwon, 25 Januari 2018
Read more