Astaghfirullah’adzim....
Begitu sampai kos,
kubuka pagar dengan keras, lalu kubuka pintu dengan grusakgrusuk sampai
membangunkan kawan kosku yang tertidur. Tarik napas,buang napas, istighfar,
tarik napas, buang napas, istighfar, terus kuulang-ulang sampai sesaknya dada
ini hilang. Rasanya lama sekali kulakukan hal itu dan baru kali pertama ini kurasakan
rasa yang seperti ini. Biasanya seorang perempuan (saya) akan menangis luar
biasa untuk menghilangkan kesesakan dalam dada, tetapi ini lain. Saya tak bisa
menangis sama sekali, namun dada ini penuh dengan segala amarah yang susah
diekspresikan. Syukurnya, begitu Ibasky ada untukku rasa yang begini hebatnya
dan begitu tak karuan itu bisa terkontribusi sedikit bersama tuts-tuts keyboard
yang kutekan keras.
Hari ini kami
merencanakan bertemu dengan seorang lelaki yang sakit hatinya karena keliruku
memedulikannya, orang yang pernah kubuatkan surat dengan sejujur-jujurnya. Sungguh!
Saya tak habis pikir dengan model lelaki macam ini. Dia bungkam seribu bahasa
padaku. Namun, impact-nya kepada yang lain. It’s OK kalau tidak
mau berbicara padaku lagi. Sepenuhnya saya terima, tapi setidaknya masalah ini
kelar, tidak berlarut dan tak berkepanjangan. (Jan, encen duduk arek
organisasi. Susah bangaet diajak ngomong, Pribadinya plegmatis pula, punya
sifat keras hati. Susah tanpa hidayah.)
Yang paling membuat
saya begitu sesak dada adalah ketika melihat teman seperjuangan saya yang
tulusnya dapat kurasakan itu menangis sebabnya. SUMPAH! Atiku nggerundel! Aku
paleng gak suweneng ndelok pemandangan koyok ngene! JUUWAN! Lanang cap opo iku!
KKKKKKK
Teman perempuan itu
adalah Wai meng, seorang sahabat, teman, tante, dan yang terbaik mengertiku. Dia
juga pintar memahami lelaki itu. Dia punya misi khusus untuk mendamaikan kami.
Dia pun tak betah melihat kekeliruan yang ia sadari sepenuhnya mesti diluruskan.
Selama lelaki itu tak mau bicara, dialah jembatanku untuk tahu mengenai
pandangannya terhadapku. Dia sudah mencoba menjadi pendengar yang baik untuknya,
tetapi lelaki itu tak peduli padanya. Saat bertemu dan dilambaikan tangannya ia
tak peduli. Saat diajak bicara, dia mendiamkannya. Entahlah kuping itu
dipinjamkannya ke siapa. Begitu heroik-nya dia!
Seseorang sudah
menanamkan satu hal, bisa dibilang ideologi, yang kami pegang bersama dari
orang yang sama, tentang kekeluargaan dan kepedulian. Kami mencoba memedulikan
seorang lelaki ini segenap jiwa. Mencoba membuka isi pikirannya atau membuang
segala isinya untuk ditanami kebaikan di segala penjuru arah. Kami begitu ingin
dia berubah. Namun, cara kami keliru karena mungkin saya dan Wai meng adalah
teman sejawat, dan setingkat di bawahnya sudah berani menyadarkannya dengan cara
kami, guyonan yang memperolok. Hmmmm......
Saya sungguh tak
pernah tahu jalan pikiran lelaki macam itu. Wai meng pun bilang jika dia tidak
pernah menemui laki-laki seperti itu sebelumnya. Seolah dia ditampar
habis-habisan di muka umum. Diajak bicara sok-sokan perhatiin gelas McD, minum,
terus kepala nunduk ke bawah, dan akhirnya kepala didelosorno nang mejo. Klumbrak
klumbruk ngunu.
Semua yang
mengajaknya bicara diabaikan, sia-sia. Hingga akhirnya saya benar-benar ingin
membuatnya bicara dengan menjatuhkannya. Tapi, sepertinya saya bodo. Saya tahu
tempat itu tidak memungkinkan untuk menyadarkannya. McD. Dia lari dan kabur,
menculik adik kesayangan saya. Dan kami terpaksa menyusulnya. Dan terjadilah
kejadian itu.
SUMPAH Pedih banget,
perih, sedih, lanang nggapleki. Rasane koyok mari disantap menungso. Wai meng
mengambil kontak kunci sepeda motor lelaki. Lalu dengan muka yang penuh rasa
benci diambilnya kunci itu. Wai meng menangis, sempat pula bibirku merinding ke
bawah lalu merambati jantung untuk mengekspresikan air mata, tapi tak jadi, tak
perlulah! Wai meng ingin segera pulang, kudapati sekitar bola matanya berlumuran
kristal yang mencair, memerah, lalu menunduk, menjadi sebuah aliran yang
menghantam batin sesama perempuan. Tukang parkir McD bingung harus berbuat apa
melihat kejadian itu. SUMPAH pikirane paleng ngene, “Iki arek enom ndrama banget
yoh!” Pikiranku, “Wik, iyo CAK Ndrama koyok ndok film, sinetron. Tapi iki
kenyataan! ”
Anehnya! Begitu dia
membuat Wai meng nangis, dia berhenti, memarkirkan sepedanya di dekat jalan
raya. Duduk di emperan McD. Lagi-lagi Pak Parkir melayangkan imajinasinya. Wai
meng sudah tak sudi lagi melihatnya, dia hanya ingin pulang. Seorang adik
kesayangan kami sepertinya dia tahu tugasnya. Dia menemani lelaki itu di
emparan McD. Nggilani, gak isin ambek Pak Parkir.
----***-----
Malam ini, kos saya
terjadi sesuatu. Seorang penghuni baru datang dan membuat ribut seisi kos. Dia
unik karena sudah tidak waras, mesti minum obat setiap hari tiga kali sehari, namun
orang tuanya meng-kos-kannya. Memang akibat kecelakaan, bukan bawaan lahir. Tetapi,
benar-benar menghebohkan kami. Lagi-lagi, Tuhan ingin ngajak bercanda saya,
nih! Tidak boleh terlalu memikirkan hal itu. toh, yang hanya bisa mengubah
nasib suatu kaum adalah kaum itu sendiri. Nabi Muhammad saja tidak bisa
mengubah Paman yang begitu menyayanginya sampai dia meninggal. Nah, apalagi
saya manusia. bukan Nabi, Dewa, bahkan Malaikat!
Tapi gakpopo tak
fatihah.i ae gawe Mufa Rizal. Alfatihah.... Aamiin....
6--7 Februari 2017 Kamar ke-35, VII 40A
6--7 Februari 2017 Kamar ke-35, VII 40A

0 komentar