27 April
2016
Aku
dan beberapa kawanku izin tak ikut perkuliahan hari ini. kami memutuskan untuk
mengikuti lomba membaca puisi dan geguritan dalam rangka memperingati jasa Ibu
Kartini di RRI Surabaya. Hati bergerak karena adanya kerja sama dengan pihak
RRI, imbal balik yang baik. Mereka membantu kami memeroleh nilai A pada UTS
mata kuliah Apresiasi Drama dengan menyiarkan rekaman kami serta membantu
proses editingnya (meskipun nggak gratis) dan mereka memeroleh peserta
lomba banyak. Seolah acaranya berhasil dan sukses karena banyak peminatnya,
apalagi dari kalangan mahasiswa.
Sebenarnya,
apa hakikat hari Kartini? Siapa Kartini itu?!? Kenapa puisi-puisi yang
dibacakan hanya berupa puja puji padanya? Bukankah dia juga manusia yang punya
dosa, sama seperti kita? Bukankah yang pantas dipuja-puji hanyalah Tuhan?
Hmmm,
kurasa mereka belum tahu benar siapa Kartini itu. Aku sadar-sesadarnya, Kartini
dihargai karena kedekatannya dengan orang Belanda. Ia punya akses tersendiri,
sehingga karya dan perjuangannya dipublikasikan oleh mereka. Pada kiprah
perempuan-perempuan hebat pada zamannya, Dewi Sartika sudah berjuang, Cut Nyak
Dien juga. Menurutku, kiprahnya lebih besar daripada Kartini. Banyak perempuan
lain pula yang berjuang untuk Indonesia, namun tidak tersiarkan.
Bagaiamana
dengan nasib orang-orang seperti mereka? Di mana penghargaan itu? Mengapa hanya
Kartini? Hmmmm, setidaknya aku tahu jawabnya. Karena Kartini menulis, punya
karya, dan terpublikasikan. Ia jadi pantas dihargai dan diapresiasi
setinggi-tingginya sampai sekarang. Intinya, satu, jangan tunda persoalan
tentang menulis. Akibat kekonsistenan menulis itu selalu baik untuk
kelangsungan hidup, utamanya keabadian hidup, dan pengapresiasian dari orang
lain atau seleuruh generasi. [hry]

0 komentar