Selasa, 19 April 2016

DONOR DARAH


19 April 2016
Tintah Merah Bangsa, kegiatan donor danah yang diselenggarakan oleh jurusanku. Dalam hati aku memiliki rasa takut untuk menyumbangkan darahku. Golongan darah yang langka, menurutku, karena sedikit menyebalkan orangnya. Pikiran sudah melayang, aneh sekali orang-orang. Kami menyumbangkan darah kita secara gratis kepada mereka, pihak PMI. Kami tahu darah kami tidak akan disalahgunakan. Tetapi, akan salah jika tidak diberikan kepada orang yang benar-benar membutuhkan. Pasalnya, niatku sumbang untuk mereka yang butuh darah segolonganku, sedang ia terikat perekonomian. Perasaku bilang itu SALAH.


Darah kami dijual, entah dengan harga berapa. Jika dijual pada golongan komlomerat, kami tak masalah. Tetapi, untuk mereka, yang segolongan dengan kami, sedang tercekik perekonomian, itu tidak adil. Rasanya muak melihat kebaikan itu.

Aih, tapi apalah bisaku. Kalau niat ibadah, niat beramal dengan menyumbangkan darah, Lillahita’ala saja. Yang penting kan Allah Mahatahu niat baik kami.

Dorongan dari Tuhan sepertinya, kuberanikan diri menulis nama di lembar daftar pendonor. Lalu mengambil lembar pendonor darah “baru” yang berwarna biru. Kutulis namaku, kuisi perutku yang kosong, menimbang berat badan, lalu diukurnya Hbku, ditesnya lagi golongan darahku, sampai akhirnya kubiarkan mereka menjotos pembuluh darah dan diambilnya sekantong darahku. Tak ada rasa apa-apa, semuanya terasa baik-baik saja.

Sampai sekantong darah terisi penuh, sekitar 350 mL, bertanyalah petugas tersebut, “Pusing, Mbak?”
Kujawab santai, “Tidak, Bu”

Saluran darah itu dipotong, terasa sudah gejalanya. Kepalaku pusing. Nggeliyeng. Seolah ingin pingsan, tubuh berkeringat meski di dalam mobil ber-AC.

“Pusing ya, Mbak?” tanya Beliau lagi.

“Iya, Bu. Baru terasa.”

“Kelihatan pucat. Bibirmu putih, Mbak. Di sini saja. Jangan keluar dulu,” dibenarkannya kursi yang membaring, tapi Beliau gagal membenarkan kenyamanan dudukku.

Aku diam. Lalu datang adik tingkatku. Beliau pun memintanya untuk mengambilkan teh untukku. Kuminum teh itu, terasa sedikit baik. Tetapi, aku masih merileksasikan tubuhku di sana hingga tubuhku merasa benar-benar baik.


Ternyata seperti ini reaksi tubuhku setelah darah diambil. Aku ingin berkata pada tubuh, “Terima kasih, Tubuh. Kamu sudah strong! Gejala pusing itu gejala yang wajar. Toh, kamu nggak sampai pingsan, kejang, atau muntah-muntah (seperti beberapa pendonor sewaktu denganmu). Terima kasih sudah mau bekerja sama dengan niatku pada Tuhan. Entahlah, alasan apa yang mendasariku kenapa kulakukan ini. Yang jelas aku ingin mengujimu, menguji hati dan keimanan pula. Sampai seberapanya aku peduli pada mereka yang mungkin tak kukenal dekat. Kasus-kasus seperti itu pasti akan tetap terjadi oleh oknum tertentu. Yang penting Tuhan Mahatahu. Biar jadi urusanNya saja setelah ini.” [hry]
Load disqus comments

0 komentar