23 April
2016
Syukur,
agenda tim bersilaturahmi ke Madura direstui alam dan Tuhan. Meski banyak
kendala yang mengogah-ogahi keberangkatan kami, perjuangan kami tidak sia-sia. Terima
kasih Tim!
Sebelum
berangkat aku mengabari teman-teman SM, Mr. Mus juga mau balik ke Madura.
Jujur, perjalanannya dari Masalembu membuatku iri saja. Kutemukan balasannya
lewat nomor lain bertanya tentang rute perjalanan, pelabuhan atau jembatan.
Begitu kami menentukan lewat pelabuhan, kudapati balasan. Yo aku yo wes meh
teko pelabuhan iki (baca: Iya aku juga hampir sampai di pelabuhan ini).
Tiba
di pelabuhan (Tanjung Perak), kami menunggu sebentar orang-orang dari Madura
turun di Surabaya. Kami berenam segera memarkir di dek bawah, lalu pergi ke dek
paling atas untuk mengistirahatkan tubuh
sejenak.
Puw,
teman tim sejawatku selalu punya euforia luar biasa pada kapal yang dinaikinya.
Tak hanya waktu itu, sebelumnya juga pernah kurasakann keriaannya. Serasa, ia
ingin melewatkan kesempatannya untuk menelanjangi kapal dan laut (selagi ada di
situ).
Aku
duduk, sedangkan dia memberanikan diri berjalan sendiri ke luar. Ia ingin
mendapati suguhan pemandangan langsung dari dek paling atas. Menikmati siang di
atas kapal. Kubiarkan saja. Kuputuskan duduk sejenak, menenangkan diri, capai
karena profesiku tadi sebagai supir sepeda motor. Aktivitas (bersepeda) yang
belum jadi kebiasaan.
Beberapa
menit kemudian, Puw menyambarku, “Yan, tahu kau aku bertemu siapa?”
“Siapa?”
tak mampu kutebak.
“Mr.
Mus!”
“Benarkah?”
“Iya,
ayo tah!” ajak dia bersemangat.
Aneh
sekali. Kabar dariku tadi sekitar dua jam yang lalu. Setengah jam persiapan
(saling menunggu) dan satu setengah jam untuk perjalanan dari Lidah ke Perak.
Ternyata, bertemu di pelabuhan. Bersama seorang bapak dan seorang perempuan
muda Mr. Mus ditemani. Masih seperti dulu, lagak itu, sok asyik. Cara
bersosialisasi yang ampuh.
Benar
sekali , ini adalah takdir dari Tuhan. Mr. Mus dan kawannya nebeng kami.
Syukur, awal yang baik. Ternyata, sejak awal kepergian kami bermanfaat. Rencana
yang indah.
(intermeso
selesai)
Guru
kedua sepertinya sengaja tidak mengabarkan diri jika ada urusan lain.
Berkali-kali kami menanyakan keberadaannya, tak ada balasan. Begitu sampai di
sekret, aku mencoba mengabarkan. Baru dijawab pertanyaan di mana dan mengapaku.
Hmmm.... aku tahu filosofi itu! Baik sih, biar saling sambung tali
persaudaan kita.
Kini,
aku harus bagaimana? Guru yang sebenarnya kami tuju tidak ada di lokasi.
Sempat
terpikir jika pembelajaran dengan guru kedua dibatalkan, dan tidak ada
pembelajaran dengan guru lain. Tapi, keadaan berbeda, kebutuhan mulai
mengganas. Tim baruku belum paham benar pada alur yang bercerita tentang
kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri. Tak ingin mengecewakan mereka yang
sudah siap dengan senjata perangnya; laptop, ATK, dll.
Syukur
diingatkan oleh Puw. Tujuan utama ke Madura adalah belajar dengan teman-teman
SM. Ide muncul untuk menjadikan Mr. Isk sebagai guru. Syukur, dia bersedia.
Terima kasih, Tuhan....
Sayang,
tubuh mereka belum dilatih sebagaimana mestinya. Mereka tertidur pada sesi
penting. Aih, programku, mengaktivasi ingatan mereka kembali. Setiap ada
kesempatan, mereka akan kutanyai tentang hal-hal yang berhubungan materi yang
disampaikan teman-teman SM. Huh, semoga saja ingatan itu semakin mengakar, baik
pada tanah otakkku maupun tanah otak mereka. Semoga bermanfaat. *Aaamiin.... [hry]

0 komentar