15 April
2016
Orang-orang
hidup untuk mencapai kesuksesan. Siswa belajar untuk meraih kesuksesan. Orang
tua bekerja banting tulang untuk menuju sukses. Organisator menjalin jaringan komunikasi
untuk memudahkan jalannya membuka pintu kesuksesan. Lalu, apa ukuran seseorang
dapat dikatakan sukses?
Selama
ini sebagian besar orang menganggap suksesnya seseorang melalui harta kekayaan.
Orang-orang yang berkehidupan mewah, seperti mengendarai mobil, tinggal di
gedongan, punya usaha sendiri, punya sawah luas, dan lainnya. Padahal, jika
tiba waktunya, harta jerih payah akan dinikmati orang lain.
Selain
harta, gelar nama yang banyak juga menjadi indikator seseorang dapat dikatakan
sukses. Orang-orang zaman sekarang memburu gelar S1, entah itu S. Pd., S. S.,
S. T., S. Ag., S. Kom., S. E., dr., dan lainnya. Pada orang-orang yang lebih
sukses, mereka harus mencapai S2 atau S3, yakni M. Pd., Dr., Prof., dan
sebagainya. Orang-orang dengan gengsi tinggi akan mendapatkan gelar yang
digandrungi pada masa kini, Ph. D., gelar dari luar negeri. Sebenarnya,
gelar-gelar itu nanti akan dilengkapi selengkap-lengkapnya oleh gelar Alm/Almh.
Indikator
kesuksesan bagiku bukanlah harta dan gelar pada nama. Sukses adaalah segalanya
tentang diri. Orang sukses adalah orang yang punya banyak cerita, bukan banyak
harta. Punya banyak cerita artinya pengalamannya banyak, baik pengalaman baik maupun
buruk, seseorang punya cerita untuk dibagikan kepada sesama sebagai bentuk
pelajaran hidup untuk semakin mengenal dunia dan seisinya.
Menjadi
pribadi sukses mesti tak pernah kehabisan cerita. Lagi-lagi, harta hanyalah
sebuah akibat dari cerita. Terdapat dua tipe orang yang memandang orang sukses.
Tipe-tipe tersebut dibagi berdasarkan kalimat yang keluar dari alat ucapnya.
Tipe
pertama adalah tipe orang yang berkata menggunakan kalimat deklratif/berita. “Enak, hidupnya sudah sukses! Lihatlah harta
kekayaannya!” Sedangkan tipe kedua adalah tipe orang yang berkata menggunakan
kalimat interogatif/tanya, “Bagaimana perjuangannya menuju kesuksesan?”
Pada
tipe pertama adalah orang yang suka berkhayal. Dia hanya berpikir dangkal. Pada
tipe kedua adalah orang yang mampu berpikir kompleks. Mengetahui bahwa setiap
hasil memiliki sebuah perjuangan. Di dunia ini tidak ada yang instan. Ia sadar
dan mau menelusuri perjuangan tersebut.
Jika
orang sukses bertemu dengan orang tipe kedua, ia pasti tidak akan menolak untuk
menceritakan perjuangannya. Dari cerita tersebut, ia akan menginspirasi banyak
orang. Dia pandai menyampaikan hikmah dari ceritanya perihal peristiwa yang
terjadi dalam hidupnya.
Indikator
lain adalah kemampuan berbagi kepada sesama. Lagi-lagi harta adalah salah satu
akibat. Semakin seseorang banyak berbagi, semakin sukses dirinya. Dia tidak
takut hilang dan miskin, karena dia sadar
kekayaan dan kesuksesan yag sesungguhnya adalah milik Tuhan.
Yang
paling penting dari segalanya adalah personal branding. Orang sukses itu orang
yang sudah menemukan jalan hidupnya. Seolah dunia ini miliknya. Orang-orang
sudah mengenalnya sebagai profesinya. Misal, seorang memilih dirinya sebagai
penyanyi. Genre apa yang dia kehendaki? Genre campur sari. Dia mencoba
mendalami ilmu tersebut, hingga terciptalah jiwa yang kreatif dan mampu
mengeksplor lebih untuk musik campur sari tersebut. orang-orang pun akan
menganggapnya sebagai seorang yang sukses.
Sukses
adalah anggapan. Orang lain yang menilai bukan berarti benar. Kaca mata
kebahagiaan tetap tidak bisa dilihat dari luar, harus ditelisik lebih dalam.
Belum tentu orang sukses itu orang bahagia. Bagi saya, sukses sesungguhnya (kesuksesan yang hakiki) adalah sukses dunia akhirta. Bahagia dunia akhirat. Orang seperti
ini dapat ditemukan pada orang-orang yang sudah mendahului kita, menikmati alam
akhirat.
Untukku, manusia belum bisa dikatakan sukses sebelum ia melampaui dunia akhirat. Lebih suka menggunakan istilah berhasil daripada sukses untuk menyelamati hasil pencapaiannya. Kata sukses cenderung untuk harapan dan doa saja.
Ada yang punya indikator lain tentang hakikat kesuksesan itu apa? [Hry, Sda]

0 komentar