18 April
2016
Tanpa
rencana, kuputuskan melakukan observasi di kampung Morgorukun 6 RT. 07 RW. 10,
Kelurahan Gundih. Tepatnya, di belakang jalan Semarang, kampung Ilmu, tempat
jual beli buku terhemat. Kampung itu terkenal dengan nama “Kampung Hijau” di
mesin pencari. Banyak aturan yang mengikat. Satu di antaranya, tidak boleh memarkir
kendaraan di depan rumah, kecuali akan digunakan (misal: akan berangkat kerja).
Aih, temanku, begitu takutnya pada peraturan itu hingga sepedanya diparkir di
halaman kampung ilmu.
Kami
memutuskan berjalan kaki menuju kampung tujuan. Aih, melelahkan. Kami harus
berjalan kaki, melewati jalanan becek, gang sempit, beradu jalan dengan
pengendara sepeda motor yang lalu lalang, melintasi rel KA, dan menikmati
Surabaya secara natural. Benar sekali, tak ada pilihan lain selain menikmati,
mencari gumpalan-gumpalan kecil untuk menambal lubang kekecewaan.
Sampai
kampung tujuan, kami mendapat informasi bahwa rumah ketua RT tersebut di nomor
yang bertanda 42. Beliau bernama Pak Lsdi, seorang guru PPKN dan Sejarah di
suatu SMKN ternama di Surabaya.
Kami
teriaki rumahnya berkali-kali, “Assalamualaikum!”
Tak
ada jawaban. Kugedor-gedor gerbangnya hingga terdengar bunyi menyebalkan yang
berasal dari gembok dan besi gerbang. Tetap kuteriaki rumahnya.
“Cari
siapa, Mbak?” jawabnya dari dalam sambil berteriak dengan lantang. “Ibunya
nggak ada, Mbak,” susulnya.
Sontak
aku kaget. Individu berkepribadian seperti apa yang akan kutemui ini. Dalam otak
menerka-nerka, mungkinkah jika beliau tidak berterima akan kedatangan kami. Kuanggap
semua orang pasti welcome dengan kedatangan dan maksud baik. Tapi ini,
membuat jantung temanku berdebar. Aku hanya berharap dengan membacakannya
puja-puji agar Beliau tahu maksud baik kami.
“Cari
Bapak RT sini, Pak!” jawab kami serempak.
Tak
ada jawaban lagi, tetapi kami tahu bahwa beliau bersiap-siap membukakan gerbang
untuk kami. Lama. Kami tetap menunggu. Tiba-tiba ada tamu lain, segera
dibukakannya gerbang itu dan kami disilakan duduk. Datang pula anak
laki-lakinya yang menjabat sebagai dosen, kemudian beliau bercerita sedikit
tentangnya.
Setelah
kami jelaskan tujuan kami datang ke sana untuk observasi, beliau sangat
terbuka. Berkata sejujurnya, bahwasannya predikat “Kampung Hijau” itu sengaja
dipudarkan dengan sendirinya. Banyak alasan yang melatarbelakangi. Bapak Lsdi
menceritakan kejenuhan, keterkekangan, konflik ketidaktransparansi dana, administrasi
yang ribet, dan konflik beberapa kepala keluarga. Faktor utama yang melandasi
adalah faktor ekonomi. Masyarakat harus membayar uang kas RT setiap bulannya,
sedangkan masyarakat mayoritas dari golongan menengah ke bawah.
Kesan
pertama yang terbentuk dalam benak pada karakter seseorang belum tentu benar. Justifikasi
tidak bisa langsung diberikan pada momen kali pertama dan baru pertama kali
bertemu. Lagi-lagi menyangkut validitas dan reliabelitas.
Validitas,
bersifat valid atau tepat dan reliabelitas bersifat ajek atau tetap. Seseorang tidak
diperkenankan menilai sesamanya tanpa ada keajekan bersamanya, Hal itu harus
dilakukan (ajek) untuk mendapatkan kevalidan data tentang karakteristik
seseorang. Jika sudah lama berteman dan bertemu dengannya, selain
menjustifikasi, dapat dipastikan seseorang tahu pula penyebab tentang
karakternya seperti itu. keajekan itu mencipta ketepatan. Mengetahui latar
belakang seseorang memudahkan berteman, mencoba memahami dia seutuhnya. [hry]

0 komentar