22 April
2016
Taman
Nada, band Surabaya yang tak begitu kukenal. Merupakan band undangan BEM-F pada
proker euforia.
Begitu,
Mas Atthur menyanyi. Aih, aku tahu lagu itu! Aku hafal dengan baik. Lagu itu
sempat jadi favoritku, “Marilah Mari”. Tersimpan
dengan baik dalam memori otakku. Lagu yang asyik dan ringan, namun penuh makna.
Yang kutangkap secara sederhana, bagaimana pun keadaan kita, kita harus selalu
menjaga tali silaturahmi/kekeluargaan. Aih, senang sekali aku bisa menyanyikan
langsung lagu itu bersama penyanyinya.
Sudah
kurencanakan, aku harus mewawancarai Si Bintang Tamu acara. Syukur, Tuhan
meridai. Usai Taman Nada menyanyi, mereka turun ke belakang panggung. Kugeret
vokalisnya, Mas Atthur, agar mau kuwawancarai di tempat yang terang dan sedikit
kondusif. Ehm, di tempat yang terang, tanpa topi yang menuutupi bayangan wajah
itu, ia terlihat lebih bersinar. Tak disangka dan diduga, beliau adalah seorang
mahasiswa Unesa, tetangga jurusanku. Masih berstatus mahasiswa. Entahlah, kapan
ia akan mencopot gelar mahasiswa itu.
Saat
mewawancarai, keadaan tubuhku sedikit kurang kondusif. Udara sejuk di sekitarku
tiba-tiba berhenti, angin malam yang dinginnya mencekam tak kunjung
menghampiriku. Kulihat-lihat, beliau pun juga begitu. Berkali-kali ia menyeka
keringat yang memenuhi keningnya, lalu menggelogok air botol yang ia genggam.
Senang sekali, beliau ternyata sangat terbuka.
Selesai
mewawancarai beliau, kami berfoto. Posisiku, sedang mengibas-ibaskan tangan
yang kuimajinasikan sebagai kipas. Temanku, yang membantuku mewawancarai,
terlihat biasa.
“Apakah
kamu nggak sumuk?,” tanyaku heran.
Dia
menggeleng dan berkata santai, “Nggak”
Kuperhatikan
lagi, memang dia merasa baik-baik saja.
Kudiamkan
ragaku. Mencoba memanggil udara kesejukan kembali. Beberapa menit kemudian angin
mulai menyapaku lagi. Udara yang kunanti-nanti kembali hadir melewati
celah-celah tubuhku. Aih, sejuknya! Terima kasih udara. Maafkan aku, tadi
sempat melupakanmu.
Makna
eksplisit (untuk teman-teman, pembaca, yang belum mampu menangkap makna secara
mendalam)
Udara
adalah satu di antara komponen kehidupan yang menghidupkan makhluk hidup. Saat
bertemu dengan seorang yang diciptakan Tuhan dengan sempurna, kita tidak boleh
melupakan kebesaranNya. Analogikan udara adalah Tuhan. Seandainya saja, kita
mampu melihat, mendengar, mencium, dan merasakan segala sesuatu yang ada di
sekitar kita adalah Tuhan, maka sempurnalah hidup seseorang. [hry]

0 komentar