Rabu, 21 Februari 2018

SOESILO TOER, “KARENA DARMA SEPIRING NASI”


Tiga hari setelah bertemu dengan Mbah Soesilo Toer (adik Pramoedya AnantaToer), hati bergetar hebat menyadari sesuatu. Tepat di hari ulang tahunnya, 17 Februari, Mbah Soesilo-lah yang malah memberikan anak cucunya kado, wejangan yang begitu bermanfaat juga cerita-cerita yang meluaskan wawasan kami. Mbah Soesilo Toer, bersama tulisan ini, kado ini spesial untukmu. Pun pada orang-orang yang membacanya. Semoga kau dan keluarga selalu sehat jasmani rohani, damai batinmu, cerah jalan hidupmu, dan semakin rahayu mahakaryamu. Aamiin.

Saat dijumpai di toko buku Sarkimpul di Jalan Sepat, Lidah Kulon, Surabaya, Mbah Soesilo tengah beristirahat menyandarkan tubuhnya di depan rak buku. Beliau pasti capai usai mengisi acara yang diprakarsai teman-teman komunitas Rebo Sore, Kaki Langit, dan Lingkar Merah. Tetapi, tangguh sekali stamina beliau. Wajar! Julukannya lelanang ing jagad,kok! Begitu kami menyampaikan maksud kedatangan Sakra Pers, beliau menceritai kami sejak usai Ashar sampai terdengar azan Isya.

Soesilo Toer Bercerita
Selama di Audhitorium FBS Unesa, Mbah Soes berbagi bahwa beliau dan kakak-kakaknya berpegang pada ajaran Multatuli (Douwes Dekker). Persis seperti quotes Pramoedya, “Saya pegang ajaran Multatuli bahwa kewajiban manusia adalah menjadi manusia.” Quotes tersebut memang penuh makna. Bagi Presiden Ngorek-Ngorek Kotoran (Rektor) ini, menjadi manusia haruslah fungsional, berfungsi sebagaimana perannya.

Dengan gaya duduk bersandar, kaki kiri dilipat horizontal dan kaki kanan dilipat vertikal, tangan kanan yang diletakkan di atas lutut dan tangan kiri yang menyentuh tegel sesekali digerakkan saat bercerita. Satu dari tiga pendiri Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (PATABA) itu bercerita tentang pengunjung perpustakaan yang sudah berasal dari empat benua, kecuali benua Afrika yang belum terwakilkan. Perpustakaan yang terletak di Jalan Sumbawa 40, Jetis, Blora, selalu menyediakan ruang bagi pengunjungnya untuk meninggalkan pujian atau makian juga pertanyaan. Katanya tulisan-tulisan itu akan dibukukan dalam “Pram dalam Tungku” yang akan dicetak oleh Pataba Press.

Penulis pentalogi tentang memoar Pramoedya dan keluarga ini sempat menceritakan pengunjungnya yang berstatus santri. Selama liburan satu pekan, dia berniat untuk menghabiskan waktunya dengan membaca bacaan hebat milik PATABA. Mbah Soes pun memberikan buku untuknya. Keesokan harinya dia kembali dan menyampaikan kesannya. Mbah Soes mencoba menirukan intonasinya, “Buku ini itu buku hebat apanya. Ini sampah ini.” Mbah Soes tidak geram dan marah, beliau malah mengantarkannya pulang sampai dekat pintu.

Sampai di pintu Mbah Soes mencoba bertanya pada Si Anak, “Nak, apa bedanya muslim dan Islam?” Si Anak menjawabnya dengan mantap. Tapi ternyata jawaban Si Anak standar bagi Mbah Soes. Jawabnya Islam itu agamanya dan muslim itu orangnya. Mbah Soes pun balik menimpali dengan penuh canda, “Jawaban itu sudah kuno. Itu juga sampah, tuh.” Setelah itu beliau bertukar pikiran. Katanya setelah membaca penelitian Muhammad Abduh yang pernah belajar di Al-Azhar, Kairo, Mesir, dia membuat penilaian baru. Menurutnya, “Saya menemukan Islam di Barat tanpa muslim, dan saya menemukan muslim di Mesir tanpa Islam.” Si Anak pun menyahutinya, “Saya malah baru dengar.”

Lelaki berumur 81 tahun ini berwawasan luas dan berpengetahuan terbuka. Beliau membaca apa saja ajaran tentang kehidupan, baik Islam, Budha, Kristen, Katolik, maupun Hindu. Tetapi beliau lebih condong pada ajaran Budha yang dibenarkan menurut pengalamannya. Katanya, “Jika Islam mengajarkan the miracle of giving, Budha mengajarkan darma. Berbuatlah darma dan Anda akan dibimbing oleh darma itu sendiri.”

Laki-laki bergelar doktor lulusan Plekanov Russian University of Economics Uni Soviet (baca: Rusia) ini bercerita tentang darma yang pernah dilakukannya, yakni darma sepiring nasi. Dulu, saat Mbah Soes dipenjara di Kebayoran Lama, beliau jadi tukang cuci piring. Dalam sehari bisa mencapai 70—120 buah piring. Jika di atas 100 buah, Mbah Soes tidak kuat. Akhirnya beliau meminta bantuan Apoy, orang Pontianak. Setiap pagi Apoy membantu Mbah Soes dan Mbah Soes memberinya sarapan. Suatu hari Mbah Soes dipindah di rumah tahanan militer, sedangkan Apoy di Nirbaya, dekat lubang buaya. Dia tinggal di rumah Mbakyu Mbah Soes dan jadi agen penjual sepatu asal China.

Suatu kali Mbah Soes, lelaki yang juga bergelar magister lulusan Patrice Lumamba Uni Soviet ini, pernah ditemukan oleh anak muda asal Tangerang dalam keadaan pengangguran. Tiba-tiba dia memberikan uang sebesar Rp250.000,00 lalu mengenalkannya pada orang di pabrik buku Gunung Mas. Dia meminta Mbah Soes mengambil semua produk pabrik tersebut untuk dijualkan. Singkatnya Mbah Soes jadi penjual buku keliling. Jika beliau jual seperti biasanya, beliau hanya dapat menjual satu buku dalam sehari. Akhirnya Mbah Soes berinisiatif mengedrop bukunya di sekolah. Agar menarik, beliau pun mencetak tulisan di halaman depan buku atas nama sekolah dan kepala sekolahnya. Usaha itu pun akhirnya berkembang dengan baik. Banyak pihak sekolah yang memesan buku di Mbah Soes karena hal itu membanggakan bagi mereka, seolah buku itu dicetak khusus atas nama sekolah tersebut.

Melalui darma sepiring nasi, Mbah Soesilo Toer percaya bahwa usahanya berkah sampai sekarang. Dari darma tersebutlah beliau bisa membeli tanah di Bogor dan membuat rumah semi permanen pada masa itu. Itu pencapaian yang luar biasa. Di tengah-tengah cerita pun beliau selalu menyisipi kelakar yang asyik.

Soesilo Toer melirik Vinna
Di akhir perbincangan bersama Mbah Soes, kami sempat diramal melalui garis tangan. Katanya, “Saya belajar ilmu ini di Singapur.” Beliau senang berbicara tentang perempuan, keluarganya, dan apa pun yang pernah dialaminya. Obrolan kami selesai pada hari itu ketika tahu Mbah Soes sudah dijemput oleh rombongan dari Mojokerto, kota yang akan dijamah keesokan harinya.


Surabaya, 2


1 Februari 2018

 S.Haryani C.

Dimuat dan diunggah ulang oleh @lpmsakra (on Instagram)
Read more

Kamis, 15 Februari 2018

JATAH

“Sudah ujian, Mbak?” tanya Pak Budhi, pegawai perpustakaan kampus yang sering kuapeli siang bolong. “Ujian apa, Pak?” balasku singkat meski kutahu arah pembicaraannya ujian skripsi. Takseutuhnya kutanggapi Pak Budhi. Mata dan tanganku terus mengubek isi tas untuk mendapatkan buku, smartphone, botol minuman, dan laptop se-charge-nya. Sepertinya beliau memang ingin menghardikku. Pak Budhi mulai menyebut dua perempuan yang sudah menyetor jilidan hardcover kepadanya kemarin. Aku takmerasa terhina sama sekali. Kuingatkan beliau dengan menyebut perempuan yang kebetulan temanku. “Iya, Pak. Namanya Destri dan Febrika.” “Terus sampeyan kapan, Mbak? Gak nututi ta, Mbak?” Semua barang yang kucari kini sudah di depanku, kucoba membalasnya dengan penuh, “Baru kemarin Pak, saya ujian proposal. Saya mau mengambil semua jatah saya, Pak.” Akhirnya beliau mengangguk setuju dan kembali bersikap bijaksana, “Iya ya, Mbak. Semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sampeyan kan masih ngurusi organisasi. Makanya nggak maju, ya, nggak mundur. Sesuai jatah, heheheh.”

Aku tahu jika jatah setiap mahasiswa di tahun-tahun terakhir hanya sepuluh semester atau lima tahun. Tetapi, bukan jatah itu yang kumaksud. Aku ada di sini berkat pembiayaan dari rakyat sehingga jatah yang kumaksudkan adalah delapan semester atau empat tahun. Pun aku takmau mengecewakan pajak-pajak yang dibayarkan ortu juga rakyat untukku. Sejujurnya aku hasad pada mereka, kakak tingkat pun adik tingkat, yang berani mengambil jatahnya semua. Tapi, pikiran itu segera ditepis oleh dosen yang mendukung program akselerasi, lulus prematur, tujuh semester. Di sebuah kelas beliau berbagi, “Sebenarnya, saya heran dengan kakak tingkat kalian. Dia yang punya jatah empat belas semester, belum selesai-selesai juga skripsinya. Padahal semua sudah saya mudahkan. Orang tuanya datang kepada saya, minta segera diluluskan. Lah, kalau anaknya tidak mau berusaha, mana bisa? Alhamdulillah tahun ini ada tujuh belas kakak tingkatmu yang lulus tiga setengah tahun. Mereka itulah yang menunjang kebaikan untuk kakak tingkat sing njupuk jatah kuliahe jangkep-kep.” Ah, iya. Benar juga! Ini masalah akreditasi kampus. Lagi-lagi dosen itu menjelaskan dengan gagah bahwa jurusannyalah yang menyumbang banyak kebaikan untuk kampus. Aku pikir, aku tidak mau terlalu berjasa pada kampus, pun takingin memburuk-burukkannya. Maju atau mundur, bukan itu yang jadi soal.
Sumber Gambar Mbah Google

         Ya, akhirnya aku lulus PAS, sesuai jatah yang kumaksud. Banyak hadiah dan bunga di genggaman. Juga deretan foto yang minta di-posting. Anak-anak (seorganisasi) merayakanku bersama cetakan backdrop yang dipenuhi wajahku. Kutanya pada mereka, “Sejak kapan kalian mencetak backdrop ini, Dik? Akhir-akhir ini kalian fulltime bersamaku.” Salah satu dari mereka menjawab, “Sudah setahun lalu, Mbak.” Yang lain memberikan nota backdrop dari dompet. Dan benar, kertas dan tintahnya sudah mulai membaur, lusuh, baunya taksegar. “Lalu, bagaimana bisa waktunya PAS? Per tanggal, bulan, dan tahunnya. Padahal jadwalnya sedikit meleset dari kalender akademik kita, loh!” Mereka godhek-godhek, menggoyangkan kepala, dan memainkan kedua bahunya naik turun. Entah, hasrat darimana, tiba-tiba kuberkelakar, “Next, backdrop resepsiku, ya!” Buru-buru mereka menjawab, “Sudah selesai, Mbak! Ini notanya, masih baru.” Tanganku merangsek merebut nota itu dan bertanya, “Siapa partner-ku?” “Sudah, Mbak! Beres! Sudah sesuai jatah kok. Biar jatahmu terus bersama kami, Mbak.” Jangkreek! Aku tahu mereka menginginkan siapa.

12 Januari 2018



S. Haryani C.
Pentigraf dimuat di Buletin Maiyah Jawa Timur (BMJ) 
Edisi Februari 2018 / Jumadil Ula 1439 H
Read more

Kamis, 25 Januari 2018

Ambang Batas Kelulusan


Kusuma pulang setiap akhir semester. Kali ini ia pulang dengan wajah kusut. Kutanya, “Apakah kampusmu penuh masalah?”. Lagi-lagi ia menjawab penuh kelakar, “Jelas, Pak! Masalah kebersihan selalu jadi PR besar di setiap kampus. Heheh.” “Maksud Bapak masalahmu di kampus!” Ia hanya menggeleng dan berucap tidak. Kutelisik dengan saksama kantong celananya, saku kemejanya, pun tas ranselnya. Kutemukan secarik kertas undangan. Di sana tertulis acara “Sarasehan Mahasiswa Ambang Batas Kelulusan”.


Dengan emosi berapi-api, kucabut kabel televisi. Kusuma berjingkat dan ibunya mencoba menenangkanku. Kuberikan kertas itu pada Kusuma, “Beri penjelasan pada Bapak, sekarang!” Kusuma terlihat bingung dan tergagap, “Setahun lagi, kalau Kusuma tidak juga lulus, ...” Suasana hening, terdengar deru napas bapaknya yang tersengal-sengal. “... Kusuma DO.” Aku bergegas masuk ke kamar Kusuma lalu memberikan tasnya dan berpesan, “Jangan pernah kembali jika tak bisa berikan kami undangan wisudamu!” Tanpa berkata apa pun, Kusuma melangkah pergi dengan mencium tanganku dan ibunya. Ia menerima tawaranku.


Keesokannya, seorang tetangga bertanya tentang Kusuma padaku. Aku hanya bilang, Kusuma sudah kembali ke perantauan untuk menuntut ilmu. “Bangga sekali ya, Bapak punya Kusuma! Anak yang baik, jujur, dan menginspirasi sekali! Tak disangka jika traderecord-nya sudah mengagumkan. Yakin, Pak! Pasti setelah kelulusannya nanti akan banyak perusahaan yang mengincarnya! Selamat, ya Pak!” “Apa maksudmu, tetangga?” Tetangga itu memberikanku koran nasional dan memintaku membuka rubrik Muda Menginspirasi. Di sana kudapati foto Kusuma yang gagah dan menyebut nama bapak-ibunya sebagai inspirator utamanya. “Bapak pasti menangis bahagia, ya?” Aku menyesal, batinku. 


📝 @syakiebharyani (gambar:andrew wyeth painting) 
#lpmsakra #lpmfbs #lpmunesa #sastra#pentigraf #cerpentigaparagraf#pentigrafis #mahasiswa


 S. Haryani C.
Surabaya
Januari 2018
Read more

ATLANTIS LAND, DUNIA FANTASI SURABAYA


Tanggal 20 Januari tubuhku mesti mampir ke Surabaya Timur, mengantarkan temanku pulang ke indekosnya. Maklum, dia anak Uwika. Akhirnya, ke sana sekalian main deh ke Taman Suroboyo. Menurut g-maps jalan menuju Taman Suroboyo itu mesti ngelewati Kenpark dan Atlantis Land. Hmmmm, saat lewat di dalam hati sempat bilang, “Ah, seandainya bisa ke sini, semoga saja bisa ke sini, ya!” Wuduh, semesta mendengarnya. Ternyata dua hari setelahnya aku bisa ke Atlantis Land bersama arek-arek komunitas Love Suroboyo (LS) secara cuma-cuma. Bebas Harga Tiket Masuk (HTM) Rp100.000,00 weeehhh.  Alhamdulillah.

Rombongan RT Love Suroboyo
Pukul 18.37 WIB (22/1) baru sampai di parkiran Atlantis Land. Tempat yang pertama kucari adalah musala. Ampuuun! Tempat seluas itu musalanya sempit. Padahal mayoritas pengunjung adalah mereka yang butuh tempat ibadah itu. Hanya tersedia ruang kecil ukuran kamar anak indekos tanpa sekat yang membedakan laki-laki dan perempuan. Tempat wudu memang ada di sayap kiri dan kanannya. Sayangnya tidak ada gorden yang pura-pura menutupi kaum perempuan yang berwudu. Waktu magrib yang singkat dengan banyaknya pengunjung membuat mereka saling bertoleransi untuk cepat keluar dari sana. Ah, semoga saja musala itu cuma sementara.

Atlantis Land adalah taman hiburan yang menyajikan segala bentuk kesenangan, seperti wahana permainan, pertunjukan, bahkan wahana air. Atlantis Land  yang terletak di Jalan Sukolilo nomor 100 ini masih satu kesatuan dengan kawasan Kenpark. Kalau ingin ke Kenpark sekaligus ke Atlantis Land,pengunjung cukup bayar tiket masuk Atlantis Land saja. Jangan bayar double! HTM itu sudah bebas naik wahana apa pun dan berapa pun pada jam beroperasi mereka yang setia setiap pukul 10.00—22.00  WIB. Kalau sudah ada di tempat ini, pengunjung berhak dipanggil bangsawan, para atlan dan atlanta. Ciyey!

Atlantis Land memang dunia fantasi satu-satunya di Surabaya. Patung dan bangunan dibentuk tinggi dan besar layaknya raksasa dan istananya. Miniatur hewan purba, seperti dinosaurus dkk dibuat empuk, dipasang audio, dan disetting dengan gerakan teratur. Selain wahana-wahana bermain yang menyenangkan, di sana juga disediakan waterland, semacam waterbom. Kalau beruntung, para atlan dan atlanta bisa mendapat suguhan menarik dari air mancur menari setiap pukul 18.30—19.00 WIB.  Ah, Atlantis Land memang penuh artifisial. Bahkan pohon dan bunga aseli bisa dihitung pakai jari.

Dari 25 wahana yang ada di Atlantis Land, baru ada 14 wahana yang sudah dioperasikan. Yakni Tea Cup, Wave Swinger, Star Dancer, Mistery Atlantis, Atlantis Waterland, Bumper Car Jr, Kids Kingdom, Tornado & Boomerang Slide, Happy Car, Space Fighter, Dino Land, Diorama, Music Express, dan Carousel. Dari kesekian banyaknya wahana, hanya ada enam wahana yang tercicipi. Yakni Dino Land, Wave Swinger, Star Dancer, Music Express, Space Fighter, dan Carousel. Meski belum sampai separuhnya itu tidak jadi soal. Toh, ini baru soft opening, belum grand opening-nya.

Dino Land
Di Dino Land para atlan dan atlanta dinaikkan kereta untuk menjelajahi dunia dinosaurus dan kawan-kawannya. Ini bagus untuk anak-anak yang rasa tahunya tinggi. Di sepanjang perjalanan akan ditunjukkan bentuk dan suara dino yang bermacam-macam di zaman purba. Penerangan di sana didominasi warna biru gelap. Memang memberi efek seram, tetapi kurang terang. Seandainya setiap spot dino diberi plakat yang informatif juga efek embusan napas dino yang menyerang tiba-tiba, pasti jadi lebih seru.

Wave Swinger
Wave Swinger adalah ayunan yang digoyang dengan gelombang raksasa. Para atlan dan atlanta bisa merasakan terbang di angkasa jika memejamkan mata dan menikmati anginnya. Kalau naik ini sesuaikan dengan permintaan pegawainya. Biasanya ayunan yang harus diisi lebih dulu adalah ayunan warna hijaudan kuning. Biar seimbang katanya. Ayunan ini bukan seperti ayunan di taman kanak-kanak yang bisa diayunkan sesuka hati loh, sebab depan-belakang-kiri-kanan juga ada atlan-atlanta yang lain.

Star Dancer
Para atlan-atlanta akan diajak berputar seperti bintang. Cukup membuat mabuk karena putarannya penuh dan cepat. Setelah diputar searah jarum jam, para atlan—atlanta akan lanjut diputar berlawanan dengan arah jarum jam. Usai naik wahana ini tetap hati-hati dan mawas diri di area wahana, apalagi pas malam hari. Ada lubang yang sedikit menjebak di sini. Temanku sempat keblowok kaki kanannya yang jenjang dan ramping. Kasihan sekali. 

Music Express
Wahana ini sebenarnya asyik karena para atlan-atlanta akan diputar dengan sajian musik instrumen tertentu. Tetapi, musik seindah apa pun tidak akan ternikmati jika fokusnya tidak tertuju pada musik. 
Space Fighter
Wahana permainan ini lumayan seru. Dengan bentuk pesawat angkasa, para atlan-atlanta bisa bertempur dengan sendirinya. Pesawatnya dilengkapi dengan tombol yang bisa dikendalikan dengan gerakan memutar. Wahana pun dioperasikan dengan berputar dan naik-turun.

Carousel
Inilah wahana yang paling menyenangkan sepanjang zaman, carousel atau komidi putar. Kalau malam, wahana ini yang paling lucu dan eyecatching. Selalu saja pantas buat semua usia. Dan seolah ada kesan romantis gitu.


Memang Atlantis Land  tutup pukul 22.00 WIB, tapi sekitar pukul 21.00 WIB sudah diingatkan oleh loudspeaker. Anehnya di koridor Atlantis Land yang megah itu tetap ada band kecil yang nyanyi. Mereka seolah menghibur diri sendiri atau bekerja sesuai hak dan kewajibannya. Suaranya ketjeh sih,orang-orangnya juga, apalagi musiknya. Sayangnya takada yang memperhatikan. Seharusnya disudahi saja lalu ganti lokasi dan jam mangkal. Yah, bisa jadi band kecil itu main setelah air mancur menari di kastil yang fantastis. Para atlan-atlanta pun akan senang menyumbangkan suaranya.

Maturnuwun Semesta, terima kasih arek-arek LS.



S. Haryani C.
Surabaya

Kamis Kliwon, 25 Januari 2018
Read more

Rabu, 03 Mei 2017

BARU*


Saat ditanya Guru tentang arti kebaruan dalam hidup, aku berkata seenakku.Semauku sendiri, kujawab, “Baru itu tidak lama, bukan bekas, Guru! Hwaaaaahahaaaaaaaaah,” tawaku meledak. Kuimbuhi lagi kata, “Baru itu new, gres, Gur!”

Guru adalah sahabatku. Dia terpaut tiga tahun di atasku sehingga pola pemikirannya begitu tajam. Aku tahu, dia pandai membaca. Dalam sehari dia bisa menghabisi jiwa tiga sampai lima buku tipis sekaligus. Guru benar-benar jadi orang yang haus akan rahasia dunia. Jidatnya yang lebar dan gede makin meyakinkan semua orang untuk mengonsultasikan masalah hidup kepadanya. Guru memang pintar membaca karakter orang. Dia tahu setiap orang harus diapakan. 

Guru memaki dengan fasih, “Gundul Pacoooool!”

“Dasar gembelengan! Nyunggih wakul, numplek kabeh!” sahutku.

Sakjane aku kuwi yoh nduwi jawapan sing podo karo awakmu. Mangkane aku yoh takok.”

Hwaaaahahahahaaaaahahaahahah, tawa pecah. Lalu kami meneriaki kata lain, “Assssuuuh!”

Kopi yang sudah dingin sejak subuh tadi diseruput lagi, imajinasi melayang menuju dua masa. Dalam diam, Guru dan aku bercerita tentang BARU yang dinetralisir bersama buaian kopi.

Saat kecil, aku selalu bermain di taman sekolah. Hanya butuh waktu lima menit untuk jalan kaki menuju taman yang banyak permainannya. Di sana ada seluncuran, ban-banan, dan bandulan. Yang paling kusuka adalah bandulan. Aku rasa hanya taman sekolah yang punya model permainan besar seperti ini. Setiap sore seusai mandi, aku cepat-cepat bergegas main di bandulan.

Suatu kali taman sekolah direnovasi. Tempat bermainku hilang. Aku bermain ke tetangga sebelah. Bermain dokter-dokteran, ncus-ncusan, masak-masakan, dan rumah-rumahan. Tiga hari berlalu taman belum selesai. Hari ketujuh datang, taman masih saja diperbaiki. Aku memutuskan bermain ke tetanggaku yang lain dan hampir sulit kupercaya jika dia memiliki mainan baru. Mainan yang benar-benar kusukai dan kutunggu-tunggu selama ini.

“Aku mau main. Gantian, ya....”

“Enggak mau! Ini kan punyaku!” jawabnya spontan sambil memainkan ayunan.

Aku merajuk pada oang dewasa dan mereka membelaku. Aku diizinkan naik dan diayun beberapa kali. Lalu, gantian dia yang merajuk pada mamanya. Aku pun pulang.

“Buk, aku pengen nduwe bandulan,” rengekku.

Berhari-hari aku mesti menunggu datangnya bandulan. Taman sekolah belum pula kelar. Aku menunggu ibu membelikan benda baru itu. Benda yang terbuat dari ban karet yang dikaitkan bersama tali tampar ke tangan pohon.

Suatu kali, kutahu harapanku menjadi nyata. Yang kuingin-inginkan benar adanya. Aku gembira sekali! Juga ibuku senang sekali ketika tiba-tiba tubuhku kembali sehat.

***

Beranjak dewasa, hasrat untuk mencintai lawan jenis mulai bermunculan. Ini hal baru dalam hidup. Semua sedang asyik berkasih-kasihan. Senormal-normalnya lelaki, aku pun harus merasakannya. Bermain ke sana ke mari, tebar pesona ke orang-orang, menjajani semua gebetan, karaoke bersama, nonton bioskop, dan semuanya sudah kulakukan.

Puas merasakan dengan keuntungan maksimal yang tetap pada batasannya, ternyata kebaruan cinta dalam hati belum juga teratasi. Masih ada ruang kosong yang belum bisa mencapai palung hati yang paling dalam. Kenyataan menjadi membosankan hingga aku harus memutuskan satu hal yang paling mempengaruhi dalam hidup, yakni menikah.

Rasanya ingin segera memakan kehidupan gadis Pak Haji. Menyetorkan namanya agar dicek BPOM RI, selanjutnya menjadi daftar terbaik. Lalu cap “Halal” khusus untukku akan menempel di keningnya.

Bayangan lima tahun ke depan membuatku merinding. Kebaruan dalam hidup yang kudapatkan dari gadis Pak Haji akan digantikan dengan anugerah bayi. Saat ia tumbuh menjadi anak, remaja, dan dewasa, mungkinkah ia akan mampu menyentuh bagian dasar palung hati? Sedangkan ia tak kubawa mati.

Selayaknya nasib anak. Aku selalu menduduki posisi itu. Namun, kelak aku akan membelah menjadi dua bagian, anak dan orang tua. Keberhasilan dan kesuksesanku hanya demi anakku dan ibu bapakku. Orientasi hidup hanya untuk mereka, berharap jika ketiadaanku memberikannya bekal perjalanan hidup di dunia. Biar saja anak yang memanen, orang tua yang menanam.

***

Renungan soal konsep baru tiba-tiba dibuyarkan oleh celentingan penjual es krim keliling.

Guru menebak dengan benar, “Pikiranmu mbalyu nang masa lalu, kan ya?”

“Loh, kok tahu?”

“Ya tahulah. Gampang banget! Begitu bakul es krim iku lewat, matamu nggoleki cah cilik sing arep tuku es iku.”

Sesederhana itu Guru mengawasiku. Bagaimana pun jalan kebenaran menurutnya, aku tidak bisa mengubah arahnya. Yang penting kami rukun. Cukup. Lalu, aku tak mau ambil pusing, kubalas menebaknya, “Halah! Mbok kiro aku gak pinter nebak? Guru malah mblayu-mblayu nang masa depan, toh? Paham aku Cak, sampeyan wes umur!”

“Kemero!”

Guru mulai memantikkan api dari korek gasnya. Diambil batangan kretek, lalu disulut ujungnya. Dihisapnya dalam-dalam sampai menghabiskan seperdelapan batangan kretek. Dihembuskannya lewat hidung dan mulut yang dipolakannya melingkar. Dan Guru mulai menjadi seorang manusia di luar manusia biasa-biasa saja.

“Baru itu saat kau menemukan esensi dari hidup. Saat kau menemukannya barulah kau terlahir kembali. Reinkarnasi.

Podo koyok jarene Sabrang Mowo Damar Panuluh, syariat itu seperti orang yang naik kapal. Tharikat itu seperti orang yang naik kapal lalu mendayungnya sampai ke tengah lautan. Hakikat itu saat kamu njegur, nyelam ke kedalaman laut. Dan maarifat adalah saat kau menyelam ke dalam laut, lalu kau menemukan mutiara yang selanjutnya kau bawa naik ke atas kapal.  Di sanalah kau menemukan makna. Dan tidak ada rindu yang menyesakkan dada, kecuali rindu kepada Yang Maha Segala.

Saat seseorang sudah menemukan makna dalam hidup, sesuatu dalam jiwa menjadi baru. Sepandai-pandai pemain pertunjukan teater, suatu saat ia tahu kapan ia harus jadi aktor dan suatu kali ia mesti jadi yang sejati, yakni Sang Sutradara.”

Aku diam. Mulai memikirkan kata-katanya yang penuh makna. Tanyaku padanya, “Rokok kuwi isok ngencerno utekmu ta, Gur?”

Guru kembali menghisap kreteknya, lalu memanggutkan kepala dan berkata, “Cuma wong bodoh sing percoyo kuwi!”


*S. Haryani C.
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia 2014


Cerpen di muka adalah Cerpen yang dimuat di Bulletin Sastra Idhum milik Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Sesasi, FBS Unesa. Terima kasih.
Cek link ini, ya.... IDHUM SESASI FBS UNESA
Read more

Senin, 06 Februari 2017

NDRAMA DI McD


Astaghfirullah’adzim....
Begitu sampai kos, kubuka pagar dengan keras, lalu kubuka pintu dengan grusakgrusuk sampai membangunkan kawan kosku yang tertidur. Tarik napas,buang napas, istighfar, tarik napas, buang napas, istighfar, terus kuulang-ulang sampai sesaknya dada ini hilang. Rasanya lama sekali kulakukan hal itu dan baru kali pertama ini kurasakan rasa yang seperti ini. Biasanya seorang perempuan (saya) akan menangis luar biasa untuk menghilangkan kesesakan dalam dada, tetapi ini lain. Saya tak bisa menangis sama sekali, namun dada ini penuh dengan segala amarah yang susah diekspresikan. Syukurnya, begitu Ibasky ada untukku rasa yang begini hebatnya dan begitu tak karuan itu bisa terkontribusi sedikit bersama tuts-tuts keyboard yang kutekan keras.

Hari ini kami merencanakan bertemu dengan seorang lelaki yang sakit hatinya karena keliruku memedulikannya, orang yang pernah kubuatkan surat dengan sejujur-jujurnya. Sungguh! Saya tak habis pikir dengan model lelaki macam ini. Dia bungkam seribu bahasa padaku. Namun, impact-nya kepada yang lain. It’s OK kalau tidak mau berbicara padaku lagi. Sepenuhnya saya terima, tapi setidaknya masalah ini kelar, tidak berlarut dan tak berkepanjangan. (Jan, encen duduk arek organisasi. Susah bangaet diajak ngomong, Pribadinya plegmatis pula, punya sifat keras hati. Susah tanpa hidayah.)

Yang paling membuat saya begitu sesak dada adalah ketika melihat teman seperjuangan saya yang tulusnya dapat kurasakan itu menangis sebabnya. SUMPAH! Atiku nggerundel! Aku paleng gak suweneng ndelok pemandangan koyok ngene! JUUWAN! Lanang cap opo iku! KKKKKKK

Teman perempuan itu adalah Wai meng, seorang sahabat, teman, tante, dan yang terbaik mengertiku. Dia juga pintar memahami lelaki itu. Dia punya misi khusus untuk mendamaikan kami. Dia pun tak betah melihat kekeliruan yang ia sadari sepenuhnya mesti diluruskan. Selama lelaki itu tak mau bicara, dialah jembatanku untuk tahu mengenai pandangannya terhadapku. Dia sudah mencoba menjadi pendengar yang baik untuknya, tetapi lelaki itu tak peduli padanya. Saat bertemu dan dilambaikan tangannya ia tak peduli. Saat diajak bicara, dia mendiamkannya. Entahlah kuping itu dipinjamkannya ke siapa. Begitu heroik-nya dia!
Seseorang sudah menanamkan satu hal, bisa dibilang ideologi, yang kami pegang bersama dari orang yang sama, tentang kekeluargaan dan kepedulian. Kami mencoba memedulikan seorang lelaki ini segenap jiwa. Mencoba membuka isi pikirannya atau membuang segala isinya untuk ditanami kebaikan di segala penjuru arah. Kami begitu ingin dia berubah. Namun, cara kami keliru karena mungkin saya dan Wai meng adalah teman sejawat, dan setingkat di bawahnya sudah berani menyadarkannya dengan cara kami, guyonan yang memperolok. Hmmmm......

Saya sungguh tak pernah tahu jalan pikiran lelaki macam itu. Wai meng pun bilang jika dia tidak pernah menemui laki-laki seperti itu sebelumnya. Seolah dia ditampar habis-habisan di muka umum. Diajak bicara sok-sokan perhatiin gelas McD, minum, terus kepala nunduk ke bawah, dan akhirnya kepala didelosorno nang mejo. Klumbrak klumbruk ngunu.
Semua yang mengajaknya bicara diabaikan, sia-sia. Hingga akhirnya saya benar-benar ingin membuatnya bicara dengan menjatuhkannya. Tapi, sepertinya saya bodo. Saya tahu tempat itu tidak memungkinkan untuk menyadarkannya. McD. Dia lari dan kabur, menculik adik kesayangan saya. Dan kami terpaksa menyusulnya. Dan terjadilah kejadian itu.

SUMPAH Pedih banget, perih, sedih, lanang nggapleki. Rasane koyok mari disantap menungso. Wai meng mengambil kontak kunci sepeda motor lelaki. Lalu dengan muka yang penuh rasa benci diambilnya kunci itu. Wai meng menangis, sempat pula bibirku merinding ke bawah lalu merambati jantung untuk mengekspresikan air mata, tapi tak jadi, tak perlulah! Wai meng ingin segera pulang, kudapati sekitar bola matanya berlumuran kristal yang mencair, memerah, lalu menunduk, menjadi sebuah aliran yang menghantam batin sesama perempuan. Tukang parkir McD bingung harus berbuat apa melihat kejadian itu. SUMPAH pikirane paleng ngene, “Iki arek enom ndrama banget yoh!” Pikiranku, “Wik, iyo CAK Ndrama koyok ndok film, sinetron. Tapi iki kenyataan! ”

Anehnya! Begitu dia membuat Wai meng nangis, dia berhenti, memarkirkan sepedanya di dekat jalan raya. Duduk di emperan McD. Lagi-lagi Pak Parkir melayangkan imajinasinya. Wai meng sudah tak sudi lagi melihatnya, dia hanya ingin pulang. Seorang adik kesayangan kami sepertinya dia tahu tugasnya. Dia menemani lelaki itu di emparan McD. Nggilani, gak isin ambek Pak Parkir.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       
----***-----
Malam ini, kos saya terjadi sesuatu. Seorang penghuni baru datang dan membuat ribut seisi kos. Dia unik karena sudah tidak waras, mesti minum obat setiap hari tiga kali sehari, namun orang tuanya meng-kos-kannya. Memang akibat kecelakaan, bukan bawaan lahir. Tetapi, benar-benar menghebohkan kami. Lagi-lagi, Tuhan ingin ngajak bercanda saya, nih! Tidak boleh terlalu memikirkan hal itu. toh, yang hanya bisa mengubah nasib suatu kaum adalah kaum itu sendiri. Nabi Muhammad saja tidak bisa mengubah Paman yang begitu menyayanginya sampai dia meninggal. Nah, apalagi saya manusia. bukan Nabi, Dewa, bahkan Malaikat!

Tapi gakpopo tak fatihah.i ae gawe Mufa Rizal. Alfatihah.... Aamiin....

6--7 Februari 2017 Kamar ke-35, VII 40A
Read more

Senin, 05 Desember 2016

TENTANG PEREMPUAN


Jagat hati saya digonjang-ganjingkan oleh seorang teman lelaki. Ini memang bukan kali pertama saya menemui laki-laki yang menyelorohkan pikiran nafsunya di hadapan saya. Memang, ini bukanlah pelecehan seksual. Tetapi, hal ini membuat buruk mood saya.  Hati saya jadi resah.

Mengapa coba, laki-laki selalu punya niatan memadu istrinya sendiri? Istilah lainnya adalah poligami. Padahal yang dia punya sebenarnya apa? Harta, ketulusan, keimanan, ketakwaan, atau kebaikan yang seperti apa, sih? Belum pula kerja, punya rumah, punya santri, atau yang lainnyalah. Geraaaammm gitu rasanya!!!! Belum juga punya satu istri dan belum membiayai seorang istri sudah ada niatan mau minang anak orang kembali. Itu bukan menolong! Sekelebat nafsu! Toh, kalau sudah berumah tangga kelak, suatu saat dia akan tahu realitas. Menjadi kaya raya itu tidak mudah, memiliki banyak santri itu hal yang sulit, bahkan mungkin masih terlilit utang sana sini nanti.

Mati-matian perempuan jaga hati bahkan tubuhnya untuk manusia yang mengimaminya. Mati-matian perempuan membungkus dirinya agar tidak dikerubuti lalat jorok. Mati-matian perempuan menjaga kehormatan suaminya. Lalu, apa yang dilakukan oleh lelaki. Dengan mudahnya memuslihatkan niat. Alasan menolong perempuan lain biar tidak terjebak maksiatlah, biar enggak bunuh dirilah, atau apa pun itu. Saya tahu itu perbuatan mulia. Tetapi, please, jangan sampai membicarakan di hadapan saya atau perempuan yang belum menjadi istri Anda.

Alasan poligami tanpa ada fakta yang sebenarnya di hadapanmu itu terlihat sekali alasan NAFSU! Bener-bener ASU! Maksudnya itu naluri hewani. Silakanlah ngobrol itu nanti, di hadapan istrimu sendiri dengan fakta yang benar adanya seperti itu. Jangan mengkhayal yang bukan-bukan. Khayalan itu daya tipu SETAN.

Pada hakikatnya tidak ada perempuan yang mau dilakukan hal ini, dimadu atau dipoligami.
Jika perempuan mengikhlaskan dirinya diperlakukan seperti itu dalam hatinya tetap teriris oleh tajamnya pisaumu. Begitu pula dengan perempuan yang memadu istri orang, dia akan hidup dengan resah. Dihantui rasa bersalah. Dan suatu hari nanti dia akan melakukan dua hal kemungkinan yang tidak diinginkan. Yakni, mengambil hati suami dari istri pertama sepenuhnya atau pergi meninggalkan suami bersama istri pertamanya. Itu adalah kemungkinan paling mentok. Jika saja istri pertama dan kedua rukun dan harmonis, itu sebab Tuhan yang menjadikannya begitu bersama lapangnya rezekimu

Tetap saja saya, perempuan, mewakili suara hati perempuan dunia, sangat tidak suka pada laki-laki yang belum memiliki sesuatu, namun berniat untuk mempoligami calon istrinya kelak. Kalau memang itu terjadi, biar atas kehendak-Nya, tanpa perlu utarakan kemauan pada manusia lain. Hal itu hanya akan menyakiti hati perempuan saja, makhluk terrapuh dengan kemasan makhluk terkuat.

 Jika seorang berkata, “Poligami adalah jalan menuju surga”

Perempuan bisa menjawab, “Banyak jalan menuju Roma. Begitu pula dengan surga. Banyak jalan menuju surga!”

Saya sangat sangat tidak suka berbicara topik poligami dengan laki-laki yang belum memiliki apa-apa, apalagi laki-laki yang seumuran atau sedikit lebih tua daripada saya. Jika laki-laki berumur dan sudah memiliki istri, maka saya akan tetap geram dengan menyembulkan amarah yang tak bersungut-sungut.

Jangan pernah membicarakan topik poligami di hadapan perempuan yang harapanmu akan jadi istrimu kelak. Sudah pasti nama dan raut mukamu akan dicoret dari daftar suami idamannya. Sudah illfill. Pasti akan dihilangkan dengan cepat, perlahan, atau paksa jika nama kamu sempat memenuhi jagad hatinya.
Ini bukan masalah keegoisan. Ini hanya masalah hati yang selalu diutamakan oleh perempuan. Seorang perempuan tak mau menyakiti perempuan lain. perempuan pun tak mau disakiti lelaki. Entahlah pada kasus perempuan lain. Saya rasa tulisan ini mewakili perempuan Indonesia.

Rasakan! Rerata laki-laki di Indonesia hanya memiliki satu istri. Syukur hidup di negara Indonesia, negara berkembang. Jika Indonesia jadi negara maju, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada kaum perempuan, pun kaum laki-laki.

Read more