Berbicara dengan Pram sama dengan berbicara
dengan sejarah Indonesia. Beliau yang pandai berkisah mampu menyajikan cerita
masa silam untuk semua lapisan masyarakat, baik di dalam negeri atau di luar
negeri maupun remaja atau dewasa. Gaya tidak menggurui itu memudahkan
sasaran/pembaca menerima pesan yang ingin disampaikan olehnya.
Pada karya-karya
Pram yang sudah dibaca, yakni tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa,
Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), Arok Dedes, dan Arus Balik, terdapat kaitannya
dengan cita-cita (baca: cita-cita penulis).
Flash back on
Sejak kecil,
sekitar umur 7 tahun aku sudah punya cita-cita. Jadi guru. Cita-cita yang mulia
dan tak pernah goyah meski diterjang zaman. Kulihat kawanku, cita-cita masa SD
adalah dokter, saat SMP berubah jadi guru, dan generasi SMA bersiap dengan
profesi psikolog. Seiring perkembangannya, ia berkuliah di fakultas ekonomi. Lalu,
sebenarnya cita-cita kawanku itu apa? Jawaban dia, sesuai permintaan zaman (opo
jare Gusti Allah), pasrah pada takdir. Toh, kuliah dengan profesi
masa kini itu enggak ada hubungannya. Fakta, kuliah teknik elektro,
ujung-ujungnya kerja di bagian pemasaran. Tetapi, menurutku, setidaknya manusia
bisa buat ilmu yang pernah dipelajarinya bermanfaat lebih baik lagi.
Awalnya aku
bersyukur cita-cita sebagai guru sesuai pada pendidikanku. Aku pun beruntung
tak jadi seorang yang galau cita-cita layaknya mereka. Namun, makin kudalami
dunia pendidikan, aku mulai muak di dalamnya. Terlalu banyak sistem yang
mengatur siswa dan guru yang dibuat pemerintah, tentang kurikulum, evaluasi,
telaah buku teks, strategi pembelajaran, perencanaan pembelajaran, dan lain
sebagainya. Yang bikin gemas itu teori-teori yang disuguhkan terlalu banyak,
padahal berbeda dengan fakta lapangan dan penerapannya.
Kegalauanku
mengantarkan pula pada ingatan beberapa tahun lalu. Seorang bapak temanku
bertanya tentang cita-cita. Beliau memancingku dengan pertanyaan-pertanyaan
unik yang mengarah pada hakikat guru. Bagiku, guru tak hanya mereka yang berada
di sekolah atau ada di depan murid untuk menjelaskan pelajaran. Siapa pun dapat
menjadi guru dalam keadaan bagaimana pun, di mana pun, kapan pun, dan ilmu apa
pun itu, yang penting sifatnya bermanfaat. Bahkan, bapak temanku yang sedang
berbincang-bincang bisa saja kuanggap guru.
Setelah
mendengar pendapatku, lantas bapak itu melempar kata yang mengejutkanku,
“Berarti sebenarnya cita-citamu bukan jadi guru, Mbak.”
“Loh,
kok bisa gitu, Pak?” tanyaku sedikit menyentak.
“Kalau semua
bisa jadi guru, kenapa profesi yang kamu pilih guru. Guru sebagai profesi atau
pekerjaan itu, ya, berkecimpung dalam sekolah, murid, pemerintah.
“Coba
pikirkan sekali lagi, apakah benar profesi yang kamu inginkan adalah seorang
guru.”
Pertemuanku
dengan beliau membuatku sedikit skeptis, tetapi aku brhasil menepisnya dengan
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, kuliah di jurusan
pendidikan. Sampai saat ini, keraguan bapak itu benar. Buktinya, aku muak pada
sistem pendidikan di Indonesia. Ketika perasaan itu menyerangku, aku baru sadar
guru adalah cita-cita ibuku. Sadar atau tidak, ibuku membentuk opini cita-citaku
sejak kecil. Beliau sering menjelaskan betapa mulianya profesi seorang guru.
Memang
sedikit melelahkan perjalananku menemukan cita-cita. InsyaAllah kali ini mantap.
Jika Tuhan meridai, alam merestui, dan orang tua mendoakan, maka profesi dosen
akan kusabet. Setidaknya, profesi tersebut tak menjadikan pribadi termakan
sistem seutuhnya. Sasaran mahasiswa itu tepat untuk mendistribusikan pemikiran
dan pergolakan batin tentang kebusukan sistem yang mampu menikam kehidupan
idealisme seseorang.
KBBI
menjelaskan bahwa idealisme merupakan aliran
ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang
benar yang dapat dicamkan dan dipahami. Arti lain adalah hidup atau berusaha
hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna.
Soal idealisme, karya Pram merangkum beberapa kebenaran dan
cita-citanya untuk Indonesia, khususnya pulau Jawa. Cita-cita Pram yang tinggi
dan sempurna itu menyadarkan pembaca untuk membangun peradaban baru yang lebih
maju. Beliau telah mengisahkan sejarah Indonesia yang pernah mengalami
gilang-gemilang melalui kekuatan laut. Pram juga mengajak pembaca untuk
mendobrak pakem-pakem budaya Jawa yang bisa memrosotkan rakyat. Selain itu, Pram
juga menjelaskan tentang patriarkat yang sangat kental dan budaya perempuan
yang dihinakan/tak diberi kedudukan.
Pada karya-karya yang telah dibaca, Pram menyajikan bahwa
kebenaran dapat disampaikan oleh siapa saja, sekalipun dari anak desa, seperti
tokoh Wiranggaleng, Arok, Minke atau Nyai Ontosoroh. Namun, dari pembelajaran
bersama karya-karyanya, setiap orang yang menyampaikan kebenaran belum tentu
dapat dipanggil guru. Karena pada hakikatnya, guru memiliki ilmu pengetahuan
dan wawasan yang luas, sehingga segala yang disampaikan dan diajarkannya
mengandung nilai-nilai moral yang mampu membuka pikiran muridnya. Guru pandai
membaca keadaan masa depan dengan berkaca pada masa lalu dan masa kini.
Misalnya, tokoh Rama Cluring dalam novel Arus Balik yang merupakan guru dari
Wiranggaleng dan Idayu. Beliau peduli pada mereka berdua, sehingga
nasihat-nasihat yang keluar pun merupakan pesan untuk menghadapi masa depan
kelak. Wiranggaleng dan Idayu sangat menghormati Rama Cluring. Akibatnya, anak-anak
mereka pun dikenalkan dengan nasihat-nasihat Rama Cluring. Guru itu akan tetap
hidup dalam hati mereka, meskipun jasadnya sudah tiada.
Pada karya tetralogi Buru, Pram mengajarkan tentang
kebenaran yang dapat disampaikan dengan cara elegan atau gaya kaum intelek,
yakni melalui tulisan. Cara tersebut lebih didengar dan diperhatikan oleh
musuh. Senjata kata lebih bermakna daripada bambu runcing. Maksudnya, tulisan
merupakan bukti kebenaran yang autentik sebab terdapat kumpulan data yang
valid, relevan, dan akurat. Melalui tulisan, koreksi terhadap kebenaran zaman
dapat dipertanggungjawabkan dengan baik daripada melalui lisan yang berupa folklor
yang dapat divariasikan sesuai perkembangan zaman.
Kebenaran
itu takkan hilang dimakan zaman. Setiap manusia bisa menjadi penyampai
kebenaran. Kebenaran seperti norma dan aturan dalam masyarakat yang sifatnya
telah membudaya dapat dihanguskan seiring perkembangan zaman, jika hal ini menyangkut
pada pembangunan peradaban baru yang lebih baik. Sayangnya, cita-cita Pram
belum mampu direalisasikan oleh masyarakat Indonesia, khususnya para
pemimpinnya. Contoh, Pram telah menjelaskan bahwa wilayah perairan Indonesia
lebih luas dari daratan, sehingga kegemilangan Indonesia akan mudah diraih
dengan mengembangkan wilayah perairan. Presiden Jokowi telah memiliki pola
pikir tersebut, namun bukti real itu belum terjadi. Kasus akhir-akhir ini
berkenanan dengan sistem pertahanan negara wilayah perairan sedikit kacau. Beberapa
Anak Buah Kapal (ABK) berhasil disandera oleh pasukan Abu Sayyaf di Filipina. Sandera
adalah orang yang dijadikan jaminan dan dapat dibunuh sewaktu-waktu. Perlindungan
untuk rakyat dengan profesi nelayan kurang diperhatikan. Di sini adalah letak
ketegasan negara yang harus diperhatikan sebelum mengembangkan wilayah
perairan.
Kasus yang
terjadi di Indonesia takkan menimpa negara dan merugikan rakyatnya jika mereka
berhasil menumpas kedunguan atau kebodohan serta keserakahan. Dengan ilmu yang dibimbing
oleh guru, InsyaAllah kebenaran merupakan keniscayaan yang membentuk Indonesia menjadi
lebih baik dan maju. Terlebih jika pemimpin mampu menyatukan rakyat Indonesia.
Tak bertindak seperti Trenggono yang bebal dan serakah yang memerangi kawan
layaknya musuh, begitu sebaliknya. InsyaAllah, cita-cita penulis sebagai dosen
akan memudahkan perbuatan budiman, menanamkan dan menghidupkan idealisme Pram
pada mahasiswa-mahasiswanya.
*) Penulis S. Haryani C.
mahasiswa
Unesa, JBSI.
