Sabtu, 25 Juni 2016

CITA-CITA MENANAMKAN IDEALISME PRAM*)


Berbicara dengan Pram sama dengan berbicara dengan sejarah Indonesia. Beliau yang pandai berkisah mampu menyajikan cerita masa silam untuk semua lapisan masyarakat, baik di dalam negeri atau di luar negeri maupun remaja atau dewasa. Gaya tidak menggurui itu memudahkan sasaran/pembaca menerima pesan yang ingin disampaikan olehnya.

Pada karya-karya Pram yang sudah dibaca, yakni tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), Arok Dedes, dan Arus Balik, terdapat kaitannya dengan cita-cita (baca: cita-cita penulis).

Flash back on
Sejak kecil, sekitar umur 7 tahun aku sudah punya cita-cita. Jadi guru. Cita-cita yang mulia dan tak pernah goyah meski diterjang zaman. Kulihat kawanku, cita-cita masa SD adalah dokter, saat SMP berubah jadi guru, dan generasi SMA bersiap dengan profesi psikolog. Seiring perkembangannya, ia berkuliah di fakultas ekonomi. Lalu, sebenarnya cita-cita kawanku itu apa? Jawaban dia, sesuai permintaan zaman (opo jare Gusti Allah), pasrah pada takdir. Toh, kuliah dengan profesi masa kini itu enggak ada hubungannya. Fakta, kuliah teknik elektro, ujung-ujungnya kerja di bagian pemasaran. Tetapi, menurutku, setidaknya manusia bisa buat ilmu yang pernah dipelajarinya bermanfaat lebih baik lagi.

Awalnya aku bersyukur cita-cita sebagai guru sesuai pada pendidikanku. Aku pun beruntung tak jadi seorang yang galau cita-cita layaknya mereka. Namun, makin kudalami dunia pendidikan, aku mulai muak di dalamnya. Terlalu banyak sistem yang mengatur siswa dan guru yang dibuat pemerintah, tentang kurikulum, evaluasi, telaah buku teks, strategi pembelajaran, perencanaan pembelajaran, dan lain sebagainya. Yang bikin gemas itu teori-teori yang disuguhkan terlalu banyak, padahal berbeda dengan fakta lapangan dan penerapannya.

Kegalauanku mengantarkan pula pada ingatan beberapa tahun lalu. Seorang bapak temanku bertanya tentang cita-cita. Beliau memancingku dengan pertanyaan-pertanyaan unik yang mengarah pada hakikat guru. Bagiku, guru tak hanya mereka yang berada di sekolah atau ada di depan murid untuk menjelaskan pelajaran. Siapa pun dapat menjadi guru dalam keadaan bagaimana pun, di mana pun, kapan pun, dan ilmu apa pun itu, yang penting sifatnya bermanfaat. Bahkan, bapak temanku yang sedang berbincang-bincang bisa saja kuanggap guru.

Setelah mendengar pendapatku, lantas bapak itu melempar kata yang mengejutkanku, “Berarti sebenarnya cita-citamu bukan jadi guru, Mbak.”

Loh, kok bisa gitu, Pak?” tanyaku sedikit menyentak.

“Kalau semua bisa jadi guru, kenapa profesi yang kamu pilih guru. Guru sebagai profesi atau pekerjaan itu, ya, berkecimpung dalam sekolah, murid, pemerintah.

“Coba pikirkan sekali lagi, apakah benar profesi yang kamu inginkan adalah seorang guru.”

Pertemuanku dengan beliau membuatku sedikit skeptis, tetapi aku brhasil menepisnya dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, kuliah di jurusan pendidikan. Sampai saat ini, keraguan bapak itu benar. Buktinya, aku muak pada sistem pendidikan di Indonesia. Ketika perasaan itu menyerangku, aku baru sadar guru adalah cita-cita ibuku. Sadar atau tidak, ibuku membentuk opini cita-citaku sejak kecil. Beliau sering menjelaskan betapa mulianya profesi seorang guru.

Memang sedikit melelahkan perjalananku menemukan cita-cita. InsyaAllah kali ini mantap. Jika Tuhan meridai, alam merestui, dan orang tua mendoakan, maka profesi dosen akan kusabet. Setidaknya, profesi tersebut tak menjadikan pribadi termakan sistem seutuhnya. Sasaran mahasiswa itu tepat untuk mendistribusikan pemikiran dan pergolakan batin tentang kebusukan sistem yang mampu menikam kehidupan idealisme seseorang.

KBBI menjelaskan bahwa idealisme merupakan aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami. Arti lain adalah hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna.

Soal idealisme, karya Pram merangkum beberapa kebenaran dan cita-citanya untuk Indonesia, khususnya pulau Jawa. Cita-cita Pram yang tinggi dan sempurna itu menyadarkan pembaca untuk membangun peradaban baru yang lebih maju. Beliau telah mengisahkan sejarah Indonesia yang pernah mengalami gilang-gemilang melalui kekuatan laut. Pram juga mengajak pembaca untuk mendobrak pakem-pakem budaya Jawa yang bisa memrosotkan rakyat. Selain itu, Pram juga menjelaskan tentang patriarkat yang sangat kental dan budaya perempuan yang dihinakan/tak diberi kedudukan.

Pada karya-karya yang telah dibaca, Pram menyajikan bahwa kebenaran dapat disampaikan oleh siapa saja, sekalipun dari anak desa, seperti tokoh Wiranggaleng, Arok, Minke atau Nyai Ontosoroh. Namun, dari pembelajaran bersama karya-karyanya, setiap orang yang menyampaikan kebenaran belum tentu dapat dipanggil guru. Karena pada hakikatnya, guru memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas, sehingga segala yang disampaikan dan diajarkannya mengandung nilai-nilai moral yang mampu membuka pikiran muridnya. Guru pandai membaca keadaan masa depan dengan berkaca pada masa lalu dan masa kini. Misalnya, tokoh Rama Cluring dalam novel Arus Balik yang merupakan guru dari Wiranggaleng dan Idayu. Beliau peduli pada mereka berdua, sehingga nasihat-nasihat yang keluar pun merupakan pesan untuk menghadapi masa depan kelak. Wiranggaleng dan Idayu sangat menghormati Rama Cluring. Akibatnya, anak-anak mereka pun dikenalkan dengan nasihat-nasihat Rama Cluring. Guru itu akan tetap hidup dalam hati mereka, meskipun jasadnya sudah tiada.

Pada karya tetralogi Buru, Pram mengajarkan tentang kebenaran yang dapat disampaikan dengan cara elegan atau gaya kaum intelek, yakni melalui tulisan. Cara tersebut lebih didengar dan diperhatikan oleh musuh. Senjata kata lebih bermakna daripada bambu runcing. Maksudnya, tulisan merupakan bukti kebenaran yang autentik sebab terdapat kumpulan data yang valid, relevan, dan akurat. Melalui tulisan, koreksi terhadap kebenaran zaman dapat dipertanggungjawabkan dengan baik daripada melalui lisan yang berupa folklor yang dapat divariasikan sesuai perkembangan zaman.

Kebenaran itu takkan hilang dimakan zaman. Setiap manusia bisa menjadi penyampai kebenaran. Kebenaran seperti norma dan aturan dalam masyarakat yang sifatnya telah membudaya dapat dihanguskan seiring perkembangan zaman, jika hal ini menyangkut pada pembangunan peradaban baru yang lebih baik. Sayangnya, cita-cita Pram belum mampu direalisasikan oleh masyarakat Indonesia, khususnya para pemimpinnya. Contoh, Pram telah menjelaskan bahwa wilayah perairan Indonesia lebih luas dari daratan, sehingga kegemilangan Indonesia akan mudah diraih dengan mengembangkan wilayah perairan. Presiden Jokowi telah memiliki pola pikir tersebut, namun bukti real itu belum terjadi. Kasus akhir-akhir ini berkenanan dengan sistem pertahanan negara wilayah perairan sedikit kacau. Beberapa Anak Buah Kapal (ABK) berhasil disandera oleh pasukan Abu Sayyaf di Filipina. Sandera adalah orang yang dijadikan jaminan dan dapat dibunuh sewaktu-waktu. Perlindungan untuk rakyat dengan profesi nelayan kurang diperhatikan. Di sini adalah letak ketegasan negara yang harus diperhatikan sebelum mengembangkan wilayah perairan.

Kasus yang terjadi di Indonesia takkan menimpa negara dan merugikan rakyatnya jika mereka berhasil menumpas kedunguan atau kebodohan serta keserakahan. Dengan ilmu yang dibimbing oleh guru, InsyaAllah kebenaran merupakan keniscayaan yang membentuk Indonesia menjadi lebih baik dan maju. Terlebih jika pemimpin mampu menyatukan rakyat Indonesia. Tak bertindak seperti Trenggono yang bebal dan serakah yang memerangi kawan layaknya musuh, begitu sebaliknya. InsyaAllah, cita-cita penulis sebagai dosen akan memudahkan perbuatan budiman, menanamkan dan menghidupkan idealisme Pram pada mahasiswa-mahasiswanya.

*) Penulis S. Haryani C.
mahasiswa Unesa, JBSI.


Read more