Senin, 05 Desember 2016

TENTANG PEREMPUAN


Jagat hati saya digonjang-ganjingkan oleh seorang teman lelaki. Ini memang bukan kali pertama saya menemui laki-laki yang menyelorohkan pikiran nafsunya di hadapan saya. Memang, ini bukanlah pelecehan seksual. Tetapi, hal ini membuat buruk mood saya.  Hati saya jadi resah.

Mengapa coba, laki-laki selalu punya niatan memadu istrinya sendiri? Istilah lainnya adalah poligami. Padahal yang dia punya sebenarnya apa? Harta, ketulusan, keimanan, ketakwaan, atau kebaikan yang seperti apa, sih? Belum pula kerja, punya rumah, punya santri, atau yang lainnyalah. Geraaaammm gitu rasanya!!!! Belum juga punya satu istri dan belum membiayai seorang istri sudah ada niatan mau minang anak orang kembali. Itu bukan menolong! Sekelebat nafsu! Toh, kalau sudah berumah tangga kelak, suatu saat dia akan tahu realitas. Menjadi kaya raya itu tidak mudah, memiliki banyak santri itu hal yang sulit, bahkan mungkin masih terlilit utang sana sini nanti.

Mati-matian perempuan jaga hati bahkan tubuhnya untuk manusia yang mengimaminya. Mati-matian perempuan membungkus dirinya agar tidak dikerubuti lalat jorok. Mati-matian perempuan menjaga kehormatan suaminya. Lalu, apa yang dilakukan oleh lelaki. Dengan mudahnya memuslihatkan niat. Alasan menolong perempuan lain biar tidak terjebak maksiatlah, biar enggak bunuh dirilah, atau apa pun itu. Saya tahu itu perbuatan mulia. Tetapi, please, jangan sampai membicarakan di hadapan saya atau perempuan yang belum menjadi istri Anda.

Alasan poligami tanpa ada fakta yang sebenarnya di hadapanmu itu terlihat sekali alasan NAFSU! Bener-bener ASU! Maksudnya itu naluri hewani. Silakanlah ngobrol itu nanti, di hadapan istrimu sendiri dengan fakta yang benar adanya seperti itu. Jangan mengkhayal yang bukan-bukan. Khayalan itu daya tipu SETAN.

Pada hakikatnya tidak ada perempuan yang mau dilakukan hal ini, dimadu atau dipoligami.
Jika perempuan mengikhlaskan dirinya diperlakukan seperti itu dalam hatinya tetap teriris oleh tajamnya pisaumu. Begitu pula dengan perempuan yang memadu istri orang, dia akan hidup dengan resah. Dihantui rasa bersalah. Dan suatu hari nanti dia akan melakukan dua hal kemungkinan yang tidak diinginkan. Yakni, mengambil hati suami dari istri pertama sepenuhnya atau pergi meninggalkan suami bersama istri pertamanya. Itu adalah kemungkinan paling mentok. Jika saja istri pertama dan kedua rukun dan harmonis, itu sebab Tuhan yang menjadikannya begitu bersama lapangnya rezekimu

Tetap saja saya, perempuan, mewakili suara hati perempuan dunia, sangat tidak suka pada laki-laki yang belum memiliki sesuatu, namun berniat untuk mempoligami calon istrinya kelak. Kalau memang itu terjadi, biar atas kehendak-Nya, tanpa perlu utarakan kemauan pada manusia lain. Hal itu hanya akan menyakiti hati perempuan saja, makhluk terrapuh dengan kemasan makhluk terkuat.

 Jika seorang berkata, “Poligami adalah jalan menuju surga”

Perempuan bisa menjawab, “Banyak jalan menuju Roma. Begitu pula dengan surga. Banyak jalan menuju surga!”

Saya sangat sangat tidak suka berbicara topik poligami dengan laki-laki yang belum memiliki apa-apa, apalagi laki-laki yang seumuran atau sedikit lebih tua daripada saya. Jika laki-laki berumur dan sudah memiliki istri, maka saya akan tetap geram dengan menyembulkan amarah yang tak bersungut-sungut.

Jangan pernah membicarakan topik poligami di hadapan perempuan yang harapanmu akan jadi istrimu kelak. Sudah pasti nama dan raut mukamu akan dicoret dari daftar suami idamannya. Sudah illfill. Pasti akan dihilangkan dengan cepat, perlahan, atau paksa jika nama kamu sempat memenuhi jagad hatinya.
Ini bukan masalah keegoisan. Ini hanya masalah hati yang selalu diutamakan oleh perempuan. Seorang perempuan tak mau menyakiti perempuan lain. perempuan pun tak mau disakiti lelaki. Entahlah pada kasus perempuan lain. Saya rasa tulisan ini mewakili perempuan Indonesia.

Rasakan! Rerata laki-laki di Indonesia hanya memiliki satu istri. Syukur hidup di negara Indonesia, negara berkembang. Jika Indonesia jadi negara maju, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada kaum perempuan, pun kaum laki-laki.

Read more

Selasa, 11 Oktober 2016

NGEBLOG = CATATAN HARIAN

Editing by Merry PUW: Kebersamaan kami mengaksi dan merefleksi

Ketika saya mampir ke alamat blog kalian, saya kaget dan senang. Ternyata, kalian masih siap berbagi kisah kehidupan kalian untuk orang-orang yang ada dalam kehidupan. Berbagi itu bukan perkara yang mudah. Apalagi di blog. Mesti nulislah, ngetik, maketin data internet, nebeng WiFi, ngunggah, ngasih label, ngatur jadwal, lalu mublis (mempublikasikan). Itu semua memang bukan perkara mudah atau sulit, tetapi itu soal mau atau tidak mau. Kalian memang Dik-adik saya yang luar biasa. Sedikit mengamalkan pemberian saya dari kakek moyang adalah hal yang istimewa, apalagi jika itu menginspirasi orang lain. Dapat pahala berlipat kalian! Sungguh! Buatlah catatan harian setiap hari. Sebisa mungkin raba dan rangkul dengan bahasa kalian pada kisah hidup yang sudah Tuhan tuliskan. Biarkan Tuhan tahu makhlukNya mulai berkembang lebih baik lagi.
Tahu kalian, apa hakikat “catatan harian”?

Refleksi. Menurut KBBI offline saya yang tersimpan dalam memori Ibasky,
refleksi /réfléksi/ n 1 gerakan, pantulan di luar kemauan (kesadaran) sbg jawaban suatu hal atau kegiatan yg datang dr luar: penyair pd hakikatnya adalah suatu -- dr masyarakat sekelilingnya; 2 gerakan otot (bagian badan) yg terjadi krn suatu hal dr luar dan di luar kemauan atau kesadaran; 3 ki cerminan; gambaran: penggunaan bahasa merupakan -- dr kecintaan thd bahasa itu;

Coba amati dan pahami pada makna ini, “pantulan di luar kemauan (kesadaran) sebagai jawaban suatu hal atau kegiatan yang datang dari luar”. Pantulan berarti cermin. Sifat cermin itu jujur, berbicara apa adanya soal kelebihan dan kekuranganmu, jadi diri sendiri. Di luar kemauan (kesadaran) memiliki makna alam bawah sadar, maksudnya tidak dalam posisi sadar. Jawaban adalah kunci dari segudang persoalan. Suatu hal atau kegiatan yang datangnya dari luar merupakan segala sesuatu yang kamu ungkapkan (expressing), kreasikan (creating), dan aksikan (acting). Pokoknya soal eksternal dari dirimu. Nah, setelah dibredel jadi punya simpulan sendiri kan soal refleksi?

Refleksi itu kegiatan bercermin kembali yang dilakukan oleh diri sendiri secara jujur mengenai segala sesuatu yang sudah dilakukan, dirasakan, dan diamalkan untuk menyiapkan diri jadi lebih baik pada hari ini dan esok hari. Segala sesuatu yang dilakukan, dirasakan, dan diamalkan itu seperti jenis bangun segitiga siku-siku. Ada rumus pytagoras untuk mengetahui presisinya ukuran. Begitu juga dalam hidup, kita bisa jadi pandai sebab belajar dari kesalahan yang pernah dibuat pada masa silam. Caranya jadi pandai? Ya, dengan sering-sering berefleksi.
Text Box: Dilakukan
3
Text Box: Diamalkan
5
Text Box: Dirasakan
4


Diamalkan memang lebih panjang ukurannya sebab ada banyak muatan di dalamnya. Amalan berasal dari ilmu yang diberikan. Hubungannya langsung menuju rasa dan laku. Ayo, ingat kembali rumus pytagoras dalam mencari sisi miring! Akar dari sisi datar dikuadratkan plus sisi tegak dikuadratkan, kan? Nah, itu juga. Gabungan dari kedua sisi.

Pengamalan = Akar dari sisi perasaan dikuadratkan plus sisi perbuatan dikuadratkan.
Amalan adalah menerapkan kebaikan atas dasar ilmu dan pengetahuan yang dimiliki. Amalan dilakukan secara sadar, sesadar-sadarnya kamu memahami manfaat dan mudaratnya. Jika tahu itu amalan baik, insyaAllah baik tuh! Tetapi, jika paham itu mudarat (tidak mendatangkan keuntungan dalam usaha mendekatkan pada Tuhan), maka lebih baik ditinggalkan.

Yang dirasakan saya tempatkan secara vertikal sebab perasaan atau hati bersifat sensitif. “Hari ini saya sangat cinta padamu, namun besok saya bisa benci padamu.” Hubungan manusia kepada Tuhan juga dapat dianalogikan dengan garis vertikal. Sehingga apa pun yang kita perbuat sebagian besar memang memengaruhi perasaan orang lain. Tapi, jika Tuhan, Yang Maha pembolak-balik hati dan perasaan tidak berkenan menjadikan benci karena perbuatan buruk kita pada seseorang, maka wajar-wajar saja. Toh, nilai perasaan memang lebih tinggi daripada nilai perbuatan. Segalanya kembali lagi pada sang Maha Lembut dan Maha Pembolak-balik hati. Bisa jadi, kriteria teman saya selalu tidak berkata jorok, tidak suka ngerokok, pemalas, dll. Namun, kenyataannya saya senang berteman dengan kamu, yang iseng berkata jorok, hobi rokokan, dan terlalu santai. Bukannya illfill, ini malah nempel. Hihihih.   
Gampang, kan, memahami segitiga refleksi?

Ayo, ayo, refleksikan kehidupanmu dalam catatan harian. InsyaAllah bisa sampai pada rumus pytagoras segitiga refleksi yang sempurna. Itu rumus luar biasa dan istimewa! Menginspirasi banyak orang.
Refleksi itu bisa juga dimaknakan sebagai renungan atau tadaburan.

SEMANGATTTTT!!!


Surabaya, 28 September 2016
Read more

Selasa, 27 September 2016

SURAT SESASI UNTUK DIK-ADIKKU TERCINTA


Adik Arif Cinta, Adik Listya Sayang, dan Adik Ervinna Kasih, saya membuat surat ini atas dasar keinginan hati saya. Bukan karena apa-apa, bagaimana, dan mengapa, hanya mengungkapkan perasaan saja. Banyak harapan dan cita-cita sederhana yang harus kalian wujudkan. Jangan merasa sok peka dan tahu betul keinginan saya, ya, (meskipun kalian memang peka dan tahu) sebelum kalian membaca seutuhnya tulisan saya, Dik Adik cinta.

Pertemuan pertama: tes interview di depan gedung T2

Kali pertama berjumpa dengan Dik Arif, Dik Listya dan Dik Ervinna di depan gedung T2 dengan momen interview, saya sangat bahagia. Betapa tidak? Saya, tepatnya kami, sudah berjanji dalam diri untuk memedulikan kalian semua. Secercah harapan masa depan kelangsungan hidup pers dari kalian. Saya, Mbak Merry, Mas Faris, bahkan Mbak Ceker begitu menanti kehadiran kalian. Dulunya kami bingung Sesasi mau dibawa ke mana. Begitu tahu kalian bertiga plus satu pendaftar lagi, kalianlah motivasi dan amunisi penyemangat kami. Saya yakin ini takdir. Hati kalian sendiri yang bergerak dan memilih Sesasi sebagai jembatan jalan masa depan, pengembang potensi dalam diri, dan mengenal lebih dari arti hidup ini; soal pengalaman, relasi, serta ilmu, dan lain-lainnya. Sebab kalian pula, kami rela menghidupkan Sesasi kembali. Saya yakin dan percaya seutuhnya, kalian bisa membantu kami untuk berkarya lebih baik lagi. Secara tidak langsung, kalianlah generasi penerus kami, kalian yang menjaga kehidupan Sesasi. Sesasi butuh Dik Arif yang jago layout, bikin cover, bikin grafis, dan semua-muanya yang berhubungan corel draw dan kawan-kawannya. Sesasi juga butuh Dik Listya yang jago mikir dan semangat belajar buat berita dan tulisan. Sesasi juga perlu Dik Ervinna yang senang menjaga hubungan baik kepada orang-orang dan suka mengeksiskan Sesasi via online juga offline. Kalian bertiga adalah sinergi yang tidak dapat dipisahkan, saling melengkapi dan punya kebermaknaan masing-masing. Ini takdir, Dik Adikku cinta!

Untuk Dik Arif Cinta, saya rasa ini masalah paling krusial jika kehidupan pers tanpa layouter dan grafis. Percuma, Adik Cinta! Ada berita, tapi tak bisa disajikan. Akan mubazir segala pengorbanan kami, cari berita ke sana ke mari untuk zat kehidupan Sesasi, mem-branding nama-nama pengisinya, menginspirasi banyak orang, membangkitkan semangat pembaca, dan yang paling pasti adalah membangun rasa kemanusiaan umat. Saya rasa banyak hal penting yang harus Adik gali lebih dalam makna pers dalam kehidupan.

Pada Dik Listya dan Dik Ervinna, kalian berdua adalah penyokong Dik Arif agar selalu tegar dan kokoh berdiri. Intinya, kalian amunisi penyemangat Dik Arif. Seperti tumbuhan dengan bagian-bagian pentingnya; akar, batang, dan daun.   Akar bisa dianalogikan sebagai Dik Listya dan Dik Ervinna (penyokong), sedangkan Dik Arif adalah batang yang muncul ke permukaan tanah. Mengapa begitu? Tanaman tumbuh karena adanya beberapa biji (anggap saja itu Mbak, dkk). Biji-biji itu akan berevolusi menjadi akar dan batang, melahirkan kalian (Dik Arif, Dik Listya, dan Dik Ervinna). Dedaunan itu bisa diibartakan sebagai pembaca/penggemar. Jika daun itu hijau dan lebat, hal itu mengindikasi baiknya sinergi kalian dalam proses fotosintesis. Entah pengembangan diri yang bagaimana, kalian berhasil menyuguhkan produk terbaik untuk menciptakan pembaca-pembaca super. Namun, sebaliknya, jika daun-daun itu kering kerontang dan gersang, maka akan hilang daun-daunnya dengan sendirinya. Itu artinya tak ada pembaca/penggemar untuk yang menanti-nanti kehadiran keluaran kalian sebab karya kalian memang tidak ada. Bila kalian baik di dalamnya, terutama cara memroses, pasti akan jadi sinergi yang luar biasa. Semakin sukses, kalian akan menghasilkan buah-buahan. Di situ bisa dianalogikan sebagai sponsor yang membantu keberadaan dan segala keperluan kalian. Ya, sama seperti buah pada umumnya, mereka diburu banyak orang untuk dinikmati dagingnya. Orang-orang rela menukar pundi-pundi uang demi buah segar dan menyehatkan. Eits, tenang dulu, saya bicara soal tanaman pada umumnya; seperti mangga, jambu, dkk, bukan Rafflesia Arnoldi (heheheh). Eits lagi, saya tidak ngomong masalah untung rugi, hanya kebahagiaan bisa menginspirasi banyak orang karena karya-karya kita.

Saya rasa sampai di sini kalian paham, kehidupan Sesasi sesederhana kehidupan tanaman. Kami (Mbak, dkk) lahir dari kepedulian dan rasa kasih sayang. Kami mencoba jadi benih untuk melahirkan generasi yang baik demi kelangsungan hidup Sesasi. Kami ingin menanamkan kepedulian dan kasih sayang kami kepada kalian soal kehidupan Sesasi. Janganlah biarkan Sesasi hidup malang, sepi, sendiri, hampa bersama kalian yang pernah mencintainya. Saya yakin dengan sepenuh hati, hati kalian mencintai Sesasi, peduli dan sayang padanya. Peduli itu tak pernah mengharap balasan, mengasihi itu tak juga menanti imbalan, dan sayang itu selalu mengorbankan kepunyaannya (terutama waktu dan tenaga). Setulus apa pun kasih sayang itu, Tuhan Maha Tahu dan setiap yang dikasihi akan mengerti dan memohonkan pula pada Tuhan segala kemudahan dalam hidupnya.

Mbak sudah menjelaskan kepada kalian soal kepedulian. Materi itu kami dapatkan dari guru kami juga, Dik. Kalian tahu orang-orang yang paling diistimewakan dalam hidup itu siapa setelah Nabi Muhammad? Jawabannya memang orang tua, orang yang peduli dalam hidup kalian. Itu tidak diragukan lagi. Setelah itu, siapa? Guru. Orang-orang yang pandai dan berprikepadian luhur serta damai dan tenang hidupnya sebab mereka memuliakan guru di samping orang tua. Dan yang terakhir itu orang-orang yang benar-benar peduli padamu, soal kehidupanmu; latar belakang keluargamu, kesehatanmu, masalah pribadimu, masa lalumu, tugas kuliahmu, pekerjaanmu, organisasimu, dan segalanya tentang kamu. Pada orang-orang seperti inilah yang tak boleh diabaikan. Sungguh! Kedudukan mereka layaknya orang tua. 

Pertemuan kita adalah takdir, jangan anggap angin lalu. Sebab, doa-doa mereka selalu menggelantung dalam pikiran. Mereka mendukung apa pun pilihan yang terbaik bagi yang dpedulikan. Kalian harus hati-hati kepada mereka. Jangan pernah sakiti mereka dengan bejibun alasan. Karena doa mereka ada tanpa sepengetahuan kalian. Masih ingat dengan kisah Maling Kundang? Seperti itu kuasa ibu yang sakit hatinya. Seperti itu pula hukum karma; kekasih yang sepenuh hati mencintaimu, namun kau khianati begitu saja. Seperti itu juga angin berhembus kencang memporak-porandakan bangunan dengan sekejap.

Semua saling berkaitan dan berikatan, saling tarik menarik memberi semangat. Energi itu saling mengisi. Ingat Dik Adik; saya, Mbak Merry, Mas Faris, dan Mbak Ceker sangat siap menemani Adik ngerjain layout, membimbing menulis, atau memberi saran untuk generasi berikut kalian. Kami siap pol. Ingat dong perjuangan melek di Waroeng Bamboe, Cangkrukan, Angkringan SMP28, itu semua perjuangan yang tidak mungkin bisa terlupa. Indah sekali. Menghabiskan malam bersama kalian itu anugerah dan sesuatu yang menyenangkan. Saya sangat bersyukur.

Tengah malam di Waroeng Bamboe 

Sudah saya jelaskan sejak awal, jika kita adalah TIM dan KELUARGA SESASI. TIM itu bisa diartikan sebagai partner untuk bekerja sama. Tim yang solid itu pasti saling membantu. Nah, itu. Bekerja sesuai potensi dan kemampuan dalam bidangnya. Saya dan yang lainnya tidak jago layout, bukan jago tapi belum bisa; satu-satunya yang kami punya, satu-satunya harapan kami, ya memang, cuma Dik Arif seorang. KELUARGA itu saling peduli, menjaga, dan berharap selalu ada saat kalian membutuhkan. Persis, saya ingin membuat KK SESASI dengan anggota KK kalian semua.

Yakinlah kamu tidak sendiri. Masih ingatkah? Kami menemani Dik Arif ngelayout saja sampai larut malam di Warkop Bamboe atau Warkop Cangkrukan. Yang bisa kami lakukan, ya, untuk saat ini, hanya itu, memberi semangat Adik. Sengaja saya mengajak kalian bertahan sampai larut-larut begitu, ada maknanya. Percayalah! Hasil tidak akan mengkhianati. Proses itu menemani perjalananmu menuju sukses. Sebab pada hakikatnya, sukses itu soal perjalanan, bukan hasil. Tahu orang-orang berhasil dan sukses itu diundang ke talkshow acara televisi atau seminar-seminar, ngomong apa coba mereka? Perjalanan menuju sukses, proses kreatif mereka! Hasil itu hanya ibarat bonus dan efek kita berlelah-lelah. Jelas akan sangat berbeda hasil orang yang sudah tidur pukul 22.00 WIB dengan orang yang masih berjuang di luar menyelesaikan sesuatu hingga menjelang pagi, sampai pukul 00.01 lewat. Saya yakin, perjuangan itu sebab cinta dan sayang serta peduli pada SESASI.

Bekerja Bersama di Waroeng Bamboe

Mau pulang tengah larut

Masih ingat saya wajah puas dan bahagia Dik Listya, Dik Ervinna, serta Dik Arif dan yang lain saat terbit CAKRAWALA. Indah. Puas. Menyenangkan. Lega. Plong. ... (silakan diisi sendiri).

Belum lagi IDHUM.... Hmmm, sudah terpampang nyata via online. Menyejukkan!
Jujur, saya ingin menanamkan mindset kepada kalian, SESASI yang artinya satu bulan itu akan melahirkan produk setiap bulannya. Kumohon mengertilah Dik Adik. Itu sebab mengapa saya menarget kalian, men-deadline dengan seabrek tugas dan lain sebagainya. Toh, pers atau media akan mati jika tanpa karya/produk. Dunia pekerjaan itu lebih sulit dan susah daripada ini semua, Dik. Ini saya berikan pembelajaran buat kalian, agar kalian paham benar makna kehidupan ini.

Adik Arif merasa terbebani dengan semua tugas SESASI? Tolong jangan! Have fun saja! Kita belajar bersama, berkarya bahagia, bukan stress sama-sama. Saya ingin sekali mengagendakan jadwal kita, jalan-jalan ke luar setiap bulannya. Tapi, maaf baru bisa main ke UTM, SM. Senang kan ya ketemu orang-orang baru dalam hidup, nambah saudara. Nah, di sana kita dapat banyak pengalaman, ‘kan? 

Taman Kampus Orang :P

Foto Bersama di Pinggir Taman Kampus Orang

Di atas kapal menuju Madura

Makan Malam yang Terlalu Larut 

Oh, Tuhan, kumohon kalian jangan merasa terbebani. Toh, pekerjaan kalian akan lebih mudah dengan adanya generasi berikutnya. Banyak yang ingin mendaftarkan diri bergabung dalam TIM dan KELUARGA SESASI, loh. Sungguh! Mbak enggak bohong! Cobalah! Bertanggung jawablah atas segala sesuatu yang kalian pilih. Selesaikan sampai tuntas untuk indikasi kalian benar-benar menjaga amanah. Bagaimana pun keadaan kalian!

Ingatlah, kehidupan ini begitu mudah jika kalian tahu kunci dan gembok kehidupan. Dalam membuka gembok kehidupan ini hanya butuh empat kunci, Dik Adik. Itu sudah diajarkan Rasul Muhammad; jujur, amanah (dapat dipercaya/bertanggung jawab), tabligh (menyampaikan), dan fatonah (cerdas). Ayo, hargai pilihan Adik sendiri. Tuhan membuat ini semua untuk kamu. Ini semua merupakan rencanaNya. Percayalah, kalian bisa memberi makna untuk SESASI. SESASI perlu Dik Arif, Dik Listya, dan Dik Ervinna untuk menetaskan generasi-generasi unggul berikutnya. Bertahanlah untuk menemukan makna SESASI dalam hidup kalian masing-masing.
Terima kasih sudah menjadi TIM dan KELUARGA yang baik untuk Mbak Yani, Mbak Merry, Mas Faris, dan Mbak Ceker dalam membangun SESASI. Saat ini kita tengah membangun pondasi untuk SESASI. Generasi berikutnya, generasimu bersama yang baru, akan membangun apanya? Atap, dinding, jendela, atau yang lain? Terserah kalian. Yang penting kalian membangun, tidak meninggalkan begitu saja, membengkalaikannya untuk ditemu orang-orang yang takbertanggungjawab demi kepentingan pribadi. Banyak harapan di sana Dik Adik. Tak kurang orang yang ingin menguasai media pers demi kejahatan semata. Mbak harap, SESASI sudah menyatu dalam hati kalian. Sebab, SESASI sudah membuka hati lebar untuk kalian, SESASI sudah mencoba menyatukan hatinya dengan kalian? Apakah kalian sudah melakukan hal yang sama seperti SESASI? Tidak ada kata terlambat. Bukalah mata, hati, dan pikiran untuk SESASI. Sebab, Mbak peduli pada kalian bertiga. Kami bertiga siap jadi air untuk menyirami tanaman. Ya. Kalian, yang tergabung dalam TIM dan KELUARGA SESASI.

SEMANGAT GENERASI SESASIKU!!! KALIAN PASTI BISA!!!

dari Mbak-mbak dan Mas yang peduli pada kalian.... Peluk {()} Ciummm :*

Wajah Ceria di Cangkrukan Sahabat, SMP28 Surabaya


Surabaya, 27 September 2016
Read more

Sabtu, 25 Juni 2016

CITA-CITA MENANAMKAN IDEALISME PRAM*)


Berbicara dengan Pram sama dengan berbicara dengan sejarah Indonesia. Beliau yang pandai berkisah mampu menyajikan cerita masa silam untuk semua lapisan masyarakat, baik di dalam negeri atau di luar negeri maupun remaja atau dewasa. Gaya tidak menggurui itu memudahkan sasaran/pembaca menerima pesan yang ingin disampaikan olehnya.

Pada karya-karya Pram yang sudah dibaca, yakni tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), Arok Dedes, dan Arus Balik, terdapat kaitannya dengan cita-cita (baca: cita-cita penulis).

Flash back on
Sejak kecil, sekitar umur 7 tahun aku sudah punya cita-cita. Jadi guru. Cita-cita yang mulia dan tak pernah goyah meski diterjang zaman. Kulihat kawanku, cita-cita masa SD adalah dokter, saat SMP berubah jadi guru, dan generasi SMA bersiap dengan profesi psikolog. Seiring perkembangannya, ia berkuliah di fakultas ekonomi. Lalu, sebenarnya cita-cita kawanku itu apa? Jawaban dia, sesuai permintaan zaman (opo jare Gusti Allah), pasrah pada takdir. Toh, kuliah dengan profesi masa kini itu enggak ada hubungannya. Fakta, kuliah teknik elektro, ujung-ujungnya kerja di bagian pemasaran. Tetapi, menurutku, setidaknya manusia bisa buat ilmu yang pernah dipelajarinya bermanfaat lebih baik lagi.

Awalnya aku bersyukur cita-cita sebagai guru sesuai pada pendidikanku. Aku pun beruntung tak jadi seorang yang galau cita-cita layaknya mereka. Namun, makin kudalami dunia pendidikan, aku mulai muak di dalamnya. Terlalu banyak sistem yang mengatur siswa dan guru yang dibuat pemerintah, tentang kurikulum, evaluasi, telaah buku teks, strategi pembelajaran, perencanaan pembelajaran, dan lain sebagainya. Yang bikin gemas itu teori-teori yang disuguhkan terlalu banyak, padahal berbeda dengan fakta lapangan dan penerapannya.

Kegalauanku mengantarkan pula pada ingatan beberapa tahun lalu. Seorang bapak temanku bertanya tentang cita-cita. Beliau memancingku dengan pertanyaan-pertanyaan unik yang mengarah pada hakikat guru. Bagiku, guru tak hanya mereka yang berada di sekolah atau ada di depan murid untuk menjelaskan pelajaran. Siapa pun dapat menjadi guru dalam keadaan bagaimana pun, di mana pun, kapan pun, dan ilmu apa pun itu, yang penting sifatnya bermanfaat. Bahkan, bapak temanku yang sedang berbincang-bincang bisa saja kuanggap guru.

Setelah mendengar pendapatku, lantas bapak itu melempar kata yang mengejutkanku, “Berarti sebenarnya cita-citamu bukan jadi guru, Mbak.”

Loh, kok bisa gitu, Pak?” tanyaku sedikit menyentak.

“Kalau semua bisa jadi guru, kenapa profesi yang kamu pilih guru. Guru sebagai profesi atau pekerjaan itu, ya, berkecimpung dalam sekolah, murid, pemerintah.

“Coba pikirkan sekali lagi, apakah benar profesi yang kamu inginkan adalah seorang guru.”

Pertemuanku dengan beliau membuatku sedikit skeptis, tetapi aku brhasil menepisnya dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, kuliah di jurusan pendidikan. Sampai saat ini, keraguan bapak itu benar. Buktinya, aku muak pada sistem pendidikan di Indonesia. Ketika perasaan itu menyerangku, aku baru sadar guru adalah cita-cita ibuku. Sadar atau tidak, ibuku membentuk opini cita-citaku sejak kecil. Beliau sering menjelaskan betapa mulianya profesi seorang guru.

Memang sedikit melelahkan perjalananku menemukan cita-cita. InsyaAllah kali ini mantap. Jika Tuhan meridai, alam merestui, dan orang tua mendoakan, maka profesi dosen akan kusabet. Setidaknya, profesi tersebut tak menjadikan pribadi termakan sistem seutuhnya. Sasaran mahasiswa itu tepat untuk mendistribusikan pemikiran dan pergolakan batin tentang kebusukan sistem yang mampu menikam kehidupan idealisme seseorang.

KBBI menjelaskan bahwa idealisme merupakan aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami. Arti lain adalah hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna.

Soal idealisme, karya Pram merangkum beberapa kebenaran dan cita-citanya untuk Indonesia, khususnya pulau Jawa. Cita-cita Pram yang tinggi dan sempurna itu menyadarkan pembaca untuk membangun peradaban baru yang lebih maju. Beliau telah mengisahkan sejarah Indonesia yang pernah mengalami gilang-gemilang melalui kekuatan laut. Pram juga mengajak pembaca untuk mendobrak pakem-pakem budaya Jawa yang bisa memrosotkan rakyat. Selain itu, Pram juga menjelaskan tentang patriarkat yang sangat kental dan budaya perempuan yang dihinakan/tak diberi kedudukan.

Pada karya-karya yang telah dibaca, Pram menyajikan bahwa kebenaran dapat disampaikan oleh siapa saja, sekalipun dari anak desa, seperti tokoh Wiranggaleng, Arok, Minke atau Nyai Ontosoroh. Namun, dari pembelajaran bersama karya-karyanya, setiap orang yang menyampaikan kebenaran belum tentu dapat dipanggil guru. Karena pada hakikatnya, guru memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas, sehingga segala yang disampaikan dan diajarkannya mengandung nilai-nilai moral yang mampu membuka pikiran muridnya. Guru pandai membaca keadaan masa depan dengan berkaca pada masa lalu dan masa kini. Misalnya, tokoh Rama Cluring dalam novel Arus Balik yang merupakan guru dari Wiranggaleng dan Idayu. Beliau peduli pada mereka berdua, sehingga nasihat-nasihat yang keluar pun merupakan pesan untuk menghadapi masa depan kelak. Wiranggaleng dan Idayu sangat menghormati Rama Cluring. Akibatnya, anak-anak mereka pun dikenalkan dengan nasihat-nasihat Rama Cluring. Guru itu akan tetap hidup dalam hati mereka, meskipun jasadnya sudah tiada.

Pada karya tetralogi Buru, Pram mengajarkan tentang kebenaran yang dapat disampaikan dengan cara elegan atau gaya kaum intelek, yakni melalui tulisan. Cara tersebut lebih didengar dan diperhatikan oleh musuh. Senjata kata lebih bermakna daripada bambu runcing. Maksudnya, tulisan merupakan bukti kebenaran yang autentik sebab terdapat kumpulan data yang valid, relevan, dan akurat. Melalui tulisan, koreksi terhadap kebenaran zaman dapat dipertanggungjawabkan dengan baik daripada melalui lisan yang berupa folklor yang dapat divariasikan sesuai perkembangan zaman.

Kebenaran itu takkan hilang dimakan zaman. Setiap manusia bisa menjadi penyampai kebenaran. Kebenaran seperti norma dan aturan dalam masyarakat yang sifatnya telah membudaya dapat dihanguskan seiring perkembangan zaman, jika hal ini menyangkut pada pembangunan peradaban baru yang lebih baik. Sayangnya, cita-cita Pram belum mampu direalisasikan oleh masyarakat Indonesia, khususnya para pemimpinnya. Contoh, Pram telah menjelaskan bahwa wilayah perairan Indonesia lebih luas dari daratan, sehingga kegemilangan Indonesia akan mudah diraih dengan mengembangkan wilayah perairan. Presiden Jokowi telah memiliki pola pikir tersebut, namun bukti real itu belum terjadi. Kasus akhir-akhir ini berkenanan dengan sistem pertahanan negara wilayah perairan sedikit kacau. Beberapa Anak Buah Kapal (ABK) berhasil disandera oleh pasukan Abu Sayyaf di Filipina. Sandera adalah orang yang dijadikan jaminan dan dapat dibunuh sewaktu-waktu. Perlindungan untuk rakyat dengan profesi nelayan kurang diperhatikan. Di sini adalah letak ketegasan negara yang harus diperhatikan sebelum mengembangkan wilayah perairan.

Kasus yang terjadi di Indonesia takkan menimpa negara dan merugikan rakyatnya jika mereka berhasil menumpas kedunguan atau kebodohan serta keserakahan. Dengan ilmu yang dibimbing oleh guru, InsyaAllah kebenaran merupakan keniscayaan yang membentuk Indonesia menjadi lebih baik dan maju. Terlebih jika pemimpin mampu menyatukan rakyat Indonesia. Tak bertindak seperti Trenggono yang bebal dan serakah yang memerangi kawan layaknya musuh, begitu sebaliknya. InsyaAllah, cita-cita penulis sebagai dosen akan memudahkan perbuatan budiman, menanamkan dan menghidupkan idealisme Pram pada mahasiswa-mahasiswanya.

*) Penulis S. Haryani C.
mahasiswa Unesa, JBSI.


Read more

Minggu, 01 Mei 2016

TAK IKUT IRING-IRING


1 Mei 2016

Selamat datang Mei. Baru tersadar jika April tak miliki angka 31. Rasanya bulan April kemarin aku belum memanfaatkanmu sebaik-baiknya April. Banyak hal yang miss, termasuk janjiku. Aku berjanji menyelesaikan  Arus Balik pada April saat Maret dipenuhi macam kegiatan yang menurutku tak ada bacaan yang selesai kubaca. Aih, maafkanlah. Teringat pula pada janji-janji yang lain. ya Tuhan, berikanlah hamba kemuliaan agar hamba bisa membayar amal hamba setuntas-tuntasnya, selama hamba di Unesa.

Semoga saja, Mei adalah bulan penghabisan bagi Arus Balik yang nyawanya sebanyak 760 halaman. Penuntasan janji tentang tulisan.
(Pikiran Intermeso)


Kepulanganku ke rumah kali ini selain mengobati homesick, sudah kuniatkan menuruti janji Ibuku yang mengajakku iring-iring manten ke Krajan. Tapi, banyak sekali permintaan beliau. Inilah, itulah, dan beginilah, begitulah, baju, sepatu. Anak kuliahan, beda dari yang lain. Hmmm... Aku jelas yang lebih tahu diriku. Akhirnya, kuputuskan berkata, “Aku nggak jadi ikut, Bu!”

Entah alam berkata apa, tetapi kurasakan ia ikut mendukung keputusanku. Kubiarkan mataku menelanjangi kekuatan tulisan Pram hingga tak kuat ia, meminta untuk memejam sejenak. Ibu datang ke kamarku mengajakku, “Ayo, katanya ikut iring-iring.”

“Nggak ikut, Bu,” jawabku malas sambil memejamkan mata.

Yo wes, nggak usah melok. Takut nggak ada mobilnya.”

Masalah selesai. Tetapi, beberapa menit kemudian, tepat pada waktu keberangkatan.

“Yan, ayo melok! Ada mobilnya!” Ibuku membujukku hingga tak sampai hati aku tak membangunkan diri setelahnya. Aku memang sengaja nggak ikut, sudah buyar penasaranku. Toh, beginilah jadinya seseorang jika terlalu mengamat-amati, memiliki euforia berlebihan, bisa-bisa hilang rencananya dari permukaan.

Ibuku terus merayu, “Bapakmu nanti biar naik seperda motor.”

Kubalas, “Kenapa nggak naik mobil semua? Biar Bapak aja yang naik mobil. Ini sudah jam berapa.”

“Sudahlah, jam piro iki, Bu. Iko loh wes dienteni. Berangkat,” susul suara kakakku.

Akhirnya Ibuku meninggalkanku, sedangkan Bapak berpesan, “Sepedanya, tolong diurus!”

“Ya,” jawab kakakku.


Aih, benar juga ketidakberangkatanku menjadikan kedua orang tuaku makin dekat. Alangkah tak baiknya jika aku ikut berangkat. Keburu-buru berdandan membuat yang lain menunggu, sedangkan Bapak berangkat sendiri berkendara tanpa teman (Ibu), meskipun pada akhirnya di sana bertemu. [hry]
Read more