Senin, 25 April 2016

ISYARAT YANG TRAGIS


25 April 2016
“Anak ...,” berjalan mendekati Si Pemilik Nama tanpa memperhatikan keadaan sekitar, sibuk dengan lembaran-lembaran di genggamannya.

Grubyaaaakkk.


Baru selangkah saja langkahnya, ia sudah menerabas kabel yang melintang didekatnya. LCD pun jatuh.

Suasana kelas jadi hening, teman-temanku meneriaki dengan lagak tenang, “Nggak apa-apa, Pak!”

Hush.... Mereka seolah menyalahkan benda yang melintang di depan penerobos. Sedikit kesel juga, kenapa mereka mesti berlagak seperti itu. Seandainya LCD terpelanting oleh sesama mahasiswa pasti akan dipojokkan sepojok-pojoknya, seperti dikucilkan dan diasingkan. Lalu, mengapa beliau tidak pula dibegitukan? Suatu keadaan yang tidak adil pada strata sosial, padahal sama-sama manusianya loh!

Aih, terserahlah. Manusia  memang sukanya begitu. Kasus kesenjangan sosial karena jabatan itu dapat dipastikan selalu ada. 

Eitssss.... Teppppp. Hzzzzzzz.... ZZZZzzzzzz....

Nyawa Ibasky barusan dicabut semena-mena. Kehidupan itu diputus. Alirannya kini hilang. Beliau mencabut kehidupan itu seolah tanpa dosa setelah nyawa LCD itu ditebas. Lagi-lagi, maaf Ibasky. Kamu harus beristirahat dengan cara yang tidak layak.

Alam pun memberi isyarat, “Bukan waktunya bermain dengan Ibasky. Waktunya perhatikan materi Sintaksis untuk bekal anak-anakmu!”


Aku berterima. Terima kasih alam kelas, sudah mengingatkanku. [hry]
Load disqus comments

0 komentar