Hari ini Guru Wane tak
mengajariku apa-apa. Ada apa dengan guru? Ini di luar zona rutinitas. Biasanya,
pukul 06.00 pagi aku memasak di dapur, membersihkan rumah, mencuci piring,
mengerjakan segala kegiatan ibu rumah tangga. Aku sadar, aku bukan ibu rumah
tangga. Aku hanya seorang murid yang mencoba berterima kasih kepada Guru Wane,
karena beliau berterima pada takdir memelihara dan mendidikku.
Pukul 16.00 petang, guru
baru pulang. Begitu garis cakrawala hilang ditelan lautan, sawah, dan
pegunungan, guru mulai mengajarkanku tentang dunia ini. Aku sangat senang pada
momen ini. Pertanyaan apa pun yang kulontarkan, guru bisa menjawab dengan sangat
memuaskan. Bagiku, Guru Wane adalah guru terhebat di permukaan bumi ini!
Tetapi, mengapa kali ini beliau penuh teka-teki?
“Guru Wane...,” teriakku bersemangat mendekati
guru dengan membawa pena dan lembaran kertas berjilid.
Guru Wane hanya tersenyum
melihatku dan berkata,“Belajarnya besok pagi saja, ya....”
Kutunjukkan muka masamku,
“Tapi, kenapa? Guru capai, ya?”
Lagi-lagi guru hanya
tersenyum, lalu menggelengkan kepala, “Istirahatlah....” Setelah itu pergi.
Kuperhatikan dengan
saksama, guru memungut buku dalam perpustakaannya. Membacanya sebentar,
kemudian terlelap dalam duduk bersilanya. Baru kali ini, kutemukan jawaban yang
tak memuaskan dari guru. Tapi, kenapa?
***
Matahari bersinar ceria
sekali hari ini sampai-sampai keceriaannya sedikit membakar kulitku. Aih,
kejadian kemarin adalah suatu awalan, awal daripada guru tak menjawab
pertanyaanku dan awal perjalananku berkembara bersama guru. Ternyata, aku
diajak ke tempat kerjanya. Guru memintaku menjadi pengatur orang-orang desa
yang berdesakan ingin segera dilayani guru. Aku bingung harus berbuat apa.
Mereka sedikit anarkis.
Kuberanikan diriku,
“Bapak-bapak, Ibu-ibu, harap tenang sebentar!”
Suasana masih ribut,
kulantangkan suaraku, “Tenang! Tidak akan dapat pelayanan dari guru jika
Bapak/Ibu tidak tenang. Tolong perhatikan saya.”
Mereka langsung sirep.
Kulanjutkan perintah, “Mari baris bershaf!”
Sesuai permintaan Guru
Wane, begitu mereka sudah kondusif kupanggil mereka satu per satu memasuki
ruang guru. Tak kusangka, pembelajaran macam apa ini. Aku sendiri belum tahu
makna filosofinya.
Jika dihitung-hitung
dengan benar, maka hari ini adalah rutinitas keempat puluh guru mengajakku
bekerja. Tak tahu macam bagaimana guru bekerja. Hari ini penasaranku memuncak,
sehingga kuberanikan diri untuk mengintip pekerjaan beliau. Meski sedikit
takut, aku mulai mengumpulkan tekad.
Aih! Orang itu melayang!
Tak menyentuh lantai! Wajahnya bersinar! Helai-helai rambutnya pun berjingkrak
ria. Pengobatan macam apa yang dilakukan Guru Wane ini. Sekarang, aku baru tahu
mengapa orang-orang bersuka cita keluar dari ruang guru.
Pada perjalanan pulang,
kubuka topik obrolan pada guru “Guru, maaf, Nademi tadi mengintip guru saat
melakukan pengobatan.”
Guru tersenyum, “Guru
sudah tahu.”
“Guru tahu? Kenapa Guru
bisa membuat orang melayang di udara?”
“Karena keyakinannya.”
“Yakin pada apa, Guru?”
“Pada cerita nenek moyang
kita.”
“Cerita yang mana, Guru?
Apakah Guru juga pernah menceritakannya pada Nademi?”
“Sering sekali!”
Aku mengingat-ingat
keadaan guru yang bercerita. Sebelum peristiwa keempat puluh hari ini, guru
memang senang bercerita. Ya, agenda setiap hariku, saat garis cakrawala
menghilang. Aih, aku jadi sangat rindu pada keadaan itu!
“Setiap hari guru
bercerita sebelum mengajakku bekerja seperti ini,” jawabku lirih tak
terkontrol.
Kulumat lembar tebal
bibirku. Ketegaskan dengan menumpuk telapak tangan di atasnya. Aku salah ucap!
Aku takut, Guru Dane marah dan tak mengajakku lagi menemaninya.
“Bekerja? Berarti Guru
harus menggaji kamu, dong!” canda guru dengan dibarengi tawa.
“Tidak, Guru! Bukan
maksud saya seperti itu. Saya senang bisa menemani Guru di sini. Ah, saya tidak
menginginkan gaji, Guru. Apa kepentingan saya.”
“Yakin? Suka rela?”
“Iya, Guru. Toh,
ilmu guru di atas segalanya.”
Melihat guru tersenyum
bangga padaku, kutabrak langsung dengan kembali pada pertanyaan tadi, “Cerita
yang mana, Guru? Saya ingin mengulang waktu guru bercerita. Duduk bersila
bersama, merayakan lenyapnya garis cakrawala yang dimakan oleh laut, sawah, dan
gunung. Sungguh, saya rindu, Guru.”
“Apa kau sudah lupa
tentang cerita-cerita yang pernah kusampaikan padamu, Nademi?”
“Tidak! Jelas tidak Guru.
Semuanya terekam di sini,” kusentuh kepalaku lalu kukeluarkan lembaran kertas
berjilidku dalam tas. Senyum itu melegakanku. Lagi-lagi, guru Wane tersenyum
bangga padaku.
“Coba bacakan satu di
antara tulisan dalam agendamu itu,” tantang Guru Wane.
“Baiklah, Guru”
Guru Wane mengajakku
duduk di sebuah gazebo kecil. Sambil memandangi persawahan yang hijau, kuiringi
detik-detik kepergian garis cakrawala itu dengan pembacaan catatan agendaku.
Dengan bahasaku sendiri, kusalin cerita Guru Wane dengan pemikiran-pemikiran
kritisku. Itu memang ajaran dari guru.
21 Maret—Guru Wane menceritakan hakikat
Timur dan Barat kepadaku. Menurutku, ilmu hari ini adalah esensi ilmu yang
kuterima sebelumnya. Pengerucutan dari cerita-cerita unik dan menarik pada
setiap daerah di Nusantara. Dapat kutarik simpulan, selama ini Guru bercerita
tentang budaya Timur. Tanpa bercerita tentang budaya Barat, beliau menunjukkan
perbedaan berarti di antara keduanya. Aku sedikit bingung, mengapa beliau tak
coba jelaskan tentang budaya Barat padaku. Pikirku, pasti besok guru akan
menceritakan topik itu.
“Tapi aku salah. Guru
sudah melupakan agenda duduk bersila. Ternyata, esok adalah hari yang mengubah
rutinitas, menemani guru bekerja,” sambungku mencoba mengkorelasikan dengan
peristiwa.
“Teruskan ceritanya, atau
coba ceritakan lagi yang lain.”
Budaya
Timur dan Barat sangat berbeda. Timur berjiwa tenang dalam melakukan segala
sesuatu. Mengandalkan keyakinan, mengenal diri sendiri akan jadi pribadi yang
lebih baik dalam mengenal Tuhan dan seisinya. Orang Timur senang berdiam diri,
bersemadi. Berbeda dengan budaya Barat. Orang Barat senang pada teknologi.
Mereka senang mengeksplor diri mereka untuk membuat masa depan yang canggih.
Jiwa mereka bergejolak, seperti kompetisi yang tak berujung pada kedamaian
sejati.
“Kau percaya jika cerita
tentang perempuan tidak boleh duduk di depan pintu, jika ke pantai tidak
diperkenankan memakai baju warna hijau, perempuan harus dalam keadaan suci jika
memasuki pura, dan lain sebagainya.”
“Percaya. Toh,
guru menceritakan padaku dilengkapi dengan alasannya mengapa.”
“Ya. Guru memang yang
membuatmu percaya pada hal-hal seperti itu. Pada budaya Barat, kau tidak akan
mengenal cerita-cerita tersebut. Suatu saat, jika kau keluar dari desa ini, kau
akan paham kekuatan Barat. Mereka mampu menyihir orang-orang menghilangkan
tradisi mite/mitos nenek moyang Nusantara,” papar Guru Wane.
“Benarkah Guru? Mengapa
begitu?”
“Semua berawal dari
sini,” mengarahkan telapak tangannya ke dada kiriku tanpa menyentuh.
“Hati?” jawabku.
Guru tersenyum lalu
menganggukkan kepala, “Kepercayaan.”
“Kepercayaan?” ulangku
terbata.
“Iya! Percaya!”
“Semua berawal dari niat,
begitu juga kan, Guru?”
“Pintar! Benar sekali!”
“Segala sesuatu yang kita
percayai kebenarannya, pasti akan terjadi. Ini bukan syirik atau musyrik. Tapi,
inilah kekuatan Nusantara! Tradisi cerita mite/mitos yang diyakini akan
memunculkan atmosfer budaya yang luar biasa. Jika setiap daerah punya cerita,
pasti setiap daerah punya atmosfer yang berbeda.”
“Bayangkan, jika satu
desa meyakini satu atau beberapa cerita mite/mitos, mereka mampu menaikkan
devisa negara dengan mendatangkan wisatawan asing dan domestik. Desa jadi
makmur dan sejahtera. Indonesia pun jadi terkenal dengan Nusantaranya. Negara
kepulauan dengan beragam suku, budaya, agama, etnik, dan adat istiadatnya.”
Aku mengangguk-anggukkan
kepala tanda mengerti.
“Seperti Yogya, Bali, dan
Lombok. Masyarakat asli tetap mempercayai hal-hal mitos sehingga atmosfer
lingkungan terbentuk dengan baik.”
“Yogya dan Bali itu desa
yang seperti apa, Guru? Ajak Nademi ke sana, ya!” rengekku meminta diajak
berkembara, mengelilingi Nusantara.
“Kecanggihan teknologi
melampaui batas. Sebenarnya Nademi bisa tahu Yogya dan Bali, bahkan sudut
Lombok sekali pun dengan menggunakan internet. Pada zaman yang seperti ini,
dunia seolah ada dalam genggaman tangan. Dunia dilipat kecil dalam buku saku.“
“Buku adalah media untuk
belajar. Manusia pun juga media mencari ilmu bagi manusia lainnya. Tapi, jangan
pernah lupakan alam semesta ini. Alam semesta adalah media belajar yang sejati,
sebaik-baik tempat belajar, karena alam selalu jujur.”
“Apakah ini ada
hubungannya dengan mengikuti Guru bekerja?”
Guru tersenyum
menjelaskan, “Ilmu yang kau dapat untuk ceritaku, Guru rasa sudah cukup.
Sekarang, waktunya kau cari ilmu yang lain. Guru ajak kau ke sana, biar kau
tahu bagaimana cara bersosialisasi dengan masyarakat, memahami alam semesta dan
sekitarnya dengan baik, melatih panca inderamu agar lebih peka.”
Kini, aku sudah tahu
filosofi guru mengajakku ke sini. Ini adalah awalan lagi untukku. Bekal awal
mengenal dunia yang lebih luas lagi. Selain itu, aku jadi tahu, belajar dengan
alam ternyata asyik juga. Apalagi kalau media alam dan manusia itu bersinergi
jadi satu. *
(Lampiran Catatan Anak Indonesia Asyik: Ide Mitos)

0 komentar