Kamis, 28 April 2016

GURU WANE


Hari ini Guru Wane tak mengajariku apa-apa. Ada apa dengan guru? Ini di luar zona rutinitas. Biasanya, pukul 06.00 pagi aku memasak di dapur, membersihkan rumah, mencuci piring, mengerjakan segala kegiatan ibu rumah tangga. Aku sadar, aku bukan ibu rumah tangga. Aku hanya seorang murid yang mencoba berterima kasih kepada Guru Wane, karena beliau berterima pada takdir memelihara dan mendidikku. 

Pukul 16.00 petang, guru baru pulang. Begitu garis cakrawala hilang ditelan lautan, sawah, dan pegunungan, guru mulai mengajarkanku tentang dunia ini. Aku sangat senang pada momen ini. Pertanyaan apa pun yang kulontarkan, guru bisa menjawab dengan sangat memuaskan. Bagiku, Guru Wane adalah guru terhebat di permukaan bumi ini! Tetapi, mengapa kali ini beliau penuh teka-teki?

 “Guru Wane...,” teriakku bersemangat mendekati guru dengan membawa pena dan lembaran kertas berjilid.

Guru Wane hanya tersenyum melihatku dan berkata,“Belajarnya besok pagi saja, ya....”

Kutunjukkan muka masamku, “Tapi, kenapa? Guru capai, ya?”

Lagi-lagi guru hanya tersenyum, lalu menggelengkan kepala, “Istirahatlah....” Setelah itu pergi.

Kuperhatikan dengan saksama, guru memungut buku dalam perpustakaannya. Membacanya sebentar, kemudian terlelap dalam duduk bersilanya. Baru kali ini, kutemukan jawaban yang tak memuaskan dari guru. Tapi, kenapa?
***
Matahari bersinar ceria sekali hari ini sampai-sampai keceriaannya sedikit membakar kulitku. Aih, kejadian kemarin adalah suatu awalan, awal daripada guru tak menjawab pertanyaanku dan awal perjalananku berkembara bersama guru. Ternyata, aku diajak ke tempat kerjanya. Guru memintaku menjadi pengatur orang-orang desa yang berdesakan ingin segera dilayani guru. Aku bingung harus berbuat apa. Mereka sedikit anarkis.

Kuberanikan diriku, “Bapak-bapak, Ibu-ibu, harap tenang sebentar!”

Suasana masih ribut, kulantangkan suaraku, “Tenang! Tidak akan dapat pelayanan dari guru jika Bapak/Ibu tidak tenang. Tolong perhatikan saya.”

Mereka langsung sirep. Kulanjutkan perintah, “Mari baris bershaf!”

Sesuai permintaan Guru Wane, begitu mereka sudah kondusif kupanggil mereka satu per satu memasuki ruang guru. Tak kusangka, pembelajaran macam apa ini. Aku sendiri belum tahu makna filosofinya.

Jika dihitung-hitung dengan benar, maka hari ini adalah rutinitas keempat puluh guru mengajakku bekerja. Tak tahu macam bagaimana guru bekerja. Hari ini penasaranku memuncak, sehingga kuberanikan diri untuk mengintip pekerjaan beliau. Meski sedikit takut, aku mulai mengumpulkan tekad.

Aih! Orang itu melayang! Tak menyentuh lantai! Wajahnya bersinar! Helai-helai rambutnya pun berjingkrak ria. Pengobatan macam apa yang dilakukan Guru Wane ini. Sekarang, aku baru tahu mengapa orang-orang bersuka cita keluar dari ruang guru.

Pada perjalanan pulang, kubuka topik obrolan pada guru “Guru, maaf, Nademi tadi mengintip guru saat melakukan pengobatan.”

Guru tersenyum, “Guru sudah tahu.”

“Guru tahu? Kenapa Guru bisa membuat orang melayang di udara?”

“Karena keyakinannya.”

“Yakin pada apa, Guru?”

“Pada cerita nenek moyang kita.”

“Cerita yang mana, Guru? Apakah Guru juga pernah menceritakannya pada Nademi?”

“Sering sekali!”

Aku mengingat-ingat keadaan guru yang bercerita. Sebelum peristiwa keempat puluh hari ini, guru memang senang bercerita. Ya, agenda setiap hariku, saat garis cakrawala menghilang. Aih, aku jadi sangat rindu pada keadaan itu!

“Setiap hari guru bercerita sebelum mengajakku bekerja seperti ini,” jawabku lirih tak terkontrol.

Kulumat lembar tebal bibirku. Ketegaskan dengan menumpuk telapak tangan di atasnya. Aku salah ucap! Aku takut, Guru Dane marah dan tak mengajakku lagi menemaninya.

“Bekerja? Berarti Guru harus menggaji kamu, dong!” canda guru dengan dibarengi tawa.

“Tidak, Guru! Bukan maksud saya seperti itu. Saya senang bisa menemani Guru di sini. Ah, saya tidak menginginkan gaji, Guru. Apa kepentingan saya.”

“Yakin? Suka rela?”

“Iya, Guru. Toh, ilmu guru di atas segalanya.”

Melihat guru tersenyum bangga padaku, kutabrak langsung dengan kembali pada pertanyaan tadi, “Cerita yang mana, Guru? Saya ingin mengulang waktu guru bercerita. Duduk bersila bersama, merayakan lenyapnya garis cakrawala yang dimakan oleh laut, sawah, dan gunung. Sungguh, saya rindu, Guru.”

“Apa kau sudah lupa tentang cerita-cerita yang pernah kusampaikan padamu, Nademi?”

“Tidak! Jelas tidak Guru. Semuanya terekam di sini,” kusentuh kepalaku lalu kukeluarkan lembaran kertas berjilidku dalam tas. Senyum itu melegakanku. Lagi-lagi, guru Wane tersenyum bangga padaku. 

“Coba bacakan satu di antara tulisan dalam agendamu itu,” tantang Guru Wane.

“Baiklah, Guru”

Guru Wane mengajakku duduk di sebuah gazebo kecil. Sambil memandangi persawahan yang hijau, kuiringi detik-detik kepergian garis cakrawala itu dengan pembacaan catatan agendaku. Dengan bahasaku sendiri, kusalin cerita Guru Wane dengan pemikiran-pemikiran kritisku. Itu memang ajaran dari guru.

     21 Maret—Guru Wane menceritakan hakikat Timur dan Barat kepadaku. Menurutku, ilmu hari ini adalah esensi ilmu yang kuterima sebelumnya. Pengerucutan dari cerita-cerita unik dan menarik pada setiap daerah di Nusantara. Dapat kutarik simpulan, selama ini Guru bercerita tentang budaya Timur. Tanpa bercerita tentang budaya Barat, beliau menunjukkan perbedaan berarti di antara keduanya. Aku sedikit bingung, mengapa beliau tak coba jelaskan tentang budaya Barat padaku. Pikirku, pasti besok guru akan menceritakan topik itu.

“Tapi aku salah. Guru sudah melupakan agenda duduk bersila. Ternyata, esok adalah hari yang mengubah rutinitas, menemani guru bekerja,” sambungku mencoba mengkorelasikan dengan peristiwa.

“Teruskan ceritanya, atau coba ceritakan lagi yang lain.”

Budaya Timur dan Barat sangat berbeda. Timur berjiwa tenang dalam melakukan segala sesuatu. Mengandalkan keyakinan, mengenal diri sendiri akan jadi pribadi yang lebih baik dalam mengenal Tuhan dan seisinya. Orang Timur senang berdiam diri, bersemadi. Berbeda dengan budaya Barat. Orang Barat senang pada teknologi. Mereka senang mengeksplor diri mereka untuk membuat masa depan yang canggih. Jiwa mereka bergejolak, seperti kompetisi yang tak berujung pada kedamaian sejati.

“Kau percaya jika cerita tentang perempuan tidak boleh duduk di depan pintu, jika ke pantai tidak diperkenankan memakai baju warna hijau, perempuan harus dalam keadaan suci jika memasuki pura, dan lain sebagainya.”

“Percaya. Toh, guru menceritakan padaku dilengkapi dengan alasannya mengapa.”

“Ya. Guru memang yang membuatmu percaya pada hal-hal seperti itu. Pada budaya Barat, kau tidak akan mengenal cerita-cerita tersebut. Suatu saat, jika kau keluar dari desa ini, kau akan paham kekuatan Barat. Mereka mampu menyihir orang-orang menghilangkan tradisi mite/mitos nenek moyang Nusantara,” papar Guru Wane.

“Benarkah Guru? Mengapa begitu?”

“Semua berawal dari sini,” mengarahkan telapak tangannya ke dada kiriku tanpa menyentuh.

“Hati?” jawabku.

Guru tersenyum lalu menganggukkan kepala, “Kepercayaan.”

“Kepercayaan?” ulangku terbata.

“Iya! Percaya!”

“Semua berawal dari niat, begitu juga kan, Guru?”

“Pintar! Benar sekali!”

“Segala sesuatu yang kita percayai kebenarannya, pasti akan terjadi. Ini bukan syirik atau musyrik. Tapi, inilah kekuatan Nusantara! Tradisi cerita mite/mitos yang diyakini akan memunculkan atmosfer budaya yang luar biasa. Jika setiap daerah punya cerita, pasti setiap daerah punya atmosfer yang berbeda.”

“Bayangkan, jika satu desa meyakini satu atau beberapa cerita mite/mitos, mereka mampu menaikkan devisa negara dengan mendatangkan wisatawan asing dan domestik. Desa jadi makmur dan sejahtera. Indonesia pun jadi terkenal dengan Nusantaranya. Negara kepulauan dengan beragam suku, budaya, agama, etnik, dan adat istiadatnya.”

Aku mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.

“Seperti Yogya, Bali, dan Lombok. Masyarakat asli tetap mempercayai hal-hal mitos sehingga atmosfer lingkungan terbentuk dengan baik.”

“Yogya dan Bali itu desa yang seperti apa, Guru? Ajak Nademi ke sana, ya!” rengekku meminta diajak berkembara, mengelilingi Nusantara.

“Kecanggihan teknologi melampaui batas. Sebenarnya Nademi bisa tahu Yogya dan Bali, bahkan sudut Lombok sekali pun dengan menggunakan internet. Pada zaman yang seperti ini, dunia seolah ada dalam genggaman tangan. Dunia dilipat kecil dalam buku saku.“

“Buku adalah media untuk belajar. Manusia pun juga media mencari ilmu bagi manusia lainnya. Tapi, jangan pernah lupakan alam semesta ini. Alam semesta adalah media belajar yang sejati, sebaik-baik tempat belajar, karena alam selalu jujur.”

“Apakah ini ada hubungannya dengan mengikuti Guru bekerja?”

Guru tersenyum menjelaskan, “Ilmu yang kau dapat untuk ceritaku, Guru rasa sudah cukup. Sekarang, waktunya kau cari ilmu yang lain. Guru ajak kau ke sana, biar kau tahu bagaimana cara bersosialisasi dengan masyarakat, memahami alam semesta dan sekitarnya dengan baik, melatih panca inderamu agar lebih peka.”


Kini, aku sudah tahu filosofi guru mengajakku ke sini. Ini adalah awalan lagi untukku. Bekal awal mengenal dunia yang lebih luas lagi. Selain itu, aku jadi tahu, belajar dengan alam ternyata asyik juga. Apalagi kalau media alam dan manusia itu bersinergi jadi satu. *

(Lampiran Catatan Anak Indonesia Asyik: Ide Mitos)
Load disqus comments

0 komentar