Sabtu, 16 April 2016

RUBRIK KEMATIAN


16 April 2016
“Rubrik yang paling disukai Bapak apa?” ceritanya dalam cerita, melanjutkan, “Ada yang tahu pelanggan berdarah Tiongkok itu suka apa?” Seorang pegawai marketing JP  memancing para peserta yang ada di hadapannya.

Life style? Fashion?” beberapa peserta bersahutan menjawab.

Beliau godek, menggelengkan kepala, “Bukan.”

“Mereka selalu marah-marah, komplain, kalau pagi datang belum ada koran di hadapannya. Pasalnya, koran kita itu ibarat sarapan mereka. Kami pun bertanya, sebenarnya rubrrik apa yang Bapak tunggu-tunggu?” ulangnya seolah senang memperhatikan wajah penasaran kami.

Suasana hening. Semua diam, menantikan jawaban.

“Tahu kalian, jawabannya rubrik,” ulurnya menunggu penasaran mencapai titik puncak. 

“Kematian”

Jawaban itu mampu meledakkan tingkat didih penasaranku. Tak pernah terlintas sebelumnya. Menganga dalam pikiran pun tidak, meski tahu (memang) ada rubrik itu.

“Ya, berita duka. Benar itu,” tegasnya. “Kenapa? Kaget ya?”

Tak hanya kaget saja. Lebih dari itu, hatiku tersentak. Hebat sekali mereka. Menjadikan rubrik kematian sebagai rubrik favorit adalah hal yang mulia. Mungkin beberapa peserta yang lain menganggap hal itu aneh. Tetapi, bagiku itu luar biasa.

“Mereka marah jika koran datang terlambat. Katanya, kalau saudara saya yang meninggal, saya tidak ingin terlambat menjenguknya,” meneruskan jawaban lengkapnya.

Sontak, jawaban itu mengoneksikan synap-ku pada dua jalur yang berbeda. Tentang dunia dan akhirat yang selalu menjadi misteri.

Dunia
Rubrik “Kematian” mengingatkan aku pada Tuhan. Begitu hebat mereka. Rubrik kematian sangat bermakna untuknya. Biasanya, rubrik itu jadi rubrik yang sekadar lewat. Menurutku, itu rubrik milik orang kaya yang rela membayar mahal hanya sekadar pemberitaan dalam koran. Semakin besar space berita itu, semakin kaya pihak yang berduka.

Saat membaca koran tersebut, selalu kutemukan rubrik kematian yang memberitakan duka keluarga berdarah Tiongkok. Kekayaan mereka di dunia seolah menjadi hal yang sah. Pada orang-orang seperti golonganku menganggap bahwa kematian adalah hal yang paling mahal. Memberitakan anggota keluarga di koran hanya sekadar mimpi saja.

Jika di perkotaan, dapat lahan perkuburan saja sangat bersyukur. Bisa membayar uang sewa lahan juga sudah menjadi indikator kayanya harta seseorang di dunia. Jika di desa, membuat kenduri dengan sajian terima kasih kepada orang-orang desa sudah menjadi hal yang wajar. Belum dengan budaya-budaya lain yang kerap dilakoni oleh suku lain.

Akhirat
Mengingat “Kematian” adalah mengingat kehakikian hidup. Kehidupan di dunia ini hanyalah sebuah panggung sandiwara. Semua harus pandai memakai topeng, menjalankan perannya masing-masing sesuai karakter dalam naskah drama yang dibuat Tuhan.  Naskah drama yang dimainkan terkadang seru, asyik, sedih, senang, haru, nagihi, atau yang lainnya.


 Ibaratkan hidup di dunia ini adalah sebuah petualangan menuju kehidupan nyata. Orang yang sering mengingat “Kematian” adalah orang yang tidak kena tipu muslihat dunia yang beraneka. Mengingat “Kematian” artinya mampu membedakan dunia nyata dengan dunia sandiwara. Semakin sering mengingat “Kematian”, semakin mantap persiapan menuju kehidupan nyata kelak. [hry]
Load disqus comments

0 komentar