1 Mei 2016
Selamat
datang Mei. Baru tersadar jika April tak miliki angka 31. Rasanya bulan April
kemarin aku belum memanfaatkanmu sebaik-baiknya April. Banyak hal yang miss,
termasuk janjiku. Aku berjanji menyelesaikan
Arus Balik pada April saat Maret dipenuhi macam kegiatan yang menurutku
tak ada bacaan yang selesai kubaca. Aih, maafkanlah. Teringat pula pada
janji-janji yang lain. ya Tuhan, berikanlah hamba kemuliaan agar hamba bisa
membayar amal hamba setuntas-tuntasnya, selama hamba di Unesa.
Semoga saja,
Mei adalah bulan penghabisan bagi Arus Balik yang nyawanya sebanyak 760 halaman.
Penuntasan janji tentang tulisan.
Kepulanganku
ke rumah kali ini selain mengobati homesick, sudah kuniatkan menuruti janji
Ibuku yang mengajakku iring-iring manten ke Krajan. Tapi, banyak sekali
permintaan beliau. Inilah, itulah, dan beginilah, begitulah, baju, sepatu. Anak
kuliahan, beda dari yang lain. Hmmm... Aku jelas yang lebih tahu diriku.
Akhirnya, kuputuskan berkata, “Aku nggak jadi ikut, Bu!”
Entah
alam berkata apa, tetapi kurasakan ia ikut mendukung keputusanku. Kubiarkan
mataku menelanjangi kekuatan tulisan Pram hingga tak kuat ia, meminta untuk
memejam sejenak. Ibu datang ke kamarku mengajakku, “Ayo, katanya ikut
iring-iring.”
“Nggak
ikut, Bu,” jawabku malas sambil memejamkan mata.
“Yo
wes, nggak usah melok. Takut nggak ada mobilnya.”
Masalah
selesai. Tetapi, beberapa menit kemudian, tepat pada waktu keberangkatan.
“Yan,
ayo melok! Ada mobilnya!” Ibuku membujukku hingga tak sampai hati aku
tak membangunkan diri setelahnya. Aku memang sengaja nggak ikut, sudah buyar
penasaranku. Toh, beginilah jadinya seseorang jika terlalu mengamat-amati,
memiliki euforia berlebihan, bisa-bisa hilang rencananya dari permukaan.
Ibuku
terus merayu, “Bapakmu nanti biar naik seperda motor.”
Kubalas,
“Kenapa nggak naik mobil semua? Biar Bapak aja yang naik mobil. Ini
sudah jam berapa.”
“Sudahlah,
jam piro iki, Bu. Iko loh wes dienteni. Berangkat,” susul suara kakakku.
Akhirnya
Ibuku meninggalkanku, sedangkan Bapak berpesan, “Sepedanya, tolong diurus!”
“Ya,”
jawab kakakku.
Aih,
benar juga ketidakberangkatanku menjadikan kedua orang tuaku makin dekat.
Alangkah tak baiknya jika aku ikut berangkat. Keburu-buru berdandan membuat
yang lain menunggu, sedangkan Bapak berangkat sendiri berkendara tanpa teman
(Ibu), meskipun pada akhirnya di sana bertemu. [hry]

0 komentar