Sabtu, 30 April 2016

JEMBATAN FLY OVER A. YANI


30 April 2016
Baru kali pertamanya aku tidur di kamar kos sampai siang menjelang. Pukul 07.00 pagi aku bangun, namun kembali tidur sampai pukul 10.00 WIB. Begitu tahu, aku pun segera menuju kamar mandi mencari air untuk mandi. Aku sadar, hari ini ada acara ke Graha Pena untuk suatu perkumpulan yang bernama Mama JP Edisi 2. Aku sudah punya rencana akan pergi bersama kendaraan umum, bemo menuju terminal Joyo Boyo, lalu bus mini ke Graha Pena. Sepulangnya dari perkumpulan itu, kulanjutkan perjalanan pulang ke rumah dengan bus mini lagi.

Tak kusangka dandanku selesai pukul 11.30an, lebih dari lima menit aku sudah berjalan ke pinggir jalan raya untuk menghentikan sebuah mobil mikrolet identitas JM. Lama sekali kumenununggu, sekitar pukul 12.00 WIB dia menemukan keberadaanku. Pukul 12.30 an aku sampai di Joyo Boyo. Di sana kutemui plang yang bergambar pejalan dicoret, artinya dilarang menyebrang di situ. Tetapi, aku tak melihat ada zebracross di sekitarnya. Kulihat beberapa orang berniat menyebrang, kuputuskan untuk menyebrang juga. Syukur, kondektur bus mini juga terlibat menyebrangkanku.

Kubilang turun DBL, biar mereka cepat paham. Tetapi, Pak Supir menawarkanku turun depan UINSA biar mudah nyebrangnya. Aih, aku mau-mau saja. Kulihat depan, beberapa tanda zebracross sudah terlewati dan aku diturunkan depan UINSA yang tak ada zebracross-nya. Aku masih memaknai perkataan Pak Supir tadi, maksudnya apa coba?!?

Kuputuskan menyeberang jalan yang tak bertanda zebracross itu. Begitu ada renggang sedikit antarkendaraan, kuberanikan diri untuk menyeberang dengan mengangkat tangan ke depan dada sebagai tanda kata, “Harap pelan-pelan! Kurangi kecepatan! Aku mau nyebrang! Sebentar saja!”

Setelah sampai seberang kubaru tersadar. Di bawahku ada jembatan penyebrangan. Jembatan fly over, dan aku baru dong. Ampun! Ke mana saja aku! Dienakkan Pak Supir biar lewat jembatan, tanpa perlu memiyak kendaraan yang jalannya srudukan, malah tak tahu. Kuberjanji, sepulangnya dari Graha Pena, kuputuskan memakai media penyebrangan itu.

Begitu pulang, hatiku bereuforia. Akan jadi pengalaman untuk kali pertamanya. Tangga-tangga yang terbuat dari besi berjarak tak terlalu tinggi, namun banyak langkah yang membuat dada sesak kekurangan udara (posisi memakai masker wajah). Di tengahnya terdapat tangga berplester licin, sepertinya jalan untuk roda kendaraan sepeda mini. Sampai di puncak jembatan, kubisa melihat segalanya. Kukeluarkan buku agenda warna merahku, kudokumentasikan sesuatu di dalam sana.

14:54 WIB di Jembatan Fly Over A. Yani

Suasana di atas sini luar biasa, kendaraan berbaris rapi, menikmati kemacetan. Kutemukan para pekerja proyek pelebaran jalan giat bekerja sebab mereka akan menyudahi hari ini. Semangatnya membara, tak sabar segera menjumpai waktu istirahat, atau bertemu dengan orang-orang tercinta. Di bawah sana, udara yang hirup dipenuhi dengan campuran debu. Di atas jembatan udara menandaskanku bahwa ialah udara yang sebenarnya, udara murni milik jalan A. Yani. Udara menyerbuku dengan senang tanpa selinapan debu yang menyergap kulit.

Tiba-tiba datang seekor tawon ndas berwarna hitam, tampangnya menakutkan. Ia mendekatiku, sepertinya dia tahu aku adalah orang baru yang baru kali pertama lewat jembatannya. Dia menyapaku riang. Kucoba tetap tenang dan mengatur nafas dengan baik di hadapnnya. Dia mengelilingiku, menyimpan aroma tubuhku, lalu pergi meninggalkanku. Hmmm, perkenalan yang baik. Terima kasih, Tawon Ndas sudah sempat menjadikanku kawan, dengan tidak menyengatku. Aku takkan mengusik keberadaanmu.

Jembatan itu lumayan panjang, dibangun dengan komponen besi. Lampu-lampu neon panjang menjadi penerangannya pada malam tiba. Mereka memintaku menjamahnya. Plakat-plakat iklan ditempelkan dengan megahnya. Sedikit robek, rusak dan minta ganti, iklan itu malah tak mengindahkan pesona jembatan fly over. Kujamah tempat itu dengan leluasa tanpa ada keberadaan orang lain, kecuali seorang mahasiswi UINSA yang lewat pada awal aku sampai di puncak jembatan.

Kuputuskan tak berlama-lama di tempat umum itu. Mencoba menjamah tempat lain. kututup buku agendaku, lalu kumasukkan dalam tas, dan mulai mencari jalan keluar menunggu bus mini mendekatiku.

Syukur, kuturuti kata hati. beberapa menit kemudian, seorang laki-laki, kenalan baru dari Mama JP juga melewati jalur yang kulewati tadi. Tetapi, tujuannya kembali ke kampusnya tercinta, UINSA, bersama temannya yang lain. syukur, matanya tak menemukan keberadaanku. [hry]




Read more

Kamis, 28 April 2016

GURU WANE


Hari ini Guru Wane tak mengajariku apa-apa. Ada apa dengan guru? Ini di luar zona rutinitas. Biasanya, pukul 06.00 pagi aku memasak di dapur, membersihkan rumah, mencuci piring, mengerjakan segala kegiatan ibu rumah tangga. Aku sadar, aku bukan ibu rumah tangga. Aku hanya seorang murid yang mencoba berterima kasih kepada Guru Wane, karena beliau berterima pada takdir memelihara dan mendidikku. 

Pukul 16.00 petang, guru baru pulang. Begitu garis cakrawala hilang ditelan lautan, sawah, dan pegunungan, guru mulai mengajarkanku tentang dunia ini. Aku sangat senang pada momen ini. Pertanyaan apa pun yang kulontarkan, guru bisa menjawab dengan sangat memuaskan. Bagiku, Guru Wane adalah guru terhebat di permukaan bumi ini! Tetapi, mengapa kali ini beliau penuh teka-teki?
Read more

IDE MITOS


28 April 2016
“Nilai-nilai lokal dan tradisi Nusantara sebagai ruh dan jati diri bangsa” adalah tema kepenulisan cerpen Pekan Seni Mahasiswa tingkat Universitas. Sungguh, aku mengikuti kegiatan ini lilhita’ala, sederhananya ingin menguji kemampuanku. Jika Tuhan berkenan aku lanjut ke babak berikutnya, terima kasih. Tetapi, jika belum saatnya aku juga tetap akan bersyukur. Mungkin memang belum saatnya.
Read more

Rabu, 27 April 2016

AKIBAT MENULIS

27 April 2016

Aku dan beberapa kawanku izin tak ikut perkuliahan hari ini. kami memutuskan untuk mengikuti lomba membaca puisi dan geguritan dalam rangka memperingati jasa Ibu Kartini di RRI Surabaya. Hati bergerak karena adanya kerja sama dengan pihak RRI, imbal balik yang baik. Mereka membantu kami memeroleh nilai A pada UTS mata kuliah Apresiasi Drama dengan menyiarkan rekaman kami serta membantu proses editingnya (meskipun nggak gratis) dan mereka memeroleh peserta lomba banyak. Seolah acaranya berhasil dan sukses karena banyak peminatnya, apalagi dari kalangan mahasiswa.

Sebenarnya, apa hakikat hari Kartini? Siapa Kartini itu?!? Kenapa puisi-puisi yang dibacakan hanya berupa puja puji padanya? Bukankah dia juga manusia yang punya dosa, sama seperti kita? Bukankah yang pantas dipuja-puji hanyalah Tuhan?
Read more

Senin, 25 April 2016

Minggu, 24 April 2016

PELTIM


24 April 2016

Dini  hari kami di Pelabuhan Timur (Peltim, baca Peltem) Madura. Mencari posisi paling dekat dengan laut. Teman-teman SM ingin mengenalkan Madura yang sesungguhnya pada malam hari, tepatnya dini hari. Di sudut ruang kami berdiri, udara mengepul menyelimuti tubuh setiap individu. Kami memandang gemerlap lampu pulau sebelah, Surabaya. Beberapa individu yang belum terbiasa sibuk menghangatkan diri.

Maaf, Mr. Mus sepertinya sedikit kecewa padaku, sedangkan hakikatku yang menjadi seorang ibu masih ingin jadi pelindung yang luar biasa bagi anak-anaknya. Di pertengahan malam, seorang anakku meminjam ponsel pintar untuk mengabadikan momen Madura pada dini hari. Kupun ingin melakukan hal yang sama. Masih tersimpan di dalam ponsel pintar Puw-ku.

....


Banyak pembelajaran yang diperoleh dari alam. Madura akan punya kisah sendiri, begitu juga dengan Pasuruan. Aih, terima kasih, Tuhan. Bersama teman-teman SM adalah hal yang selalu kurindukan, bukan sebab apa-apa. Kekeluargaan itu yang senantiasa menjadikanku rindu. Sampai saat ini pun masih terkagum melihat karya-karya mereka, berharap aku dan tim serta keluarga kecilku bisa membuat karya-karya yang lebih hebat daripada mereka. *Aaamiin....

Koncak, mereka selalu saja menganiaya seorang anggota untuk mendapatkan kepuasan canda yang asyik. Lagi-lagi Miss Vi dibiarkan di batuan laut. Tangga penyambung antara keduanya dijauhkan. Miss Vi meronta-ronta minta bantuan. Tak ada yang menolongnya, semua senang menertawainya. Namun, pada akhirnya Si Pembuat ulahlah yang menolongnya. Hmmm.... Suatu kejadian yang memang pantas ditolong oleh Si Pembuat ulah agar opini Si Penerima ulah tak buruk tentangnya. Aneh-aneh saja, tapi seru juga.

Setelah insiden itu terjadi, akhirnya kami pulang. Syukur dah nggak sampai matahari datang. Sempat degdegan,, mereka semua menjawab pertanyaanku dengan santai, “Pulang? Nanti pagi. Sampai pagi kita di sini.”

Sepertinya hal itu yang akan membuat kami (tim dan keluarga kecilku) merindukan kalian. Rasa kekeluargaan yang hangat. Jadi, untuk kalian yang ingin bergabung ke UKM UTM yang tepat, ya, menurutku bergabunglah dengan SM. Tak perlu khawatir jika punya anggapan eksplorasi diri akan di penjara, sebab dia UKM yang taksenang diduakan. Justru di sanalah tempat berbagi yang asyik dan seru, tak ada batasan dalam mengeksplorasi diri, malah akan diwadahi dan diingatkan. Keluarga kecil yang selalu bereksistensi dengan banyak kenalan orang hebat di dalamnya. [hry]



Read more

Sabtu, 23 April 2016

TANAH OTAK

23 April 2016
Syukur, agenda tim bersilaturahmi ke Madura direstui alam dan Tuhan. Meski banyak kendala yang mengogah-ogahi keberangkatan kami, perjuangan kami tidak sia-sia. Terima kasih Tim!
Sebelum berangkat aku mengabari teman-teman SM, Mr. Mus juga mau balik ke Madura. Jujur, perjalanannya dari Masalembu membuatku iri saja. Kutemukan balasannya lewat nomor lain bertanya tentang rute perjalanan, pelabuhan atau jembatan. Begitu kami menentukan lewat pelabuhan, kudapati balasan. Yo aku yo wes meh teko pelabuhan iki (baca: Iya aku juga hampir sampai di pelabuhan ini).

Tiba di pelabuhan (Tanjung Perak), kami menunggu sebentar orang-orang dari Madura turun di Surabaya. Kami berenam segera memarkir di dek bawah, lalu pergi ke dek paling  atas untuk mengistirahatkan tubuh sejenak.

Read more

Jumat, 22 April 2016

WAWANCARA YANG MEMBUAT UDARA HILANG


22 April 2016

Taman Nada, band Surabaya yang tak begitu kukenal. Merupakan band undangan BEM-F pada proker euforia.

Begitu, Mas Atthur menyanyi. Aih, aku tahu lagu itu! Aku hafal dengan baik. Lagu itu sempat jadi favoritku, “Marilah Mari”.  Tersimpan dengan baik dalam memori otakku. Lagu yang asyik dan ringan, namun penuh makna. Yang kutangkap secara sederhana, bagaimana pun keadaan kita, kita harus selalu menjaga tali silaturahmi/kekeluargaan. Aih, senang sekali aku bisa menyanyikan langsung lagu itu bersama penyanyinya.
Read more

Selasa, 19 April 2016

DONOR DARAH


19 April 2016
Tintah Merah Bangsa, kegiatan donor danah yang diselenggarakan oleh jurusanku. Dalam hati aku memiliki rasa takut untuk menyumbangkan darahku. Golongan darah yang langka, menurutku, karena sedikit menyebalkan orangnya. Pikiran sudah melayang, aneh sekali orang-orang. Kami menyumbangkan darah kita secara gratis kepada mereka, pihak PMI. Kami tahu darah kami tidak akan disalahgunakan. Tetapi, akan salah jika tidak diberikan kepada orang yang benar-benar membutuhkan. Pasalnya, niatku sumbang untuk mereka yang butuh darah segolonganku, sedang ia terikat perekonomian. Perasaku bilang itu SALAH.

Read more

Senin, 18 April 2016

JUSTIFIKASI


18 April 2016
Tanpa rencana, kuputuskan melakukan observasi di kampung Morgorukun 6 RT. 07 RW. 10, Kelurahan Gundih. Tepatnya, di belakang jalan Semarang, kampung Ilmu, tempat jual beli buku terhemat. Kampung itu terkenal dengan nama “Kampung Hijau” di mesin pencari. Banyak aturan yang mengikat. Satu di antaranya, tidak boleh memarkir kendaraan di depan rumah, kecuali akan digunakan (misal: akan berangkat kerja). Aih, temanku, begitu takutnya pada peraturan itu hingga sepedanya diparkir di halaman kampung ilmu.

Kami memutuskan berjalan kaki menuju kampung tujuan. Aih, melelahkan. Kami harus berjalan kaki, melewati jalanan becek, gang sempit, beradu jalan dengan pengendara sepeda motor yang lalu lalang, melintasi rel KA, dan menikmati Surabaya secara natural. Benar sekali, tak ada pilihan lain selain menikmati, mencari gumpalan-gumpalan kecil untuk menambal lubang kekecewaan.

Read more

Minggu, 17 April 2016

ESENSI, BUKAN SI-KASIH


17 April 2016
Menurutku, agenda evaluasi organisasi seangkatan akan membosankan. Agenda itu direncakan sejak pukul 06.30 WIB sampai sore. Aih, jenuhnya membahas hal yang sama. Tetapi, itu hanya pikiran sebelum terlaksana. Pada hari H, molornya luar biasa. Pukul 08.45 baru dimulai, jelas, faktornya karena kami saling menunggu.

Kami saling berkomentar, menjustifikasi pribadi dari kegiatan kami bersamanya. Idealnya, evaluasi memang menegangkan. Tetapi, angkatanku malah saling bercanda, dibawa asyik dan dinikmati. okelah, itu memang gaya kami. Mengobati rasa jenuh dan bosan duduk lesehan berjam-jam.

Aku sadar, hakikat evaluasi adalah saling menilai orang agar dapat menjadi pribadi yang mendekati perfect, sesuai keinginan kami, untuk kebaikannya juga. Tetapi, apalah artinya jika seseorang memiliki paradigma berpikir yang paten. Ia punya alasan tersendiri melakukan hal itu. Sebagai wujud mendekatkan diri pada cita-cita, hobi, dan keinginannya. Sia-sia, meski di dunia ini tidak ada yang sia-sia.


Berterima atau tidak seseorang, setidaknya evaluasi itu dilakukan. Memang patut, siapa tahu pencerahan, hatinya terbuka dari acaratersebut. 
Yang terpenting adalah ESENSI BUKAN SI-KASIH, LIHATLAH ESENSI PEMBICARAAN, BUKAN SIAPA YANG BERBICARA. [hry]
Read more

Sabtu, 16 April 2016

RUBRIK KEMATIAN


16 April 2016
“Rubrik yang paling disukai Bapak apa?” ceritanya dalam cerita, melanjutkan, “Ada yang tahu pelanggan berdarah Tiongkok itu suka apa?” Seorang pegawai marketing JP  memancing para peserta yang ada di hadapannya.

Life style? Fashion?” beberapa peserta bersahutan menjawab.

Beliau godek, menggelengkan kepala, “Bukan.”

“Mereka selalu marah-marah, komplain, kalau pagi datang belum ada koran di hadapannya. Pasalnya, koran kita itu ibarat sarapan mereka. Kami pun bertanya, sebenarnya rubrrik apa yang Bapak tunggu-tunggu?” ulangnya seolah senang memperhatikan wajah penasaran kami.

Suasana hening. Semua diam, menantikan jawaban.

“Tahu kalian, jawabannya rubrik,” ulurnya menunggu penasaran mencapai titik puncak. 

“Kematian”

Jawaban itu mampu meledakkan tingkat didih penasaranku. Tak pernah terlintas sebelumnya. Menganga dalam pikiran pun tidak, meski tahu (memang) ada rubrik itu.

“Ya, berita duka. Benar itu,” tegasnya. “Kenapa? Kaget ya?”

Tak hanya kaget saja. Lebih dari itu, hatiku tersentak. Hebat sekali mereka. Menjadikan rubrik kematian sebagai rubrik favorit adalah hal yang mulia. Mungkin beberapa peserta yang lain menganggap hal itu aneh. Tetapi, bagiku itu luar biasa.

“Mereka marah jika koran datang terlambat. Katanya, kalau saudara saya yang meninggal, saya tidak ingin terlambat menjenguknya,” meneruskan jawaban lengkapnya.

Sontak, jawaban itu mengoneksikan synap-ku pada dua jalur yang berbeda. Tentang dunia dan akhirat yang selalu menjadi misteri.

Dunia
Rubrik “Kematian” mengingatkan aku pada Tuhan. Begitu hebat mereka. Rubrik kematian sangat bermakna untuknya. Biasanya, rubrik itu jadi rubrik yang sekadar lewat. Menurutku, itu rubrik milik orang kaya yang rela membayar mahal hanya sekadar pemberitaan dalam koran. Semakin besar space berita itu, semakin kaya pihak yang berduka.

Saat membaca koran tersebut, selalu kutemukan rubrik kematian yang memberitakan duka keluarga berdarah Tiongkok. Kekayaan mereka di dunia seolah menjadi hal yang sah. Pada orang-orang seperti golonganku menganggap bahwa kematian adalah hal yang paling mahal. Memberitakan anggota keluarga di koran hanya sekadar mimpi saja.

Jika di perkotaan, dapat lahan perkuburan saja sangat bersyukur. Bisa membayar uang sewa lahan juga sudah menjadi indikator kayanya harta seseorang di dunia. Jika di desa, membuat kenduri dengan sajian terima kasih kepada orang-orang desa sudah menjadi hal yang wajar. Belum dengan budaya-budaya lain yang kerap dilakoni oleh suku lain.

Akhirat
Mengingat “Kematian” adalah mengingat kehakikian hidup. Kehidupan di dunia ini hanyalah sebuah panggung sandiwara. Semua harus pandai memakai topeng, menjalankan perannya masing-masing sesuai karakter dalam naskah drama yang dibuat Tuhan.  Naskah drama yang dimainkan terkadang seru, asyik, sedih, senang, haru, nagihi, atau yang lainnya.


 Ibaratkan hidup di dunia ini adalah sebuah petualangan menuju kehidupan nyata. Orang yang sering mengingat “Kematian” adalah orang yang tidak kena tipu muslihat dunia yang beraneka. Mengingat “Kematian” artinya mampu membedakan dunia nyata dengan dunia sandiwara. Semakin sering mengingat “Kematian”, semakin mantap persiapan menuju kehidupan nyata kelak. [hry]
Read more

Jumat, 15 April 2016

Hakikat Kesuksesan Itu Apa?


15 April 2016

Orang-orang hidup untuk mencapai kesuksesan. Siswa belajar untuk meraih kesuksesan. Orang tua bekerja banting tulang untuk menuju sukses. Organisator menjalin jaringan komunikasi untuk memudahkan jalannya membuka pintu kesuksesan. Lalu, apa ukuran seseorang dapat dikatakan sukses?

Selama ini sebagian besar orang menganggap suksesnya seseorang melalui harta kekayaan. Orang-orang yang berkehidupan mewah, seperti mengendarai mobil, tinggal di gedongan, punya usaha sendiri, punya sawah luas, dan lainnya. Padahal, jika tiba waktunya, harta jerih payah akan dinikmati orang lain.

Selain harta, gelar nama yang banyak juga menjadi indikator seseorang dapat dikatakan sukses. Orang-orang zaman sekarang memburu gelar S1, entah itu S. Pd., S. S., S. T., S. Ag., S. Kom., S. E., dr., dan lainnya. Pada orang-orang yang lebih sukses, mereka harus mencapai S2 atau S3, yakni M. Pd., Dr., Prof., dan sebagainya. Orang-orang dengan gengsi tinggi akan mendapatkan gelar yang digandrungi pada masa kini, Ph. D., gelar dari luar negeri. Sebenarnya, gelar-gelar itu nanti akan dilengkapi selengkap-lengkapnya oleh gelar Alm/Almh.

Indikator kesuksesan bagiku bukanlah harta dan gelar pada nama. Sukses adaalah segalanya tentang diri. Orang sukses adalah orang yang punya banyak cerita, bukan banyak harta. Punya banyak cerita artinya pengalamannya banyak, baik pengalaman baik maupun buruk, seseorang punya cerita untuk dibagikan kepada sesama sebagai bentuk pelajaran hidup untuk semakin mengenal dunia dan seisinya.

Menjadi pribadi sukses mesti tak pernah kehabisan cerita. Lagi-lagi, harta hanyalah sebuah akibat dari cerita. Terdapat dua tipe orang yang memandang orang sukses. Tipe-tipe tersebut dibagi berdasarkan kalimat yang keluar dari alat ucapnya.

Tipe pertama adalah tipe orang yang berkata menggunakan kalimat deklratif/berita.  “Enak, hidupnya sudah sukses! Lihatlah harta kekayaannya!” Sedangkan tipe kedua adalah tipe orang yang berkata menggunakan kalimat interogatif/tanya, “Bagaimana perjuangannya menuju kesuksesan?”

Pada tipe pertama adalah orang yang suka berkhayal. Dia hanya berpikir dangkal. Pada tipe kedua adalah orang yang mampu berpikir kompleks. Mengetahui bahwa setiap hasil memiliki sebuah perjuangan. Di dunia ini tidak ada yang instan. Ia sadar dan mau menelusuri perjuangan tersebut.

Jika orang sukses bertemu dengan orang tipe kedua, ia pasti tidak akan menolak untuk menceritakan perjuangannya. Dari cerita tersebut, ia akan menginspirasi banyak orang. Dia pandai menyampaikan hikmah dari ceritanya perihal peristiwa yang terjadi dalam hidupnya.
Indikator lain adalah kemampuan berbagi kepada sesama. Lagi-lagi harta adalah salah satu akibat. Semakin seseorang banyak berbagi, semakin sukses dirinya. Dia tidak takut hilang dan  miskin, karena dia sadar kekayaan dan kesuksesan yag sesungguhnya adalah milik Tuhan.

Yang paling penting dari segalanya adalah personal branding. Orang sukses itu orang yang sudah menemukan jalan hidupnya. Seolah dunia ini miliknya. Orang-orang sudah mengenalnya sebagai profesinya. Misal, seorang memilih dirinya sebagai penyanyi. Genre apa yang dia kehendaki? Genre campur sari. Dia mencoba mendalami ilmu tersebut, hingga terciptalah jiwa yang kreatif dan mampu mengeksplor lebih untuk musik campur sari tersebut. orang-orang pun akan menganggapnya sebagai seorang yang sukses.

Sukses adalah anggapan. Orang lain yang menilai bukan berarti benar. Kaca mata kebahagiaan tetap tidak bisa dilihat dari luar, harus ditelisik lebih dalam. Belum tentu orang sukses itu orang bahagia. Bagi saya, sukses sesungguhnya (kesuksesan yang hakiki) adalah sukses dunia akhirta. Bahagia dunia akhirat. Orang seperti ini dapat ditemukan pada orang-orang yang sudah mendahului kita, menikmati alam akhirat. 

Untukku, manusia belum bisa dikatakan sukses sebelum ia melampaui dunia akhirat. Lebih suka menggunakan istilah berhasil daripada sukses untuk menyelamati hasil pencapaiannya. Kata sukses cenderung untuk harapan dan doa saja. 

Ada yang punya indikator lain tentang hakikat kesuksesan itu apa? [Hry, Sda]
Read more