Rabu, 03 Mei 2017

BARU*


Saat ditanya Guru tentang arti kebaruan dalam hidup, aku berkata seenakku.Semauku sendiri, kujawab, “Baru itu tidak lama, bukan bekas, Guru! Hwaaaaahahaaaaaaaaah,” tawaku meledak. Kuimbuhi lagi kata, “Baru itu new, gres, Gur!”

Guru adalah sahabatku. Dia terpaut tiga tahun di atasku sehingga pola pemikirannya begitu tajam. Aku tahu, dia pandai membaca. Dalam sehari dia bisa menghabisi jiwa tiga sampai lima buku tipis sekaligus. Guru benar-benar jadi orang yang haus akan rahasia dunia. Jidatnya yang lebar dan gede makin meyakinkan semua orang untuk mengonsultasikan masalah hidup kepadanya. Guru memang pintar membaca karakter orang. Dia tahu setiap orang harus diapakan. 

Guru memaki dengan fasih, “Gundul Pacoooool!”

“Dasar gembelengan! Nyunggih wakul, numplek kabeh!” sahutku.

Sakjane aku kuwi yoh nduwi jawapan sing podo karo awakmu. Mangkane aku yoh takok.”

Hwaaaahahahahaaaaahahaahahah, tawa pecah. Lalu kami meneriaki kata lain, “Assssuuuh!”

Kopi yang sudah dingin sejak subuh tadi diseruput lagi, imajinasi melayang menuju dua masa. Dalam diam, Guru dan aku bercerita tentang BARU yang dinetralisir bersama buaian kopi.

Saat kecil, aku selalu bermain di taman sekolah. Hanya butuh waktu lima menit untuk jalan kaki menuju taman yang banyak permainannya. Di sana ada seluncuran, ban-banan, dan bandulan. Yang paling kusuka adalah bandulan. Aku rasa hanya taman sekolah yang punya model permainan besar seperti ini. Setiap sore seusai mandi, aku cepat-cepat bergegas main di bandulan.

Suatu kali taman sekolah direnovasi. Tempat bermainku hilang. Aku bermain ke tetangga sebelah. Bermain dokter-dokteran, ncus-ncusan, masak-masakan, dan rumah-rumahan. Tiga hari berlalu taman belum selesai. Hari ketujuh datang, taman masih saja diperbaiki. Aku memutuskan bermain ke tetanggaku yang lain dan hampir sulit kupercaya jika dia memiliki mainan baru. Mainan yang benar-benar kusukai dan kutunggu-tunggu selama ini.

“Aku mau main. Gantian, ya....”

“Enggak mau! Ini kan punyaku!” jawabnya spontan sambil memainkan ayunan.

Aku merajuk pada oang dewasa dan mereka membelaku. Aku diizinkan naik dan diayun beberapa kali. Lalu, gantian dia yang merajuk pada mamanya. Aku pun pulang.

“Buk, aku pengen nduwe bandulan,” rengekku.

Berhari-hari aku mesti menunggu datangnya bandulan. Taman sekolah belum pula kelar. Aku menunggu ibu membelikan benda baru itu. Benda yang terbuat dari ban karet yang dikaitkan bersama tali tampar ke tangan pohon.

Suatu kali, kutahu harapanku menjadi nyata. Yang kuingin-inginkan benar adanya. Aku gembira sekali! Juga ibuku senang sekali ketika tiba-tiba tubuhku kembali sehat.

***

Beranjak dewasa, hasrat untuk mencintai lawan jenis mulai bermunculan. Ini hal baru dalam hidup. Semua sedang asyik berkasih-kasihan. Senormal-normalnya lelaki, aku pun harus merasakannya. Bermain ke sana ke mari, tebar pesona ke orang-orang, menjajani semua gebetan, karaoke bersama, nonton bioskop, dan semuanya sudah kulakukan.

Puas merasakan dengan keuntungan maksimal yang tetap pada batasannya, ternyata kebaruan cinta dalam hati belum juga teratasi. Masih ada ruang kosong yang belum bisa mencapai palung hati yang paling dalam. Kenyataan menjadi membosankan hingga aku harus memutuskan satu hal yang paling mempengaruhi dalam hidup, yakni menikah.

Rasanya ingin segera memakan kehidupan gadis Pak Haji. Menyetorkan namanya agar dicek BPOM RI, selanjutnya menjadi daftar terbaik. Lalu cap “Halal” khusus untukku akan menempel di keningnya.

Bayangan lima tahun ke depan membuatku merinding. Kebaruan dalam hidup yang kudapatkan dari gadis Pak Haji akan digantikan dengan anugerah bayi. Saat ia tumbuh menjadi anak, remaja, dan dewasa, mungkinkah ia akan mampu menyentuh bagian dasar palung hati? Sedangkan ia tak kubawa mati.

Selayaknya nasib anak. Aku selalu menduduki posisi itu. Namun, kelak aku akan membelah menjadi dua bagian, anak dan orang tua. Keberhasilan dan kesuksesanku hanya demi anakku dan ibu bapakku. Orientasi hidup hanya untuk mereka, berharap jika ketiadaanku memberikannya bekal perjalanan hidup di dunia. Biar saja anak yang memanen, orang tua yang menanam.

***

Renungan soal konsep baru tiba-tiba dibuyarkan oleh celentingan penjual es krim keliling.

Guru menebak dengan benar, “Pikiranmu mbalyu nang masa lalu, kan ya?”

“Loh, kok tahu?”

“Ya tahulah. Gampang banget! Begitu bakul es krim iku lewat, matamu nggoleki cah cilik sing arep tuku es iku.”

Sesederhana itu Guru mengawasiku. Bagaimana pun jalan kebenaran menurutnya, aku tidak bisa mengubah arahnya. Yang penting kami rukun. Cukup. Lalu, aku tak mau ambil pusing, kubalas menebaknya, “Halah! Mbok kiro aku gak pinter nebak? Guru malah mblayu-mblayu nang masa depan, toh? Paham aku Cak, sampeyan wes umur!”

“Kemero!”

Guru mulai memantikkan api dari korek gasnya. Diambil batangan kretek, lalu disulut ujungnya. Dihisapnya dalam-dalam sampai menghabiskan seperdelapan batangan kretek. Dihembuskannya lewat hidung dan mulut yang dipolakannya melingkar. Dan Guru mulai menjadi seorang manusia di luar manusia biasa-biasa saja.

“Baru itu saat kau menemukan esensi dari hidup. Saat kau menemukannya barulah kau terlahir kembali. Reinkarnasi.

Podo koyok jarene Sabrang Mowo Damar Panuluh, syariat itu seperti orang yang naik kapal. Tharikat itu seperti orang yang naik kapal lalu mendayungnya sampai ke tengah lautan. Hakikat itu saat kamu njegur, nyelam ke kedalaman laut. Dan maarifat adalah saat kau menyelam ke dalam laut, lalu kau menemukan mutiara yang selanjutnya kau bawa naik ke atas kapal.  Di sanalah kau menemukan makna. Dan tidak ada rindu yang menyesakkan dada, kecuali rindu kepada Yang Maha Segala.

Saat seseorang sudah menemukan makna dalam hidup, sesuatu dalam jiwa menjadi baru. Sepandai-pandai pemain pertunjukan teater, suatu saat ia tahu kapan ia harus jadi aktor dan suatu kali ia mesti jadi yang sejati, yakni Sang Sutradara.”

Aku diam. Mulai memikirkan kata-katanya yang penuh makna. Tanyaku padanya, “Rokok kuwi isok ngencerno utekmu ta, Gur?”

Guru kembali menghisap kreteknya, lalu memanggutkan kepala dan berkata, “Cuma wong bodoh sing percoyo kuwi!”


*S. Haryani C.
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia 2014


Cerpen di muka adalah Cerpen yang dimuat di Bulletin Sastra Idhum milik Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Sesasi, FBS Unesa. Terima kasih.
Cek link ini, ya.... IDHUM SESASI FBS UNESA
Read more

Senin, 06 Februari 2017

NDRAMA DI McD


Astaghfirullah’adzim....
Begitu sampai kos, kubuka pagar dengan keras, lalu kubuka pintu dengan grusakgrusuk sampai membangunkan kawan kosku yang tertidur. Tarik napas,buang napas, istighfar, tarik napas, buang napas, istighfar, terus kuulang-ulang sampai sesaknya dada ini hilang. Rasanya lama sekali kulakukan hal itu dan baru kali pertama ini kurasakan rasa yang seperti ini. Biasanya seorang perempuan (saya) akan menangis luar biasa untuk menghilangkan kesesakan dalam dada, tetapi ini lain. Saya tak bisa menangis sama sekali, namun dada ini penuh dengan segala amarah yang susah diekspresikan. Syukurnya, begitu Ibasky ada untukku rasa yang begini hebatnya dan begitu tak karuan itu bisa terkontribusi sedikit bersama tuts-tuts keyboard yang kutekan keras.

Hari ini kami merencanakan bertemu dengan seorang lelaki yang sakit hatinya karena keliruku memedulikannya, orang yang pernah kubuatkan surat dengan sejujur-jujurnya. Sungguh! Saya tak habis pikir dengan model lelaki macam ini. Dia bungkam seribu bahasa padaku. Namun, impact-nya kepada yang lain. It’s OK kalau tidak mau berbicara padaku lagi. Sepenuhnya saya terima, tapi setidaknya masalah ini kelar, tidak berlarut dan tak berkepanjangan. (Jan, encen duduk arek organisasi. Susah bangaet diajak ngomong, Pribadinya plegmatis pula, punya sifat keras hati. Susah tanpa hidayah.)

Yang paling membuat saya begitu sesak dada adalah ketika melihat teman seperjuangan saya yang tulusnya dapat kurasakan itu menangis sebabnya. SUMPAH! Atiku nggerundel! Aku paleng gak suweneng ndelok pemandangan koyok ngene! JUUWAN! Lanang cap opo iku! KKKKKKK

Teman perempuan itu adalah Wai meng, seorang sahabat, teman, tante, dan yang terbaik mengertiku. Dia juga pintar memahami lelaki itu. Dia punya misi khusus untuk mendamaikan kami. Dia pun tak betah melihat kekeliruan yang ia sadari sepenuhnya mesti diluruskan. Selama lelaki itu tak mau bicara, dialah jembatanku untuk tahu mengenai pandangannya terhadapku. Dia sudah mencoba menjadi pendengar yang baik untuknya, tetapi lelaki itu tak peduli padanya. Saat bertemu dan dilambaikan tangannya ia tak peduli. Saat diajak bicara, dia mendiamkannya. Entahlah kuping itu dipinjamkannya ke siapa. Begitu heroik-nya dia!
Seseorang sudah menanamkan satu hal, bisa dibilang ideologi, yang kami pegang bersama dari orang yang sama, tentang kekeluargaan dan kepedulian. Kami mencoba memedulikan seorang lelaki ini segenap jiwa. Mencoba membuka isi pikirannya atau membuang segala isinya untuk ditanami kebaikan di segala penjuru arah. Kami begitu ingin dia berubah. Namun, cara kami keliru karena mungkin saya dan Wai meng adalah teman sejawat, dan setingkat di bawahnya sudah berani menyadarkannya dengan cara kami, guyonan yang memperolok. Hmmmm......

Saya sungguh tak pernah tahu jalan pikiran lelaki macam itu. Wai meng pun bilang jika dia tidak pernah menemui laki-laki seperti itu sebelumnya. Seolah dia ditampar habis-habisan di muka umum. Diajak bicara sok-sokan perhatiin gelas McD, minum, terus kepala nunduk ke bawah, dan akhirnya kepala didelosorno nang mejo. Klumbrak klumbruk ngunu.
Semua yang mengajaknya bicara diabaikan, sia-sia. Hingga akhirnya saya benar-benar ingin membuatnya bicara dengan menjatuhkannya. Tapi, sepertinya saya bodo. Saya tahu tempat itu tidak memungkinkan untuk menyadarkannya. McD. Dia lari dan kabur, menculik adik kesayangan saya. Dan kami terpaksa menyusulnya. Dan terjadilah kejadian itu.

SUMPAH Pedih banget, perih, sedih, lanang nggapleki. Rasane koyok mari disantap menungso. Wai meng mengambil kontak kunci sepeda motor lelaki. Lalu dengan muka yang penuh rasa benci diambilnya kunci itu. Wai meng menangis, sempat pula bibirku merinding ke bawah lalu merambati jantung untuk mengekspresikan air mata, tapi tak jadi, tak perlulah! Wai meng ingin segera pulang, kudapati sekitar bola matanya berlumuran kristal yang mencair, memerah, lalu menunduk, menjadi sebuah aliran yang menghantam batin sesama perempuan. Tukang parkir McD bingung harus berbuat apa melihat kejadian itu. SUMPAH pikirane paleng ngene, “Iki arek enom ndrama banget yoh!” Pikiranku, “Wik, iyo CAK Ndrama koyok ndok film, sinetron. Tapi iki kenyataan! ”

Anehnya! Begitu dia membuat Wai meng nangis, dia berhenti, memarkirkan sepedanya di dekat jalan raya. Duduk di emperan McD. Lagi-lagi Pak Parkir melayangkan imajinasinya. Wai meng sudah tak sudi lagi melihatnya, dia hanya ingin pulang. Seorang adik kesayangan kami sepertinya dia tahu tugasnya. Dia menemani lelaki itu di emparan McD. Nggilani, gak isin ambek Pak Parkir.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       
----***-----
Malam ini, kos saya terjadi sesuatu. Seorang penghuni baru datang dan membuat ribut seisi kos. Dia unik karena sudah tidak waras, mesti minum obat setiap hari tiga kali sehari, namun orang tuanya meng-kos-kannya. Memang akibat kecelakaan, bukan bawaan lahir. Tetapi, benar-benar menghebohkan kami. Lagi-lagi, Tuhan ingin ngajak bercanda saya, nih! Tidak boleh terlalu memikirkan hal itu. toh, yang hanya bisa mengubah nasib suatu kaum adalah kaum itu sendiri. Nabi Muhammad saja tidak bisa mengubah Paman yang begitu menyayanginya sampai dia meninggal. Nah, apalagi saya manusia. bukan Nabi, Dewa, bahkan Malaikat!

Tapi gakpopo tak fatihah.i ae gawe Mufa Rizal. Alfatihah.... Aamiin....

6--7 Februari 2017 Kamar ke-35, VII 40A
Read more