Kamis, 25 Januari 2018

Ambang Batas Kelulusan


Kusuma pulang setiap akhir semester. Kali ini ia pulang dengan wajah kusut. Kutanya, “Apakah kampusmu penuh masalah?”. Lagi-lagi ia menjawab penuh kelakar, “Jelas, Pak! Masalah kebersihan selalu jadi PR besar di setiap kampus. Heheh.” “Maksud Bapak masalahmu di kampus!” Ia hanya menggeleng dan berucap tidak. Kutelisik dengan saksama kantong celananya, saku kemejanya, pun tas ranselnya. Kutemukan secarik kertas undangan. Di sana tertulis acara “Sarasehan Mahasiswa Ambang Batas Kelulusan”.


Dengan emosi berapi-api, kucabut kabel televisi. Kusuma berjingkat dan ibunya mencoba menenangkanku. Kuberikan kertas itu pada Kusuma, “Beri penjelasan pada Bapak, sekarang!” Kusuma terlihat bingung dan tergagap, “Setahun lagi, kalau Kusuma tidak juga lulus, ...” Suasana hening, terdengar deru napas bapaknya yang tersengal-sengal. “... Kusuma DO.” Aku bergegas masuk ke kamar Kusuma lalu memberikan tasnya dan berpesan, “Jangan pernah kembali jika tak bisa berikan kami undangan wisudamu!” Tanpa berkata apa pun, Kusuma melangkah pergi dengan mencium tanganku dan ibunya. Ia menerima tawaranku.


Keesokannya, seorang tetangga bertanya tentang Kusuma padaku. Aku hanya bilang, Kusuma sudah kembali ke perantauan untuk menuntut ilmu. “Bangga sekali ya, Bapak punya Kusuma! Anak yang baik, jujur, dan menginspirasi sekali! Tak disangka jika traderecord-nya sudah mengagumkan. Yakin, Pak! Pasti setelah kelulusannya nanti akan banyak perusahaan yang mengincarnya! Selamat, ya Pak!” “Apa maksudmu, tetangga?” Tetangga itu memberikanku koran nasional dan memintaku membuka rubrik Muda Menginspirasi. Di sana kudapati foto Kusuma yang gagah dan menyebut nama bapak-ibunya sebagai inspirator utamanya. “Bapak pasti menangis bahagia, ya?” Aku menyesal, batinku. 


📝 @syakiebharyani (gambar:andrew wyeth painting) 
#lpmsakra #lpmfbs #lpmunesa #sastra#pentigraf #cerpentigaparagraf#pentigrafis #mahasiswa


 S. Haryani C.
Surabaya
Januari 2018
Load disqus comments

0 komentar