Jagat hati saya digonjang-ganjingkan oleh seorang teman
lelaki. Ini memang bukan kali pertama saya menemui laki-laki yang menyelorohkan
pikiran nafsunya di hadapan saya. Memang, ini bukanlah pelecehan seksual.
Tetapi, hal ini membuat buruk mood saya.
Hati saya jadi resah.
Mengapa coba, laki-laki selalu punya niatan memadu istrinya
sendiri? Istilah lainnya adalah poligami. Padahal yang dia punya sebenarnya
apa? Harta, ketulusan, keimanan, ketakwaan, atau kebaikan yang seperti apa,
sih? Belum pula kerja, punya rumah, punya santri, atau yang lainnyalah.
Geraaaammm gitu rasanya!!!! Belum juga punya satu istri dan belum membiayai
seorang istri sudah ada niatan mau minang anak orang kembali. Itu bukan
menolong! Sekelebat nafsu! Toh, kalau sudah berumah tangga kelak, suatu saat
dia akan tahu realitas. Menjadi kaya raya itu tidak mudah, memiliki banyak
santri itu hal yang sulit, bahkan mungkin masih terlilit utang sana sini nanti.
Mati-matian perempuan jaga hati bahkan tubuhnya untuk manusia
yang mengimaminya. Mati-matian perempuan membungkus dirinya agar tidak dikerubuti
lalat jorok. Mati-matian perempuan menjaga kehormatan suaminya. Lalu, apa yang
dilakukan oleh lelaki. Dengan mudahnya memuslihatkan niat. Alasan menolong
perempuan lain biar tidak terjebak maksiatlah, biar enggak bunuh dirilah, atau
apa pun itu. Saya tahu itu perbuatan mulia. Tetapi, please, jangan
sampai membicarakan di hadapan saya atau perempuan yang belum menjadi istri
Anda.
Alasan poligami tanpa ada fakta yang sebenarnya di
hadapanmu itu terlihat sekali alasan NAFSU! Bener-bener ASU! Maksudnya itu naluri
hewani. Silakanlah ngobrol itu nanti, di hadapan istrimu sendiri dengan fakta yang
benar adanya seperti itu. Jangan mengkhayal yang bukan-bukan. Khayalan itu daya
tipu SETAN.
Pada hakikatnya tidak ada perempuan yang mau dilakukan hal
ini, dimadu atau dipoligami.
Jika perempuan mengikhlaskan dirinya diperlakukan seperti
itu dalam hatinya tetap teriris oleh tajamnya pisaumu. Begitu pula dengan
perempuan yang memadu istri orang, dia akan hidup dengan resah. Dihantui rasa
bersalah. Dan suatu hari nanti dia akan melakukan dua hal kemungkinan yang
tidak diinginkan. Yakni, mengambil hati suami dari istri pertama sepenuhnya
atau pergi meninggalkan suami bersama istri pertamanya. Itu adalah kemungkinan
paling mentok. Jika saja istri pertama dan kedua rukun dan harmonis, itu sebab
Tuhan yang menjadikannya begitu bersama lapangnya rezekimu
Tetap saja saya, perempuan, mewakili suara hati perempuan
dunia, sangat tidak suka pada laki-laki yang belum memiliki sesuatu, namun
berniat untuk mempoligami calon istrinya kelak. Kalau memang itu terjadi, biar
atas kehendak-Nya, tanpa perlu utarakan kemauan pada manusia lain. Hal itu
hanya akan menyakiti hati perempuan saja, makhluk terrapuh dengan kemasan
makhluk terkuat.
Jika seorang
berkata, “Poligami adalah jalan menuju surga”
Perempuan bisa menjawab, “Banyak jalan menuju Roma. Begitu
pula dengan surga. Banyak jalan menuju surga!”
Saya sangat sangat tidak suka berbicara topik poligami
dengan laki-laki yang belum memiliki apa-apa, apalagi laki-laki yang seumuran
atau sedikit lebih tua daripada saya. Jika laki-laki berumur dan sudah memiliki
istri, maka saya akan tetap geram dengan menyembulkan amarah yang tak
bersungut-sungut.
Jangan pernah membicarakan topik poligami di hadapan
perempuan yang harapanmu akan jadi istrimu kelak. Sudah pasti nama dan raut
mukamu akan dicoret dari daftar suami idamannya. Sudah illfill. Pasti
akan dihilangkan dengan cepat, perlahan, atau paksa jika nama kamu sempat
memenuhi jagad hatinya.
Ini bukan masalah keegoisan. Ini hanya masalah hati yang
selalu diutamakan oleh perempuan. Seorang perempuan tak mau menyakiti perempuan
lain. perempuan pun tak mau disakiti lelaki. Entahlah pada kasus perempuan
lain. Saya rasa tulisan ini mewakili perempuan Indonesia.
Rasakan! Rerata laki-laki di Indonesia hanya memiliki satu
istri. Syukur hidup di negara Indonesia, negara berkembang. Jika Indonesia jadi
negara maju, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada kaum perempuan, pun
kaum laki-laki.

0 komentar