Senin, 05 Desember 2016

TENTANG PEREMPUAN


Jagat hati saya digonjang-ganjingkan oleh seorang teman lelaki. Ini memang bukan kali pertama saya menemui laki-laki yang menyelorohkan pikiran nafsunya di hadapan saya. Memang, ini bukanlah pelecehan seksual. Tetapi, hal ini membuat buruk mood saya.  Hati saya jadi resah.

Mengapa coba, laki-laki selalu punya niatan memadu istrinya sendiri? Istilah lainnya adalah poligami. Padahal yang dia punya sebenarnya apa? Harta, ketulusan, keimanan, ketakwaan, atau kebaikan yang seperti apa, sih? Belum pula kerja, punya rumah, punya santri, atau yang lainnyalah. Geraaaammm gitu rasanya!!!! Belum juga punya satu istri dan belum membiayai seorang istri sudah ada niatan mau minang anak orang kembali. Itu bukan menolong! Sekelebat nafsu! Toh, kalau sudah berumah tangga kelak, suatu saat dia akan tahu realitas. Menjadi kaya raya itu tidak mudah, memiliki banyak santri itu hal yang sulit, bahkan mungkin masih terlilit utang sana sini nanti.

Mati-matian perempuan jaga hati bahkan tubuhnya untuk manusia yang mengimaminya. Mati-matian perempuan membungkus dirinya agar tidak dikerubuti lalat jorok. Mati-matian perempuan menjaga kehormatan suaminya. Lalu, apa yang dilakukan oleh lelaki. Dengan mudahnya memuslihatkan niat. Alasan menolong perempuan lain biar tidak terjebak maksiatlah, biar enggak bunuh dirilah, atau apa pun itu. Saya tahu itu perbuatan mulia. Tetapi, please, jangan sampai membicarakan di hadapan saya atau perempuan yang belum menjadi istri Anda.

Alasan poligami tanpa ada fakta yang sebenarnya di hadapanmu itu terlihat sekali alasan NAFSU! Bener-bener ASU! Maksudnya itu naluri hewani. Silakanlah ngobrol itu nanti, di hadapan istrimu sendiri dengan fakta yang benar adanya seperti itu. Jangan mengkhayal yang bukan-bukan. Khayalan itu daya tipu SETAN.

Pada hakikatnya tidak ada perempuan yang mau dilakukan hal ini, dimadu atau dipoligami.
Jika perempuan mengikhlaskan dirinya diperlakukan seperti itu dalam hatinya tetap teriris oleh tajamnya pisaumu. Begitu pula dengan perempuan yang memadu istri orang, dia akan hidup dengan resah. Dihantui rasa bersalah. Dan suatu hari nanti dia akan melakukan dua hal kemungkinan yang tidak diinginkan. Yakni, mengambil hati suami dari istri pertama sepenuhnya atau pergi meninggalkan suami bersama istri pertamanya. Itu adalah kemungkinan paling mentok. Jika saja istri pertama dan kedua rukun dan harmonis, itu sebab Tuhan yang menjadikannya begitu bersama lapangnya rezekimu

Tetap saja saya, perempuan, mewakili suara hati perempuan dunia, sangat tidak suka pada laki-laki yang belum memiliki sesuatu, namun berniat untuk mempoligami calon istrinya kelak. Kalau memang itu terjadi, biar atas kehendak-Nya, tanpa perlu utarakan kemauan pada manusia lain. Hal itu hanya akan menyakiti hati perempuan saja, makhluk terrapuh dengan kemasan makhluk terkuat.

 Jika seorang berkata, “Poligami adalah jalan menuju surga”

Perempuan bisa menjawab, “Banyak jalan menuju Roma. Begitu pula dengan surga. Banyak jalan menuju surga!”

Saya sangat sangat tidak suka berbicara topik poligami dengan laki-laki yang belum memiliki apa-apa, apalagi laki-laki yang seumuran atau sedikit lebih tua daripada saya. Jika laki-laki berumur dan sudah memiliki istri, maka saya akan tetap geram dengan menyembulkan amarah yang tak bersungut-sungut.

Jangan pernah membicarakan topik poligami di hadapan perempuan yang harapanmu akan jadi istrimu kelak. Sudah pasti nama dan raut mukamu akan dicoret dari daftar suami idamannya. Sudah illfill. Pasti akan dihilangkan dengan cepat, perlahan, atau paksa jika nama kamu sempat memenuhi jagad hatinya.
Ini bukan masalah keegoisan. Ini hanya masalah hati yang selalu diutamakan oleh perempuan. Seorang perempuan tak mau menyakiti perempuan lain. perempuan pun tak mau disakiti lelaki. Entahlah pada kasus perempuan lain. Saya rasa tulisan ini mewakili perempuan Indonesia.

Rasakan! Rerata laki-laki di Indonesia hanya memiliki satu istri. Syukur hidup di negara Indonesia, negara berkembang. Jika Indonesia jadi negara maju, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada kaum perempuan, pun kaum laki-laki.

Load disqus comments

0 komentar