Saat ditanya Guru tentang arti kebaruan
dalam hidup, aku berkata seenakku.Semauku sendiri, kujawab, “Baru itu tidak
lama, bukan bekas, Guru! Hwaaaaahahaaaaaaaaah,” tawaku meledak. Kuimbuhi lagi
kata, “Baru itu new, gres, Gur!”
Guru adalah sahabatku. Dia terpaut tiga
tahun di atasku sehingga pola pemikirannya begitu tajam. Aku tahu, dia pandai
membaca. Dalam sehari dia bisa menghabisi jiwa tiga sampai lima buku tipis
sekaligus. Guru benar-benar jadi orang yang haus akan rahasia dunia. Jidatnya
yang lebar dan gede makin meyakinkan semua orang untuk mengonsultasikan masalah
hidup kepadanya. Guru memang pintar membaca karakter orang. Dia tahu setiap
orang harus diapakan.
Guru memaki dengan fasih, “Gundul
Pacoooool!”
“Dasar gembelengan! Nyunggih wakul,
numplek kabeh!” sahutku.
“Sakjane aku kuwi yoh nduwi jawapan
sing podo karo awakmu. Mangkane aku yoh takok.”
Hwaaaahahahahaaaaahahaahahah, tawa pecah.
Lalu kami meneriaki kata lain, “Assssuuuh!”
Kopi yang sudah dingin sejak subuh tadi
diseruput lagi, imajinasi melayang menuju dua masa. Dalam diam, Guru dan aku
bercerita tentang BARU yang dinetralisir bersama buaian kopi.
Saat kecil, aku selalu bermain di taman
sekolah. Hanya butuh waktu lima menit untuk jalan kaki menuju taman yang banyak
permainannya. Di sana ada seluncuran, ban-banan, dan bandulan. Yang paling
kusuka adalah bandulan. Aku rasa hanya taman sekolah yang punya model permainan
besar seperti ini. Setiap sore seusai mandi, aku cepat-cepat bergegas main di
bandulan.
Suatu kali taman sekolah direnovasi. Tempat
bermainku hilang. Aku bermain ke tetangga sebelah. Bermain dokter-dokteran,
ncus-ncusan, masak-masakan, dan rumah-rumahan. Tiga hari berlalu taman belum
selesai. Hari ketujuh datang, taman masih saja diperbaiki. Aku memutuskan
bermain ke tetanggaku yang lain dan hampir sulit kupercaya jika dia memiliki
mainan baru. Mainan yang benar-benar kusukai dan kutunggu-tunggu selama ini.
“Aku mau main. Gantian, ya....”
“Enggak mau! Ini kan punyaku!” jawabnya
spontan sambil memainkan ayunan.
Aku merajuk pada oang dewasa dan mereka
membelaku. Aku diizinkan naik dan diayun beberapa kali. Lalu, gantian dia yang
merajuk pada mamanya. Aku pun pulang.
“Buk, aku pengen nduwe bandulan,” rengekku.
Berhari-hari aku mesti menunggu datangnya
bandulan. Taman sekolah belum pula kelar. Aku menunggu ibu membelikan benda
baru itu. Benda yang terbuat dari ban karet yang dikaitkan bersama tali tampar ke
tangan pohon.
Suatu kali, kutahu harapanku menjadi
nyata. Yang kuingin-inginkan benar adanya. Aku gembira sekali! Juga ibuku
senang sekali ketika tiba-tiba tubuhku kembali sehat.
***
Beranjak dewasa, hasrat untuk mencintai
lawan jenis mulai bermunculan. Ini hal baru dalam hidup. Semua sedang asyik
berkasih-kasihan. Senormal-normalnya lelaki, aku pun harus merasakannya. Bermain
ke sana ke mari, tebar pesona ke orang-orang, menjajani semua gebetan, karaoke
bersama, nonton bioskop, dan semuanya sudah kulakukan.
Puas merasakan dengan keuntungan maksimal
yang tetap pada batasannya, ternyata kebaruan cinta dalam hati belum juga
teratasi. Masih ada ruang kosong yang belum bisa mencapai palung hati yang
paling dalam. Kenyataan menjadi membosankan hingga aku harus memutuskan satu
hal yang paling mempengaruhi dalam hidup, yakni menikah.
Rasanya ingin segera memakan kehidupan
gadis Pak Haji. Menyetorkan namanya agar dicek BPOM RI, selanjutnya menjadi
daftar terbaik. Lalu cap “Halal” khusus untukku akan menempel di keningnya.
Bayangan lima tahun ke depan membuatku
merinding. Kebaruan dalam hidup yang kudapatkan dari gadis Pak Haji akan
digantikan dengan anugerah bayi. Saat ia tumbuh menjadi anak, remaja, dan
dewasa, mungkinkah ia akan mampu menyentuh bagian dasar palung hati? Sedangkan
ia tak kubawa mati.
Selayaknya nasib anak. Aku selalu
menduduki posisi itu. Namun, kelak aku akan membelah menjadi dua bagian, anak
dan orang tua. Keberhasilan dan kesuksesanku hanya demi anakku dan ibu bapakku.
Orientasi hidup hanya untuk mereka, berharap jika ketiadaanku memberikannya
bekal perjalanan hidup di dunia. Biar saja anak yang memanen, orang tua yang menanam.
***
Renungan soal konsep baru tiba-tiba
dibuyarkan oleh celentingan penjual es krim keliling.
Guru menebak dengan benar, “Pikiranmu mbalyu
nang masa lalu, kan ya?”
“Loh, kok tahu?”
“Ya tahulah. Gampang banget! Begitu bakul
es krim iku lewat, matamu nggoleki cah cilik sing arep tuku es iku.”
Sesederhana itu Guru mengawasiku.
Bagaimana pun jalan kebenaran menurutnya, aku tidak bisa mengubah arahnya. Yang
penting kami rukun. Cukup. Lalu, aku tak mau ambil pusing, kubalas menebaknya,
“Halah! Mbok kiro aku gak pinter nebak? Guru malah mblayu-mblayu nang
masa depan, toh? Paham aku Cak, sampeyan wes umur!”
“Kemero!”
Guru mulai memantikkan api dari korek
gasnya. Diambil batangan kretek, lalu disulut ujungnya. Dihisapnya dalam-dalam sampai
menghabiskan seperdelapan batangan kretek. Dihembuskannya lewat hidung dan
mulut yang dipolakannya melingkar. Dan Guru mulai menjadi seorang manusia di
luar manusia biasa-biasa saja.
“Baru itu saat kau menemukan esensi dari
hidup. Saat kau menemukannya barulah kau terlahir kembali. Reinkarnasi.
Podo koyok jarene Sabrang Mowo Damar Panuluh, syariat itu seperti orang yang naik
kapal. Tharikat itu seperti orang yang naik kapal lalu mendayungnya sampai ke
tengah lautan. Hakikat itu saat kamu njegur, nyelam ke kedalaman laut.
Dan maarifat adalah saat kau menyelam ke dalam laut, lalu kau menemukan mutiara
yang selanjutnya kau bawa naik ke atas kapal.
Di sanalah kau menemukan makna. Dan tidak ada rindu yang menyesakkan
dada, kecuali rindu kepada Yang Maha Segala.
Saat seseorang sudah menemukan makna
dalam hidup, sesuatu dalam jiwa menjadi baru. Sepandai-pandai pemain
pertunjukan teater, suatu saat ia tahu kapan ia harus jadi aktor dan suatu kali
ia mesti jadi yang sejati, yakni Sang Sutradara.”
Aku diam. Mulai memikirkan kata-katanya
yang penuh makna. Tanyaku padanya, “Rokok kuwi isok ngencerno utekmu ta,
Gur?”
Guru kembali menghisap kreteknya, lalu
memanggutkan kepala dan berkata, “Cuma wong bodoh sing percoyo kuwi!”
*S. Haryani C.
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia 2014
Cerpen di muka adalah Cerpen yang dimuat di Bulletin Sastra Idhum milik Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Sesasi, FBS Unesa. Terima kasih.
Cek link ini, ya.... IDHUM SESASI FBS UNESA
Cek link ini, ya.... IDHUM SESASI FBS UNESA


0 komentar