“Sudah ujian, Mbak?” tanya Pak Budhi,
pegawai perpustakaan kampus yang sering kuapeli siang bolong. “Ujian apa, Pak?”
balasku singkat meski kutahu arah pembicaraannya ujian skripsi. Takseutuhnya kutanggapi
Pak Budhi. Mata dan tanganku terus mengubek isi tas untuk mendapatkan buku, smartphone,
botol minuman, dan laptop se-charge-nya. Sepertinya beliau memang ingin menghardikku.
Pak Budhi mulai menyebut dua perempuan yang sudah menyetor jilidan hardcover
kepadanya kemarin. Aku takmerasa terhina sama sekali. Kuingatkan beliau dengan
menyebut perempuan yang kebetulan temanku. “Iya, Pak. Namanya Destri dan
Febrika.” “Terus sampeyan kapan, Mbak? Gak nututi ta,
Mbak?” Semua barang yang kucari kini sudah di depanku, kucoba membalasnya
dengan penuh, “Baru kemarin Pak, saya ujian proposal. Saya mau mengambil semua
jatah saya, Pak.” Akhirnya beliau mengangguk setuju dan kembali bersikap
bijaksana, “Iya ya, Mbak. Semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sampeyan
kan masih ngurusi organisasi. Makanya nggak maju, ya, nggak mundur. Sesuai
jatah, heheheh.”
Aku tahu jika jatah setiap mahasiswa di
tahun-tahun terakhir hanya sepuluh semester atau lima tahun. Tetapi, bukan
jatah itu yang kumaksud. Aku ada di sini berkat pembiayaan dari rakyat sehingga
jatah yang kumaksudkan adalah delapan semester atau empat tahun. Pun aku takmau
mengecewakan pajak-pajak yang dibayarkan ortu juga rakyat untukku. Sejujurnya
aku hasad pada mereka, kakak tingkat pun adik tingkat, yang berani mengambil
jatahnya semua. Tapi, pikiran itu segera ditepis oleh dosen yang mendukung
program akselerasi, lulus prematur, tujuh semester. Di sebuah kelas beliau
berbagi, “Sebenarnya, saya heran dengan kakak tingkat kalian. Dia yang punya
jatah empat belas semester, belum selesai-selesai juga skripsinya. Padahal
semua sudah saya mudahkan. Orang tuanya datang kepada saya, minta segera
diluluskan. Lah, kalau anaknya tidak mau berusaha, mana bisa?
Alhamdulillah tahun ini ada tujuh belas kakak tingkatmu yang lulus tiga
setengah tahun. Mereka itulah yang menunjang kebaikan untuk kakak tingkat sing
njupuk jatah kuliahe jangkep-kep.” Ah, iya. Benar juga! Ini masalah
akreditasi kampus. Lagi-lagi dosen itu menjelaskan dengan gagah bahwa jurusannyalah
yang menyumbang banyak kebaikan untuk kampus. Aku pikir, aku tidak mau terlalu berjasa
pada kampus, pun takingin memburuk-burukkannya. Maju atau mundur, bukan itu
yang jadi soal.
![]() |
| Sumber Gambar Mbah Google |
12 Januari 2018
S. Haryani C.
Pentigraf dimuat di Buletin Maiyah Jawa Timur (BMJ)
Edisi Februari 2018 / Jumadil Ula 1439 H


0 komentar