Kamis, 15 Februari 2018

JATAH

“Sudah ujian, Mbak?” tanya Pak Budhi, pegawai perpustakaan kampus yang sering kuapeli siang bolong. “Ujian apa, Pak?” balasku singkat meski kutahu arah pembicaraannya ujian skripsi. Takseutuhnya kutanggapi Pak Budhi. Mata dan tanganku terus mengubek isi tas untuk mendapatkan buku, smartphone, botol minuman, dan laptop se-charge-nya. Sepertinya beliau memang ingin menghardikku. Pak Budhi mulai menyebut dua perempuan yang sudah menyetor jilidan hardcover kepadanya kemarin. Aku takmerasa terhina sama sekali. Kuingatkan beliau dengan menyebut perempuan yang kebetulan temanku. “Iya, Pak. Namanya Destri dan Febrika.” “Terus sampeyan kapan, Mbak? Gak nututi ta, Mbak?” Semua barang yang kucari kini sudah di depanku, kucoba membalasnya dengan penuh, “Baru kemarin Pak, saya ujian proposal. Saya mau mengambil semua jatah saya, Pak.” Akhirnya beliau mengangguk setuju dan kembali bersikap bijaksana, “Iya ya, Mbak. Semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sampeyan kan masih ngurusi organisasi. Makanya nggak maju, ya, nggak mundur. Sesuai jatah, heheheh.”

Aku tahu jika jatah setiap mahasiswa di tahun-tahun terakhir hanya sepuluh semester atau lima tahun. Tetapi, bukan jatah itu yang kumaksud. Aku ada di sini berkat pembiayaan dari rakyat sehingga jatah yang kumaksudkan adalah delapan semester atau empat tahun. Pun aku takmau mengecewakan pajak-pajak yang dibayarkan ortu juga rakyat untukku. Sejujurnya aku hasad pada mereka, kakak tingkat pun adik tingkat, yang berani mengambil jatahnya semua. Tapi, pikiran itu segera ditepis oleh dosen yang mendukung program akselerasi, lulus prematur, tujuh semester. Di sebuah kelas beliau berbagi, “Sebenarnya, saya heran dengan kakak tingkat kalian. Dia yang punya jatah empat belas semester, belum selesai-selesai juga skripsinya. Padahal semua sudah saya mudahkan. Orang tuanya datang kepada saya, minta segera diluluskan. Lah, kalau anaknya tidak mau berusaha, mana bisa? Alhamdulillah tahun ini ada tujuh belas kakak tingkatmu yang lulus tiga setengah tahun. Mereka itulah yang menunjang kebaikan untuk kakak tingkat sing njupuk jatah kuliahe jangkep-kep.” Ah, iya. Benar juga! Ini masalah akreditasi kampus. Lagi-lagi dosen itu menjelaskan dengan gagah bahwa jurusannyalah yang menyumbang banyak kebaikan untuk kampus. Aku pikir, aku tidak mau terlalu berjasa pada kampus, pun takingin memburuk-burukkannya. Maju atau mundur, bukan itu yang jadi soal.
Sumber Gambar Mbah Google

         Ya, akhirnya aku lulus PAS, sesuai jatah yang kumaksud. Banyak hadiah dan bunga di genggaman. Juga deretan foto yang minta di-posting. Anak-anak (seorganisasi) merayakanku bersama cetakan backdrop yang dipenuhi wajahku. Kutanya pada mereka, “Sejak kapan kalian mencetak backdrop ini, Dik? Akhir-akhir ini kalian fulltime bersamaku.” Salah satu dari mereka menjawab, “Sudah setahun lalu, Mbak.” Yang lain memberikan nota backdrop dari dompet. Dan benar, kertas dan tintahnya sudah mulai membaur, lusuh, baunya taksegar. “Lalu, bagaimana bisa waktunya PAS? Per tanggal, bulan, dan tahunnya. Padahal jadwalnya sedikit meleset dari kalender akademik kita, loh!” Mereka godhek-godhek, menggoyangkan kepala, dan memainkan kedua bahunya naik turun. Entah, hasrat darimana, tiba-tiba kuberkelakar, “Next, backdrop resepsiku, ya!” Buru-buru mereka menjawab, “Sudah selesai, Mbak! Ini notanya, masih baru.” Tanganku merangsek merebut nota itu dan bertanya, “Siapa partner-ku?” “Sudah, Mbak! Beres! Sudah sesuai jatah kok. Biar jatahmu terus bersama kami, Mbak.” Jangkreek! Aku tahu mereka menginginkan siapa.

12 Januari 2018



S. Haryani C.
Pentigraf dimuat di Buletin Maiyah Jawa Timur (BMJ) 
Edisi Februari 2018 / Jumadil Ula 1439 H
Load disqus comments

0 komentar